Cerita Yolanda dan Pinkan, Atlet Terjun Payung yang Grogi di Langit Ternate

Aksi terjun payung pertama kali di Ternate Maluku Utara, Ahad (11/10/2020). (Foto: Ikh/malutpost.id)

Ternate, malutpost.id – Empat penerjun payung menghiasi langit Kota Ternate, Maluku Utara, Ahad (11/10/2020). 

Aksi penerjun payung ini mengundang perhatian dan decak kagum warga yang antusias memadati Stadion Gelora Kie Raha, Ternate yang menjadi lokasi pendaratan para penerjun. Aksi di atas udara ini merupakan rangkaian HUT Provinsi Maluku Utara ke-21 dan TNI ke-75. 

Jika biasanya, olahraga ekstrim itu dilakukan oleh pria, namun dari empat penerjun kali ini 2 diantaranya merupakan perempuan.

Mereka adalah Liven Yolanda Tuege dan Pinkan Madagi sementara dua penerjun lainnya yakni Elric Berhandus dan Sendi Mangosa dari TNI Angkatan Udara. Liven dan Pinkan merupakan atlet terjun payung yang tergabung dalam Federasi Aero Sport Indonesia Daerah (FASID) Sulawesi Utara.  Penampilan keduanya memukai para pejabat maupun warga. Aksi keempat penerjun merupakan yang pertama kali dilakukan di Ternate.

Pinkan sendiri membawa bendera bergambar wajah dengan masker sebagai kampanye gunakan masker, sementara Yolanda membawa buket bunga yang diserahkan kepada istri Gubernur Malut. 

“Pertama saya sangat grogi karena baru pertama kali terjun di tempat ini (Ternate),” kata Yolanda.

Menurut Yolanda, selain pertama kali terjun di Ternate, kondisi cuaca juga sempat membuatnya grogi. Selain itu, kata Yolanda, aksinya kali ini dilakukan pada ketinggian 5.500 feet tanpa didahului gladi akibat cuaca yang tidak memungkinkan. ”Karena langsung main (terjun) jadi memang groginya berasa sekali tapi begitu keluar dari pesawat langsung enjoy karena bisa lihat lapangan jadi bisa orientasi dari atas,” kata Yolanda kepada malutpost.id, Ahad (11/10/2020).

Atlet nasional yang pernah menjuarai PON pada 2016 itu bilang, sudah lebih dari 200 kali melayang di udara. Dia mengaku, mulai mengenal olahraga yang didominasi laki-laki itu sejak usia 16 tahun.

Menurut Yolanda, salah satu motivasinya menjadi penerjun karena lingkungan di Sulut. ”Karena di Manado itu terkenal dengan terjun payung jadi saya ingin,” kata perempuan yang tengah menyiapkan diri mengikuti PON di Papua tersebut. 

Perempuan 25 tahun itu lantas menitip pesan kepada generasi di Malut untuk bisa memanfaatkan sekolah Dirgantara untuk memupuk bakat sebagai atlet terjun payung. ”Semoga dengan didirikannya sekolah ini bisa bersemangat bergabung dengan kami dalam satu keluarga Dirgantara,” pungkasnya. (ikh)

 

 

-

Peliput : Tim

Editor : Ikram