Hati-Hati, Disinfektan Bisa Berbahaya!

DR. ALWIA ASSAGAF

TERNATE – Penyemprotan disinfektan dinilai menjadi langkah yang efektif untuk memerangi Covid-19. Karena itu saat ini masyarakat ramai meracik cairan disinfektan sendiri dengan bahan-bahan yang diyakini mengandung racun untuk membunuh virus. Sayangnya, peracikan tersebut sebagian tanpa memperhatikan petunjuk yang sebenarnya atau rekomendasi dari pihak berwenang.

Mirisnya lagi, cairan tersebut langsung disemprot ke tubuh manusia. Baik secara langsung maupun lewat bilik disinfeksi.

Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara Dr. Marwan Polisiri, S.Km.,M.Ph mengingatkan, disinfektan yang dibuat tanpa melalui petunjuk bisa berbahaya bagi tubuh. "Seperti cairan yang menggunakan Bayclin, ini bisa berbahaya jika langsung terhirup karena bisa mempengaruhi paru-paru," katanya, Senin (30/3).

Apalagi pada bilik yang disemprotkan ke seluruh tubuh, dalam waktu lama  bisa membuat iritasi mata dan mempengaruhi sistem pernapasan. Begitu juga dengan penyemprotan yang dilakukan di jalan-jalan yang berisiko bagi pengguna jalan. Menurut dia, cairan disinfektan yang aman menggunakan alkohol yang kadarnya di bawah 70 persen. "Pembuatan disinfektan itu butuh pengujian yang lebih teliti oleh para ahli lalu diuji laboratorium, sementara disinfektan yang dibuat sendiri tidak teruji," jelasnya seraya menyarankan agar dalam membuat disinfektan maupun penyemprotannya harus mengikuti protokol pemerintah dan harus diuji BPOM.

Bahaya disinfektan juga diakui Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Maluku Utara dr. Alwia, M.Kes. Alwia mengungkapkan, disinfektan penting digunakan untuk membunuh virus, namun tidak dianjurkan untuk digunakan ke tubuh. "WHO tidak menganjurkan disemprot ke tubuh karena tidak dapat membunuh virus yang sudah masuk ke dalam tubuh, tapi bisa menyebabkan penyakit lain karena sering terpapar," katanya saat dihubungi Malut Post.

Cairan disinfektan juga berbahaya karena mengandung bahan kimia penyebab kanker (karsinogen). Penyemprotan zat-zat tersebut juga merusak pakaian atau selaput lendir (mata dan mulut).

Disinfektan, sambungnya, baiknya digunakan untuk membersihkan benda yang banyak disentuh tangan. Sebab jika ada orang yang sudah terkena virus yang menyentuh media tersebut, atau ada yang batuk atau bersin maka virus akan menempel dan setelah disemprot akan mati virusnya. "Disinfektan itu harus digunakan berulang kali pada tempat yang banyak dipegang, seperti pegangan kursi dan meja karena setelah cairannya bekerja ada virus yang nempel maka virusnya hidup lagi," tambahnya.
Namun, jika disemprot di dalam rumah secara keseluruhan, maka 2-3 jam kemudian baru rumah tersebut bisa dimasuki. Pasalnya, disinfektan tak bisa dihirup langsung.

Terkait penyemprotan yang dilakukan di jalanan, Alwia menyarankan sebaiknya diarahkan langsung ke sasarannya, karena virus tidak menempel di udara. "Disinfektan diperlukan di ruang-ruang publik seperti masjid, gereja, ruang tunggu pelabuhan atau bandara, puskesmas, RS, pangkalan ojek, pasar, taman dan lain-lain karena di tempat-tempat inilah ada sentuhan tangan manusia. Virus dapat berpindah jika ada yang menyentuh tempat-tempat tersebut dan kemudian masuk ke tubuh manusia jika mengusap mata, hidung dan mulut. Jadi tempat-tempat itu yang perlu disterilkan,” jelasnya.

Lebih jauh untuk mencegah virus masuk ke dalam rumah, dokter umum ini menganjurkan untuk mengikuti protokol masuk yang telah dianjurkan mulai dari tidak menyentuh apapun atau berkontak fisik dengan orang di dalam rumah sebelum mencuci tangan dan mengganti baju, agar keluarga tetap aman. Selain disinfektan, WHO juga tidak menyarankan penggunaan alkohol dan klorin ke seluruh permukaan tubuh karena akan membahayakan pakaian dan membran mukosa tubuh seperti mata dan mulut. "Bahkan inhalasi gas klorin (Cl2) dan klorin dioksida (ClO2) dapat mengakibatkan iritasi parah pada saluran pernafasan," tambahnye mengutip pesan dari Ketua Tim Pakar Gugus Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito.

ODP Bertambah
Sementara itu, Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Maluku Utara menemukan adanya penambahan jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) dalam kasus corona di Malut. Penambahan ODP terbilang signifikan yakni sebelumnya 188 orang menjadi 242 orang pada Senin kemarin. ODP tersebar di Ternate sebanyak 29 orang, Halmahera Barat 9 orang, Halmahera Tengah 9 orang, Kepulauan Sula 1 orang, Halmahera Selatan 56 orang, Halmahera Utara 43 orang, Halmahera Timur 23 orang, Pulau Morotai 12 orang, Pulau Taliabu 2 orang dan Kota Tidore Kepulauan 48 orang.

Menurut Juru Bicara Satgas dr. Rosita Alkatiri, ODP ini sebelumnya orang-orang yang menjalani karantina mandiri namun belakangan menunjukkan gejala seperti terpapar Covid-19. Mulai dari batuk hingga demam. “Makanya statusnya berubah jadi ODP,” ungkapnya.
Sementara jumlah Orang Tanpa Gejala (OTG) atau punya risiko tertular dari orang positif Covid-19 sebanyak 38 orang. Jumlah ini terbagi hanya pada Ternate 36 orang dan Taliabu 2 orang. “OTG yang ada sudah dilakukan pemeriksaan Rapid Test dan akan dikonfirmasi kembali untuk mendapatkan hasil pemeriksaan berikutnya,” jelas Rosita.

Kabar baiknya, angka Pasien Dalam Pengawasan (PDP) tetap 9 orang alias tidak mengalami penambahan. Sementara PDP yang telah diambil spesimennya dan tengah diuji di laboratorium Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan berjumlah 5 orang.

Di sisi lain, Rosita menambahkan, satu warga Tikep yang baru saja kembali dari Amerika Serikat saat ini masih melakukan karantina mandiri di rumah. Pasalnya, meski baru kembali dari daerah terpapar yakni New York-Chicago-Jepang-Jakarta-Ternate, warga berinisial IB itu belum menunjukkan gejala sakit apapun. “Jadi bukan ODP karena tidak ada gejala sama sekali, begitu pun bukan OTG karena tidak ada riwayat pernah kontak erat dengan status terkonfirmasi positif Covid-19,” tandas Rosita.(mg-04/mg-05/nty/kai)