RSUD CB Sekarang Punya 2 Mesin TCM, Asghar: Jangan Lagi Rapid Tes, Kecuali?

Direktur LSM Rorano, Asghar Saleh. (Dok. Pribadi)

Ternate, malutpost.id – Kurva kasus positif Covid-19 di Maluku Utara sejak sepekan terakhir menurun, bahkan Senin (8/6), tidak ada kasus terkonfrmasi positif baru.

Terkait itu, Direktur LSM Rorano, Asghar Saleh menilai tidak ada penuruan signifikan kasus positif baru bukan karena kurva kasus melandai. Hal itu kata Asgar, disebabkan alat cartrigde yang digunakan pada mesin tes cepat molekuler (TCM) di RSUD Chasan Boesoirie, Ternate habis. ”Kasusnya minim bahkan sampai nol itu karena alasan tidak ada cartridge kemudian hasil tes laboratorium itu juga belum ada makanya kasusnya nol karena itu,” jelas Asghar kepada malutpost.id, Selasa (9/6).

Dia bilang, lonjakan kasus positif baru di Maluku Utara dalam beberapa hari kedepan bisa saja terjadi. Sebab, jumlah pasien yang masih menunggu hasil pemeriksaan swab cukup banyak, baik kasus followup maupun diagnosa baru, kemudian ratusan pasien lainnya juga menjalani karantina mandiri di rumah. ”Karena kita tidak melakukan intervensi apa-apa, sementara daftar antri swab  banyak, daftar antri rapid tes juga ratusan,” ungkapnya.

Apalagi kata Asghar, ratusan spesimen yang akan di uji, secara epidemologi merupakan pasien dengan riwayat kontak erat dengan pasien positif. Asghar bilang, dari kajian tersebut bisa jadi akan terjadi lonjakan kasus baru. Pasalnya, posisi kurva kasus positif di Malut masih tinggi. ”Misalnya, ada pasien kepala keluarganya positif anggota keluarganya 4 orang reaktif, jadi kalau bilang ledakan bisa jadi ledakan karena kurva kasus kita belum turun,” papar mantan anggota DPRD Kota Ternate itu.

Lebih lanjut Asghar mengungkapkan, saat ini RSUD CB sudah memiliki 2 unit alat TCM sehingga dalam sehari bisa dilakukan pemeriksaan 40 spesimen pasien covid. Untuk itu, dia menyarankan agar gustu kota Ternate maupun Malut mengambil langkah cepat melakukan pemeriksaan swab tes terhadap orang yang di diagnostik memiliki riwayat kontak erat dengan pasien positif. "Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Malut tadi malam (kemarin) itu sudah terima 700 alat cartridge  kemudian alat TCM dari RS Tobelo juga sudah ditarik ke Ternate,  jika hari ini sudah mulai running maka dalam sehari kita bisa tahu 40 hasil swab,” ungkapnya.

Sebab, dia bilang, riwayat lonjakan kasus positif di Ternate pada Mei dan Juni merupakan kasus yang tertular melalui transmisi lokal. Di sisi lain, biaya untuk 1 unit rapid sesuai standar Kemenkes senilai Rp 300 ribu, jauh lebih mahal ketimbang pemeriksaan menggunakan media viral transport medium (VTM) atau media penyimpan lendir untuk uji swab polymerace chain reaction (PCR) yang lebih murah dan efektif. ”Kalau saya penegakan diagnostik inikan untuk memutus mata rantai (virus) terhadap orang-orang yang melakukan kontak erat dengan pasien positif, jadi itu langsung di swab saja tidak perlu  rapid karena buang waktu, kalau tabung VTM itu hanya Rp 80 ribu jauh lebih murah,” tandasnya. (ikh)

 

-

Editor    : Ikram Salim