Ini Temuan Pansus Deprov kala Tinjau Pengawasan di Bandara

PANTAU: Ketua Pansus Deprov Ishak Naser (kiri) didampingi Direktur LSM Rorano M. Asghar Saleh saat meninjau pengawasan orang masuk di Bandara Babullah, Sabtu (11/4). (ASGHAR SALEH FOR MALUTPOST.ID)

Ternate, malutpost.id – Pengawasan terhadap arus masuk orang di Bandara Sultan Babullah Ternate, Maluku Utara, masih terbilang longgar. Hal ini disimpulkan Panitia Khusus (Pansus) Percepatan Penanganan Covid-19 DPRD Provinsi Malut usai meninjau pelaksanaan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengawasan orang masuk di Bandara Babullah, Sabtu (11/4). Padahal, Kota Ternate sendiri sebagai pintu masuk Malut sejauh ini telah mengoleksi dua kasus positif Covid-19. 

Ketua Pansus Ishak Naser yang dikonfirmasi malutpost.id mengungkapkan, penumpang yang keluar masuk bandara hanya diperiksa suhu tubuhnya menggunakan thermoscanner atau alat pemindai suhu tubuh. Menurut Ishak, pihaknya menemukan langsung ada beberapa penumpang yang suhu tubuhnya terdeteksi di atas 37 derajat.

“Namun mereka ini tidak dilakukan penanganan. (Padahal) bandara menjadi salah satu gerbang untuk mencegah penyebaran virus corona jadi prosedur penanganan juga harus lebih ketat," ujar Ketua Komisi II Deprov ini. 

Ishak yang juga Ketua DPW Partai Nasdem Malut itu menegaskan, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mestinya menerapkan protokol kesehatan dan prosedur karantina bagi setiap penumpang yang baru datang dari daerah terpapar. Karantina dan pemantauan ini dilakukan setelah pemeriksaan suhu tubuh. “Jadi masih ada segmen-segmen yang belum maksimal,” cetusnya. 

Di Ternate sendiri Pemerintah Provinsi Malut menyewa Sahid Bela Hotel sebagai lokasi karantina bagi Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan tenaga medis yang merawat pasien Covid-19. "Ada penumpang yang memiliki suhu tubuhnya 37,5 derajat harusnya dikarantina. Ternyata tadi pulang sendiri. Padahal mereka baru datang dari daerah terpapar, harusnya mereka itu diperiksa secara detail," ujar Ishak. 

Ishak juga mengaku untuk menerapkan prosedur pengawasan yang maksimal membutuhkan anggaran dan peralatan. Untuk itu, lanjut Ishak, Pansus akan menggunakan fungsi kebijakan dan penanganan untuk merekomendasikan hasil temuan itu ke tim Gugus Tugas. "Kita sudah kasih tahu banyak hal saat di lapangan dan nantinya akan disampaikan juga dalam rapat," akunya. 

Selain masih longgarnya pengawasan, Ishak bilang aktivitas di bandara tak hanya melibatkan pengelola bandara. Ada pula porter yang begitu rentan terpapar virus. Pasalnya, tak ada jaminan barang bawaan penumpang yang diangkut porter sudah steril. "Bayangkan bagaimana ketika mereka pulang ke rumah dalam keadaan tidak aman, ini juga mengancam keluarga mereka," kata dia. 

Direktur LSM Rorano Malut M. Asghar Saleh yang ikut serta dalam peninjauan itu pun punya pandangan serupa. Menurut Asghar, camat dan lurah selaku wakil pemerintah daerah di tengah komunitas masyarakat belum maksimal difungsikan dalam penanganan penyebaran Covid-19. Di samping itu, koordinasi provinsi dengan kabupaten/kota juga belum efektif. “Begitu juga petugas-petugas di pintu masuk yang bekerja fulltime tapi dengan APD yang minim,” ujarnya.(ikh)