154 Hari Terjebak di Pantai Gading, Jenazah ABK Asal Ternate Dimakamkan di Kampung Halaman

Jenazah almarhum Riki Rifaldi saat dimakamkan di Kelurahan Takome, Kecamatan Ternate Barat, Ahad (20/9/2020). (Foto: Ikh/malutpost.id)

Ternate, malutpost.id -- Pemakaman jenazah 
almarhum Riki Rifaldi warga Kelurahan Takome, Kecamatan Kota Ternate Barat, Provinsi Maluku Utara (Malut) butuh waktu 154 hari atau 5 bulan 4 hari.
 
Pasalnya, sejak meninggal di kapal ikan berbendera China pada 16 Mei 2020 lalu di Afrika Barat, jenazahnya baru bisa tiba di kampung halaman, pada Ahad (20/9/2020) pagi tadi.
 
Isak tangis warnai penjemputan putra bungsu pasangan almarhum Idris Naser dan Ramina Tasim saat jenazah tiba di rumah duka sekira pukul 11.30 WIT. 
 
Jenazah diterbangkan menggunakan pesawat Garuda dari Bandara Soekarno-Hata dan tiba bandara Sultan Babullah Ternate pukul 10.30 WIT.
 
Umar Buamona paman almarhum Riki Rifaldi saat ditemui di rumah duka menjelaskan, almarhum terhitung mulai bekerja di perusahan PT. Delta Samudera Berjaya sejak Agustus 2018.
 
“Jadi kalau hitung mulai berangkat sampai jenazah pulang terhitung tepat 2 tahun,” ungkapnya kepada sejumlah awak media usai pemakaman.
 
Umar berujar, sebulan sebelum meninggal pada 16 Mei lalu, almarhum sempat berkomunikasi dengan keluarga, bahkan almarhum mengaku sehat selama bekerja. Komunikasi itu, kata Umar, rutin dilakukan setiap kali kapal berlabuh di pelabuhan.
 
Informasi terakhir didapat keluarga setelah almarhum meninggal melalui salah satu keluarganya yang bekerja di tambang Halmahera Tengah. 
 
“Menjelang meninggal, kita sudah tidak terima kabar lagi dan bahkan kita juga tidak tahu kalau dia sakit, setelah kita dapat info dari salah satu saudara kita langsung minta nomor perusahan dan menghubungi untuk memastikan informasi itu,” ungkapnya.
 
Proses pemakaman jenazah sendiri kata Umar, dilakukan menggunakan peti yang sudah disiapkan. 
 
“Karena situasi sekarang juga masih pandemi makanya kita juga lakukan itu dan tidak mau ambil resiko,” akunya.
 
Untuk hak selama bekerja kata dia, sudah diurus oleh pengacara yang ditunjuk, sementara asuransi kematian akan dibayarkan jika dokumen persyaratan terpenuhi seperti surat keterangan pemakaman dari kelurahan.
 
“Insya Allah akan urus supaya semua hak terbayarkan,” tuturnya.
 
Pihaknya, lanjut Umar, juga berterima kasih kepada Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), BP2MI dan KBRI Dakar Senegal, Menteri Kelautan dan Perikanan sehingga jenazah bisa dipulangkan ke kampung halaman.
 
“Ibu Menlu dan pihak terkait termasuk wartawan juga kami ucapkan banyak terimakasih,” tandasnya.
 
Lurah Takome, Hamid Muhammad kepada wartawan mengaku berterima kasih kepada semua pihak termasuk pemerintah dan wartawan yang membantu pihak keluarga memulangkan warganya ke tanah air. 
 
"Kami sangat mengapresiasi tetapi saya berharap agar pemerintah juga harus memperhatikan sistem kesehatan dan hak karyawan di kapal, karena sudah tercatat 3 orang warga di Ternate ini yang meninggal di atas kapal," tandasnya.
 
Yusriyanto Yunus salah satu rekan korban mengaku juga berada satu bendera atau perusahaan yang sama dengan korban. Hanya saja, kata Yusriyanto, dirinya bekerja di kapal penangkap cumi-cumi sementara alamrahum di kapal tuna. "Tapi waktu saya pulang Ternate korban berangkat," katanya.
 
Dia bilang, di kapalnya juga disiapkan dokter yang khusus melayani Anak Buah Kapal (ABK). Ketika ada ABK yang sakit langsung diistirahatkan dan dirawat khusus hingga sembuh. "Jadi kalau ada ABK di kapal lain tapi masih perusahan yang sama sake dipindahkan di kapal yang ada dokter untuk menjalani perawatan," tandasnya. (ikh)
 
 
 
-
 
Peliput : Tim
Editor   : Ikram