Guru Besar Epidemiologi Prediksi Puncak Pandemi Corona Malut Terjadi 17 Juni

TEMU: Zoom meeting yang digagas Pengda Persakmi Malut dan LSM Rorano Malut. (ISTIMEWA)

Ternate, malutpost.id – Guru Besar Epidemiologi Universitas Hasanuddin Makassar Profesor Ridwan Amiruddin memetakan pandemi Covid-19 di Maluku Utara. Dalam analisisnya, Prof Ridwan memperkirakan kapan puncak pandemi terjadi. Ia juga memberikan sejumlah rekomendasi untuk kesiapan medis dan partisipasi masyarakat.

Pemaparan Ridwan disampaikan melalui Zoom meeting yang digagas Pengurus Daerah Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia Malut dan LSM Rorano Malut, Senin (13/4). Dalam paparannya, Ridwan menggunakan model analisa CHIME (Covid19 Hospital Impact Model for Epidemics) yang dikembangkan Penn Medicine University of Pennsylvania Amerika Serikat.

Ridwan menyebut secara umum, kasus Covid-19 di Malut baru pada tahap awal eksponensial. Dengan menggunakan indikator jumlah populasi Malut 1.000.000 orang, Hospital Market Share sebesar 15 persen, jumlah pasien positif 2, waktu dobel time 4 hari (artinya setiap 4 hari akan ada pertambahan kasus baru dengan kelipatan dua kali) serta severity parameter maka puncak pandemi di Malut akan terjadi pada tanggal 17 Juni dengan jumlah kasus 574. Karena itu butuh ICU sebanyak 220 bed dan ventilator sebanyak 162 buah. “Selain itu wajib hukumnya APD bagi seluruh petugas di rumah sakit dan puskesmas,” cetus Ridwan.

Sebagai persiapan awal menuju puncak pandemi, Prof Ridwan menyarankan rumah sakit menyiapkan 83 hingga 100 bed, ICU sebanyak 24 dan 16 ventilator untuk kasus baru. Menurut Ketua Umum Persakmi ini, saat ini diproyeksikan telah terjadi infeksi di masyarakat sekitar 634 kasus. Hal ini didasarkan pada jumlah pasien yang telah positif dan dirawat sebanyak 2 orang dan angka penggunaan rumah sakit sebanyak 2 persen dengan populasi 1 juta orang. “Dengan waktu penggandaan kasus 4 hari maka diperoleh waktu reproduksi sebesar 3,65 dan angka pertumbuhan kasus sebesar 18,92 persen,” paparnya. “Masalahnya adalah jumlah kasus yang dihitung ini belum seluruhnya terdeteksi karena kita masih dalam proses menunggu laporan kasus. Bukan secara aktif dan masif melakukan tracking, rapid test ataupun PCR dengan sasaran populasi rentan, jumlah terinfeksi maupun kelompok yang sembuh,” tutur Ridwan.

Prof Ridwan menambahkan, jika mitigasi berupa pengetatan kontak sosial (hindari kerumunan, jaga jarak, stay at home dll) bisa didorong hingga mencapai 30 persen maka akan memperlebar waktu kasus berlipat dari 3,65 hari menjadi 6,6 hari. Dengan demikian pertumbuhan kasus menjadi 11 persen.

Dalam Zoom meeting yang diikuti Sekretaris Provinsi Malut Samsuddin A Kadir, Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman, serta sejumlah pejabat dan tim Gugus Tugas kabupaten/kota tersebut, Prof Ridwan menegaskan, puncak pandemi Malut masih bisa dihindari karena Malut baru berada di fase awal. Caranya adalah dengan meningkatkan cakupan mitigasi berupa social dan physical distancing, stay at home dan cuci tangan di atas 30 persen dari populasi untuk melandaikan kurva pandemik.

Selain itu, menghentikan penularan kasus baru dengan memberi perlindungan pada kelompok rentan (bayi, anak-anak dan manula), mempercepat penyembuhan, melaksanakan intervensi skala menengah, karantina pulau, serta screening masif untuk memutus rantai penularan.

Hal terakhir yang disarankan adalah interversi public health dengan memprioritaskan aspek promotif dan preventif dengan pendekatan komunikasi berisiko yang baik dan mencegah terjadinya konflik horizontal di masyarakat. Kasus penolakan pemakaman jenazah pasien covid adalah salah satu contoh komunikasi yang tak sampai ke masyarakat bawah. "Dalam menghadapi wabah seperti ini, ujung tombak kesehatan masyarakat ada pada aspek pencegahan. Siapa yang mencegah? Masyarakat sebagai garda terdepan,” tegas Ridwan. “Karena itu kolaborasi kerja sama yang melibatkan masyarakat, organisasi profesi, LSM dan potensi lainnya wajib dilakukan jika ingin Malut bebas dari ancaman corona,” tandasnya.

Sekprov Samsuddin A. Kadir mengakui presentase model pandemi seperti ini sangat membantu pemda dalam memetakan kebijakan dan langkah penanganan wabah di Malut. Pemda kini punya dasar untuk menyiapkan fasilitas rumah sakit, menghitung kebutuhan tenaga kesehatan serta mengoptimalkan koordinasi dan pembagian tugas dengan kabupaten kota. "Kami berterima kasih kepada Persakmi dan Rorano yang sudah meminta Prof. Ridwan membuat permodelan seperti ini, selama ini kita banyak mendengar permodelan secara nasional," kata Samsuddin.

Sementara Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman juga mengakui presentasi model pandemi yang dilakukan Prof Ridwan membuat semua pihak menjadi lebih aware dengan ancaman coronavirus. Pemkot sendiri akan terus meningkatkan pengawasan di setiap pintu masuk serta memaksimalkan peran lurah dan satuan tugas kelurahan siaga covid yang sudah dibentuk.(kai)