Penuhi Panggilan Bawaslu Halut, Begini Penjelasan Bupati Frans

Bupati Frans Manery yang juga bakal calon bupati petahana usai menjalani pemeriksaan klarifikasi di Bawaslu Halut, Rabu (16/9/2020). (Foto: Ramlan/malutpost.id)

Tobelo, malutpost.id - Bupati Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, Frans Manery memenuhi panggilan klarifikasi Badan Pengawas Pemilihan Umum Halut, Rabu (16/9/2020). 
 
Kedatangan bupati yang juga calon petahana itu didampingi empat kuasa dan langsung menjalani pemeriksaan oleh tiga staf Bawaslu di bagian hukum dan penindakan penanganan pelanggaran pemilu. 
 
Frans dimintai keterangan soal video berdurasi 1.10 menit yang viral di media sosial beberapa saat lalu dan berbuntut laporan oleh tim balon bupati dan wakil bupati Halut Joel B. Wagono-Said Bajak (JOS). Mantan anggota DPRD Malut itu menjalani pemeriksaan kurang lebih 3 jam.
 
"Kita mulai periksa dari pukul 09.30 sampai pukul 12.00," ungkap Iksan Hamiru, Koordiv Hukum dan Penindakan Penanganan Pelanggaran Pemilu, Rabu (16/9/2020).
 
Iksan menolak berkomentar jauh soal berapa pertanyaan yang diajukan. Dia hanya menjelaskan sebatas pemeriksaan orang nomor satu di Pemkab Halut itu. Selanjutnya, hasil pemeriksaan akan dibahas bersama tim Gakumdu. 
 
"Tapi, yang jelasnya kita sudah minta klarifikasi atau memeriksa Bupati. Soal putusan belum bisa kita sampaikan," ujarnya.
 
"Bawaslu sudah selesai, tapi masih lanjut oleh Gakumdu sebentar," katanya.
 
Sementara Bupati Frans usai diperiksa mengaku tidak menyalahgunaan kewenangan sebagaimana yang dituduhkan. Sebab kata Frans, dirinya masih menjabat sebagai bupati aktif dan belum ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum sebagai calon bupati.
 
"Saya kan belum sebagai calon Bupati, baru mendaftar," kilah Frans kepada sejumlah wartawan. 
 
Dia juga menyingung soal video yang menurutnya sudah tidak utuh atau tidak lengkap. Padahal, dalam versi lengkap kata Frans, dirinya tidak menyebut warga Loloda dengan kata bodoh.
 
Dia berujar, dalam video utuh dirinya justru melontarkan kata tersebut kepada pihak yang mengkritisi dan menganggapnya tidak membuat perubahan pembangunan selama lima tahun memimpin.
 
"Saya pande (pandai), bahasa begitu. Saya tidak bodoh sama dengan dorang (mereka). Artinya untuk mereka yang mengkritisi saya buat, tujuannya ke situ, bukan ke orang Loloda," jelas Frans.
 
Lanjut Frans, jika dirinya tidak menyukai warga Loloda, maka pemerintah tidak ada membangun jalan ke Loloda. Frans juga tampak geram dengan video yang tersebar. Dia berjanji akan mengusut penyebar video yang dinilai memprovokasi masyarakat melalui tim hukumnya.
 
"Kalau lapor balik, saya tidak berfikir itu tergantung tim hukum. Mereka mengkaji dulu," katanya.
 
Soal laporan warga Loloda ke Polda Malut  terhadap dirinya, Frans mengaku belum mengetahui. Namun, jika ada laporan, sebagai warga negara dirinya siap untuk hadapi.(cr-04)
 
 
 
 
-
Peliput : Ramlan Harun
Editor   : Ikram