Stok Pangan Malut Terbatas

BAHAS PANGAN: Pansus Penanganan Covid-19 Deprov menggelar rapat membahas ketersediaan stok pangan di Malut, Kamis (2/4) GUNAWAN TIDORE/MALUT POST

TERNATE – Panitia Khusus Penanganan Covid-19 DPRD Provinsi (Deprov) Maluku Utara mulai bekerja mengawal penanggulangan pandemi corona di Malut. Kamis (2/4) kemarin, Pansus mulau menggelar rapat bersama sejumlah OPD dan pengelola swalayan di Kota Ternate membahas kesiapan ketahanan pangan di Malut. Dalam rapat tersebut terungkap stok pangan Malut hanya cukup untuk sebulan jika situasi memburuk dan lockdown sampai diberlakukan.

Ketua Pansus Ishak Naser usai rapat mengungkapkan, instruksi Presiden Joko Widodo soal penanggulangan Covid-19 sudah sangat jelas. Yakni pemerintah diminta mengendalikan aspek kesehatan, sosial dan ekonomi. "Covid-19 ini memang memiliki dampak tapi dampak itu dapat dikendalikan secara efektif sehingga tidak mengganggu hal-hal fundamental perekonomian nasional maupun secara spesifik perekonomian regional," ungkapnya di Kantor Perwakilan Deprov di Ternate.

Ishak menuturkan, stok pangan terutama gula pasir, beras, minyak goreng, tepung dan telur ayam masih cukup hingga dua bulan ke depan. Namun jika kondisi wabah Covid-19 makin buruk yang mengharuskan lockdown, stok pangan di Malut hanya bertahan kurang lebih satu bulan. "Kalau asumsi situasinya normal, maka stok kita masih cukup untuk dua bulan ke depan. Tapi kalau dampak Covid-19 sehingga kita harus menutup wilayah ini maka stok pangan kita untuk semua jenis hanya bertahan 30 sampai 40 hari," jabar Ketua DPW Partai Nasdem Malut ini.

Karena itu, sambung Ishak, Pemerintah Provinsi harus memastikan stok pangan tersedia untuk waktu yang lama. Bila perlu hingga akhir Desember 2020. "Apa pun kebijakannya, kebutuhan ini harus terpenuhi," tegas Ketua Komisi II Deprov ini.
Dari sembilan bahan pokok, gula pasir yang dianggap paling rawan dari sisi harga dan stok. "Karena memang ada faktor lain sehingga secara nasional terjadi kelangkaan yang diakibatkan karena terhalang impor sehingga mempengaruhi pemenuhan kebutuhan di seluruh daerah," ungkapnya. "Stok gula pasir yang masih ada saat ini masih mencukupi untuk kebutuhan dua bulan ke depan. Tetapi terhalang dari sisi angkutan karena antrean panjang di Surabaya dan lainnya. Kalau ini mempengaruhi daerah kita maka bisa saja kita mintakan Pemerintah Daerah agar menyubsidi," tambah Ishak.

Dari sisi harga, kata Ishak lagi, hanya Multimart yang menjual gula pasir dengan harga Rp 17 ribu per kilogram. Sedangkan toko-toko lain masih menjual dengan harga standar Rp 12 ribu/kg. “Satu-satunya yang berbeda harga ini yakni di Multimart mencapai Rp 17 ribu/kg. Ini nanti kami temui manajernya untuk dibicarakan secara khusus agar kalau bisa harganya harus turun mereka. Kalau pakai harga eceran tertinggi itu Rp 12.500/kg," terangnya.

Ishak bilang, Pansus juga sudah menyampaikan pokok pikiran bahwa alokasi anggaran penanganan Covid-19 sebesar Rp 148 miliar agar dibuka secara khusus untuk alokasi anggaran sosial ekonomi. "Tadi teman-teman di internal Pansus juga sudah berdiskusi dan menyampaikan pokok pikirannya bahwa dari alokasi anggaran Rp 148 miliar sebagai anggaran penanganan Covid-19 dan dampaknya, itu juga diminta secara khusus agar dikasih untuk (penanganan) masalah sosial ekonomi. Jadi bukan saja masalah kesehatan," paparnya.

Anggaran Rp 148 miliar tersebut berasal dari pengalihan biaya perjalanan dinas luar daerah dan luar negeri, anggaran makan minum dan training of trainer. Menurut Ishak, pengalihan anggaran itu sudah sesuai standar. “Rp 148 miliar sekarang dana yang sudah bisa kita geser. Itu tidak mempengaruhi program pembangunan. Karena itu sumbernya perjalanan dinas Rp 110 miliar, kemudian ada juga pemotongan biaya pelatihan. TOT saja kita kurangi, dari tiga TOT satu sudah dilaksanakan, yang duanya kita hilangkan. Anggaran perjalanan luar negeri Rp 4,7 miliar kita sudah pastikan dipangkas untuk dialihkan Penanganan Covid-19. Bukan DPRD yang hapus, itu sudah standar. Dari 50 persen sisa realisasi anggaran 220 miliar itu kita kurang 110 separuhnya untuk penanganan Covid-19. Begitu juga dengan biaya makan minum," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pangan Malut Saleh A. Gani menyatakan, stok pangan di Malut secara keseluruhan dapat bertahan hingga 3 bulan ke depan, yakni April, Mei dan Juni. “Ini sudah ada stoknya," akunya.

Hanya saja untuk gula pasir Saleh mengakui ada kelangkaan. Namun dia bilang Pemerintah Pusat akan memasok sekitar 400 ribu ton untuk seluruh wilayah di Indonesia. "Memang stok gula lagi kosong. Tapi saya sudah komunikasi dengan Kepala Badan Ketahanan Pangan, in shaa Allah satu atau dua minggu nanti gula akan masuk 400 ribu ton untuk seluruh wilayah di Indonesia. Memang harga gula saat ini naik karena stoknya kosong. Untuk jatah di Malut kita belum tahu, karena ini kebijakan dari pusat," ungkapnya.
Menurut dia, kebutuhan konsumsi gula pasir di Malut per bulan mencapai 1.120 ton. Praktis, untuk stok tiga bulan gula pasir yang dibutuhkan di Malut adalah sebanyak 3.360 ton. "Kita sudah hitung kebutuhannya untuk tiga bulan ke depan. Jika harga ini makin melonjak tinggi, maka H-7 memasuki bulan puasa kita akan operasi pasar atau gelar pangan murah. Tentunya kita akan atur mekanismenya, jaga jarak dan lain sebagainya," tandas Saleh.(cr-01/kai)