Peran ATLM yang Terlupakan di Tengah Pandemi Covid-19

GARDA TERDEPAN: Tenaga ATLM siap menjalankan tugas mengambil spesimen pasien diduga terpapar Covid-19. (ISTIMEWA)

Ternate, malutpost.id – Di tengah gempuran wabah Covid-19, peran tenaga medis berada di garda terdepan dan berinteraksi langsung dengan pasien. Sejauh ini, publik umumnya familiar dengan dokter dan perawat sebagai tenaga medis. Padahal dalam penanganan pandemi corona ini ada satu profesi medis lain yang tak kalah penting yakni Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM).

 

Dulu, profesi medis yang bekerja di laboratorium ini lebih dikenal dengan sebutan Analis Kesehatan. ATLM berhimpun di bawah organisasi profesi Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (Patelki). Perwakilan organisasi ini kini ada di seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

 

Menghadapi wabah Covid-19, tugas seorang ATLM boleh dibilang amat berat. Bagaimana tidak? Mereka lah yang harus mengambil spesimen pasien-pasien yang diduga telah terpapar corona.

 

“Kami bertugas menganalisis sampel dari pasien seperti darah, urine, feces, dahak dan lain-lain. Yang mana di dalam sampel tersebut dicurigai terdapat bakteri atau parasit yang menjadi penyebab sakitnya pasien,” ungkap Anggota DPW Patelki Maluku Utara Syafaruddin Rosman kepada malutpost.id, Selasa (14/4).

 

Saat ini, di seluruh Malut terdapat 63 Orang Tanpa Gejala (OTG), 322 Orang Dalam Pemantauan (ODP), 8 Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan 1 pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Sebagian di antara mereka telah diambil spesimennya untuk diuji dengan metode polymerase chain reaction (PCR). Nah, tenaga ATLM inilah yang mengambil sampel lendir para pasien tersebut.

 

“Setiap hari petugas laboratorium mengambil sampel darah, swab, dan spesimen lain guna menunjang diagnosis dokter terkait Covid-19,” terang Syafaruddin.

 

Tugas ini menjadikan petugas laboratorium sangat berisiko tertular penyakit dari pasien. Alhasil, alat pelindung diri (APD) berupa baju hazmat, masker, pelindung wajah, hingga sarung tangan adalah harga mati bagi ATLM.

 

“Banyak keluarga yang khawatir kami tertular dari pasien, namun berkat APD yang memadai sehingga kami bisa dengan tenang melakukan pengambilan sampel. Dari hasil pemeriksaan laboratorium lah kemudian akan diketahui bahwa pasien itu positif atau negatif Covid-19,” jabar Syafaruddin.

 

Keberadaan laboratorium saat ini sangat dibutuhkan untuk menunjang diagnosa dokter, terutama dalam masa pandemi seperti sekarang ini. Di Maluku Utara sendiri untuk saat ini belum ada laboratorium dengan standar Bio-safety level II (BSL2) yang dilengkapi dengan alat pemeriksaan real time PCR. “Alhasil sampel yang diambil oleh tenaga ATLM pun dikirim ke Jakarta dan Makassar untuk dianalisis,” sambung Syafaruddin.

 

Mewakili rekan-rekannya, Syafaruddin bilang akan terus berada di garda terdepan dalam pertempuran melawan pandemi ini. Walau profesi mereka belum sepopuler dokter atau pun perawat, tugas para ATLM tak kalah pentingnya dengan tenaga medis lain. “Kami berharap tidak ada lagi diskriminasi terhadap profesi kami. Kami akan terus membuktikan bahwa profesi kami bukan hanya pelengkap di dunia kesehatan, tapi kami juga sama pentingnya dengan profesi tenaga kesehatan lain. Untuk itu mari kita saling bahu membahu melawan Covid-19 di Maluku Utara,” tandasnya.(kai)