Warga Tikep Meninggal dengan Gejala Mirip Covid-19

Konferensi pers yang dilakukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Tidore Kepulauan, Sabtu (11/4), terkait kematian salah satu pasien RSD Tidore yang menunjukkan gejala seperti Covid-19. (HASBI KONORAS/MALUTPOST.ID)

TIDORE, malupost.id – Satu pasien di Kota Tidore Kepulauan dilaporkan meninggal setelah mengalami sakit dengan gejala mirip Covid-19, Jumat (10/4) sore. Pasien berjenis kelamin perempuan asal Kecamatan Tidore Timur itu menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Daerah (RSD) Tidore usai menjalani perawatan selama beberapa jam. Jenazah pasien tersebut langsung dimakamkan pihak rumah sakit dengan protokol penanganan Covid-19.

Pasien tersebut awalnya dilarikan ke RSD Tidore Jumat dini hari setelah mengalami demam tinggi, sesak napas, dan batuk. Sebelumnya ia sakit di rumah selama dua hari.

Pihak rumah sakit lantas menelusuri riwayat perjalanan pasien. Diketahui, pasien tersebut tak pernah ke daerah terpapar Covid-19. Namun salah satu anaknya yang kuliah di Kota Bandung, Jawa Barat, baru saja mudik ke Tidore 10 hari lalu. “Riwayat kontak, penderita tidak melakukan perjalanan ke daerah pandemik, tapi (anggota) keluarga yaitu anaknya sendiri,” ungkap Direktur RSD Tidore dr. Fahrizal Maradjabessy dalam konferensi pers di posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tikep, Sabtu (11/4).

Petugas medis lantas melakukan rapid test terhadap pasien dan anaknya. Hasilnya, keduanya dinyatakan nonreaktif. “Saat pasien mengalami pemburukan kami sudah sempat melakukan tes, beberapa tes, terutama rapid test tapi masih negatif karena baru awal. Harusnya dilakukan rapid test dan nantinya di-swab jika memungkinkan,” ungkap Fahrizal. “Dan hasil laboratorium pun infeksi berat. Hasil rontgen paru gambaran infeksi paru-paru, hasil infeksinya lebih berat dua kali lipat. Pasien dirawat dan dilakukan terapi pernapasas. Tes baru sampai yang seperti tadi, pasien meninggal,” jelasnya. 

Pasien sendiri diketahui memiliki penyakit bawaan diabetes dengan gula darah hingga 556 mg/dL. Hasi rontgen juga menunjukkan adanya pembesaran pada jantung. “Dalam perjalanan penanganan, kami melakukan koordinasi dengan RSUD Chasan Boesoirie untuk dirujuk. Namun karena pasien tersebut tidak memiliki riwayat perjalanan sehingga belum masuk dalam kriteria PDP,” tambah Fahrizal.

Kondisi pasien memburuk dengan cepat dalam waktu yang terbilang singkat. Ia akhirnya tutup usia Jumat sore pukul 15.50 WIT. Si anak, sebaliknya, tak menunjukkan gejala sakit apapun.

Begitu pasien menghembuskan napas terakhir, pihak rumah sakit berdiskusi dengan tim pengendali infeksi. Hasilnya, diputuskan untuk melakukan pemakaman dengan prosedur pasien Covid-19. Pengelola rumah sakit langsung berkoordinasi dengan keluarga pasien terkait protokol pemakaman. Suami pasien setuju dilakukan pemulasaran sesuai protokol pemakaman pasien terduga Covid-19. 

Menurut Fahrizal, kekhawatiran pihak rumah sakit diperkuat dengan tidak adanya riwayat sakit pasien tersebut sebelumnya. Dimana sebelum kondisinya drop, pasien itu secara umum masih beraktivitas seperti biasa. "Saya tekankan bahwa memang tidak ada bukti pasien itu positif Covid-19. Karena untuk mendiagnosa itu kami harus swab dan kirim ke Jakarta dengan proses yang lama. Kami simpulkan itu berdasarkan gejala klinis yang ada," tegas Fahrizal.

Jenazah pun ditayamumkan, dikafankan dan disalatkan oleh petugas rumah sakit yang menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap. Setelah prosesi tersebut selesai, almarhumah langsung dimakamkan Jumat malam di pemakaman umum dekat rumahnya. Petugas rumah sakit yang memakamkan juga mengenakan APD lengkap. “Berdasarkan musyawarah dengan keluarga, lebih baik kita mengambil tindakan pencegahan. Khawatirnya jika (jenazah) pasien dipulangkan nanti ada orang-orang yang datang melayat tanpa tahu kondisi pasien ketika di rumah sakit, lalu andai (ternyata) positif (Covid-19) akan repot ceritanya,” tutur Fahrizal.

Fahrizal memastikan, keluarga pasien, yakni suaminya, juga diberi kesempatan melihat jenazah pasien untuk terakhir kalinya. Tentunya sang suami dipakaikan APD lengkap. “Meski kita juga keterbatasan sekali APD yang harganya satu APD Rp 2 juta, tetap kami pakaikan ke suaminya agar bisa melihat istrinya sebelum dikafankan,” akunya.

Selain rapid test untuk anak pasien, keluarga dekat yang sempat melakukan kontak juga dites dan diisolasi mandiri. Ini sebagai langkah antisipasi pencegahan Covid-19. “Nanti akan ada rapid test kedua untuk mereka,” imbuh Fahrizal.

Terpisah, Lurah Mafututu, Kecamatan Tidore Timur, Rudi Kabir yang diwawancarai malutpost.id mengaku kematian salah satu warganya tak lantas membuat panik warga lain. Warga, kata dia, tak melakukan protes meski pemakaman dilakukan dengan protokol penanganan Covid-19. “Kondusif dan aman-aman saja. Memang petugasnya pakai APD, tapi tidak apa-apa untuk warga di sini. Setelah pasien meninggal pihak rumah sakit langsung hubungi saya dan camat juga untuk koordinasi. Jadi tidak apa-apa dimakamkan di kampung sini,” tandas Rudi.(aby)