Komoditas Rempah Kalah Pamor di ”Kandang” Sendiri

“Mengintip” Pasar Rempah di Kotabaru Ternate Jelang Launching City Branding, 11 Desember 2021

Namanya Pasar Rakyat Rempah-rempah Kota Ternate. Tapi dari luar tak tampak representase rempah. (foto: umam/malutpost.id)

Nama resminya Pasar Rakyat Rempah-rempah Kota Ternate. Tapi warga Ternate lebih dominan menyebut Pasar Kotabaru. Memang, lokasinya di Kelurahan Kotabaru, Ternate Tengah. Seperti apa dinamika komoditas rempah yang dijual di sana?

IHDAL UMAM, Ternate

MINGGU siang tadi, Sania, seorang pemilik lapak di Pasar Rakyat Rempah-rempah Kota Ternate tampak bertahan menunggu pembeli. Suasana pasar sepi. Tidak seperti hari Rabu dan Sabtu. Kedua hari tersebut, pasar ini tampak ramai karena banyaknya pedagang tibo-tibo dari luar kota yang berjualan. Termasuk puluhan pedagang asal Tidore yang menyuplai aneka kebutuhan ke pasar tersebut.

Hari Minggu apalagi. Biasanya yang ramai pada weekend di kawasan ini adalah munculnya pedagang musiman yang tumpah ke jalan. Tapi sejak beberapa waktu lalu, seluruh pedagang yang menempati jalan sudah dipindahkan ke dalam pasar. Maka, pada Minggu kini tampak lebih sepi dari hari biasa.

Brand rempah hanya tampak di papan nama depan pasar yang nyaris tertutup terpal-terpal lapak pedagang. (foto: umam/malutpost.id)

Saking sepinya pengunjung, Sania nyaris tertidur di lapak. Tapi ketika seorang pria mendekati lapaknya, wanita asal Pulau Makian itu sontak melotot. “Mari nyong, mau beli apa?” sambut dia saat lelaki muda itu mendekati lapak jualannya, Minggu (28/11/2021) siang tadi.

Sania berjualan rempah eceran seperti cengkih, pala, dan kayu manis. Rempah-rempah yang punya nilai sejarah Bumi Moloku Kie Raha itu dikemas dalam bungkusan plastik kecil. Rata-rata seharga Rp5 ribu per bungkusnya.

Selain rempah kering, dia juga menjual aneka bumbu dapur dan sayur mayur.  Ada daun salam, bawang putih, cabe, tomat dan lain-lain. Berbagai produk itu tak hanya dimonopoli Sania. Beberapa lapak lainnya juga menjual bahan yang sama. Para pemilik lapak ini mengukuhkan eksistensi pasar tersebut sebagai Pasar Rempah yang memang dibangun untuk memperkuat narasi branding Ternate sebagai Kota Rempah.

Sania, pemilik lapak rempah dan bumbu dapur tetap berjualan meski di saat sepi pembeli. (foto: umam/malutpost.id)

Namun, dari amatan malutpost.id, dominan lapak di Pasar Rakyat Rempah-rempah Kota Ternate justru produk fashion, perabot rumah tangga dan barang jadi lainnya. Lapak yang jualan rempah tak lebih dari 12 unit. Mereka berjualan dalam pasar. Di bagian depan pasar, brand rempah sama sekali tak terlihat. Tidak merepresentasekan nama pasarnya sendiri. Bahkan, bias dikata, komoditas rempah kalah pamor di “kandang” sendiri oleh  produk-produk impor.

Meski berjualan di dalam pasar, Sania dan  penjual rempah serta bumbu dapur lainnya itu tetap bertahan dengan komoditas yang mereka jual. Mereka sama sekali tidak tahu jika branding kota ini adalah rempah. Mereka juga tak menuntut harus pindah ke depan agar merepresentasekan nama Pasar Rempah. Yang mereka harap, dari aroma rempah yang dijual secara eceran itu bisa memperoleh rezeki untuk keluarga.(mg11/aba)

 

 

Editor: Ismit Alkatiri

 

Kolom Komentar
CATEGORIES
TAGS
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks