Potret Mahasiswa Malut; Miftah Wujudkan Nasionalisme Lewat Ekspor Pertanian

Miftah Zulkarnain Abbas, mahasiswa Fakultas Hukum Unkhair yang terjun ke bisnis komoditas pertanian. (foto: istimewa)

Ternate, malutpost.id – Pada momentum Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober kemarin, Miftah Zulkarnain Abbas tidak turun berunjuk rasa seperti kebanyakan teman-temannya. Mahasiswa semester akhir Fakultas Hukum Universitas Khairun itu bahkan sibuk menemui petani di Galela, Halmahera Utara.

Izul, sapaan akrab pemuda kelahiran Ternate, 29 April 1999 ini beberapa bulan terakhir sibuk mengurus bisnisnya. Bisnis yang ditekuninya itu  terkesan tidak biasa bagi kaum muda. ”Saya lagi fokus bisnis hasil bumi. Jual beli komoditas pertanian, langsung dari petani,” tuturnya ketika dihubungi malutpost.id, Kamis (28/10/2021) malam tadi.

Melalui perusahaannya CV Miftah Global Nusantara, Izul kini terjun langsung membeli buah kelapa,  kopra, pala, dan fuli dari petani.”Awalnya, saya membeli kelapa buah dan kelapa kupas dari petani. Setelah di kebun, saya temukan banyak gonofu (sabut kelapa) yang hanya jadi limbah. Akhirnya, saya berupaya menawarkan ke buyers (pembeli) dan ternyata dapat respon karena komoditas ini masuk daftar ekspor,” tukasnya.

Miftah terjun langsung ke kebun menemui petani kelapa di Galela. (foto: istimewa)

Tentu saja, bagi Izul, limbah yang biasanya dibakar itu harus dipotensikan untuk memberi nilai tambah bagi petani. ”Karena itu, sabut kelapa juga kami kirim ke Surabaya untuk diproses sebagai coco fiber lalu diekspor ke Cina dan Eropa,” jelasnya.

Dia memang sempat terkejut mendengar informasi dari pihak buyers di Surabaya. Gonofu yang di kampung hanya jadi limbah justru bernilai ekonomi karena digunakan sebagai bahan kasur dan jok mobil di Cina dan Eropa. ”Tentu ini sebuah peluang. Ke depan, saya berkeinginan untuk mengolah sabut kelapa ini ke coco fiber dengan mesin sendiri dan bisa langsung ekspor ke luar negeri,” ujar Izul.

Baru dalam beberapa bulan terakhir, Izul mengirim gonofu ke Surabaya melalui konteiner langsung dari Pelabuhan Tobelo. ”Ke depan saya berkeinginan untuk bisa mengembangkan potensi ini di daerah kabupaten lainnya agar petani bisa memperoileh nilai tambah,” katanya.

Sabut kelapa yang siap dikirim melalui konteiner. (foto: istimewa)

Izul memutuskan terjun ke dunia bisnis saat kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang. ”Di sana, ada beberapa teman juga bisnis jual beli kelapa. Mereka bilang kelapa ini diambil dari daerah di Kawasan Timur Indonesia. Saya akhirnya memutuskan kembali ke Ternate, pindah kuliah di Unkhair sambil kelola bisnis,” tambahnya.

Sebelum terjun ke bisnis, Izul mempelajari bisnis komoditas ekspor melalui YouTube. ”Saya belajar dari Julio Export dan bergabung dengan komunitas Bisa Ekspor. Di situ saya belajar soal bagaimana menjadi supplier, mencari buyers, potensi komoditas ekspor dan sebagainya. Ketika saya tahu bahwa potensi hasil bumi Maluku Utara itu besar, menjadi dorongan kuat untuk saya kembali ke sini, kuliah sambil berbisnis,” tandasnya.

Izul juga membuat group ”Bisa Ekspor” di aplikasi WhatsApp dan mengajak anak muda Malut sebagai forum motivasi. ”Saya ingin berbagi pengalaman kepada teman-teman bahwa sebagai garda terdepan bangsa, generasi muda tidak harus jadi pegawai negeri. Justru mengembangkan bisnis merupakan bagian dari upaya membangun bangsa,” tandasnya.

Semangat untuk ekspor komoditas pertanian bagi Izul juga adalah implementasi nilai-nilai nasionalisme. ”Saya kira kita akan bangga jika Indonesia tumbuh sebagai eksportir komoditas pertanian yang hasilnya langsung dirasakan masyarakat. Semakin banyak produk Indonesia akan semakin besar pengaruh kita dalam pasar dunia,” tuturnya.

Dia menuturkan, ketika mengajak beberapa kaum muda, sebagian masih ag karena factor modal. “Padahal, modal itu bisa nomor dua. Kita harus tahu strategi bisnisnya, harus bangun komunikasi dengan buyers untuk membangun kepercayaan. Buktinya, saya pernah kendala finansail. Karena sudah dipercaya buyers, pembayaran dilakukan sebelum pengiriman produk,” tambahnya.

Semangat nasionalisme Izul melalui bisnis juga tergambar pada nama perusahaannya; Miftah Global Nusantara. Pesan kuat dari nama  usahanya ini tidak lain untuk mengglobalkan komoditas Indonesia di pasar dunia.(aba)

 

 

Laporan: Ismit Alkatiri

Kolom Komentar
CATEGORIES
TAGS
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks