Bahalo Sagu, Lestarikan Tradisi Pangan di Festival Kampung

Warga Desa Samo, Kecamatan Gane Barat Utara melakukan halo sagu sebagai tradisi pangan yang masih dijaga, Selasa (27/10/2020). (istimewa)

Ternate, malutpost.id -- Festival Kampong Pulau yang digelar warga  beberapa desa di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara turut menampilakn beberapa produk pangan lokal. Kegiatan yang difasilitasi EcoNusa Indonesia bersama Perkumpulan PakaTiva itu, telah dilaksanakan di Desa Gane Dalam, Gane Barat Selatan dan Desa Samo, Gane Barat  Utara.

Kegiatan yang seluruhnya disiapkan dan diselenggarakan warga itu, selain membuat produk olahan pangan lokal seperti sagu, singkong dan padi ladang juga turut menampilkan beberapa atraksi budaya.

Di  Desa Samo, selain menampilkan  beberapa olahan makanan dari sagu, juga singkong dan  ubi jalar atau batatas. Mereka juga  mengolah padi dengan ditumbuk secara  tradisional menggunakan lesung dan alu.  Produk makanan dari  pangan lokal ini turut dihidangkan kepada warga dan tamu yang hadir dalam acara ini. 

“Pangan lokal yang ada ini menjadi tanda  atau memberi pesan kepada semua pihak bahwa banyak pangan local yang  diusahakan oleh warga untuk  memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Direktur Eksekutif EcoNusa  Bustar Maitar saat  memberi pesan-pesan dalam acara Festival ini. Dia bilang warga sebenarnya mandiri dengan pangan lokal yang mereka miliki.    

Soal makanan dari sagu ada beberapa jenis  makanan dengan bahan baku tepung sagu yang dihasilkan misalnya,  popeda, sinyole (Sagu yang disangrai,red) boko boko (sagu yang dimasak di dalam bambu,red) dan baha-baha (tepung sagu dibungkus daun sagu lalu dibakar). 

 Soal pangan sagu ini warga turut memeragakan cara mengolah sagu. Warga menyebutkan  dengan  bahalo sagu. Bahalo sagu ini ditunjukan mulai dari proses mengolah  pokok sagu, diremas hingga menjadi tepung sagu. Tidak itu saja wadah   menaruh tepung sagu juga  dibuat dari daun rumbia  yang dianyam membentuk seperti ember yang disebut dengan tumang.  

Menurut warga,  apa yang mereka tunjukan ini adalah bagian dari symbol mengolah pangan local  secara tradisional  yang kini sudah mulai ditinggalkan  warga.  Misalnya untuk bahalo sagu di beberapa tempat di Maluku Utara  tidak lagi menggunakan Ngongalo  (alat pemukul pokok sagu,red) tetapi menggunakan mesin untuk menggiling.

“Rata rata warga sudah menggunakan mesin untuk menggiling pokok sagu. Jadi kami menggunakan alat-alat tradisional ini untuk menunjukan alat alat pemukul sagu yang sudah mulai hilang ini,” ujar Luth Komo-komo  salah satu warga yang turut memeragakan cara bahalo sagu  dengan Ngongalo. 

Cara mengolah sagu secara tradisional ini di desa  Samo  sudah lama ditinggalkan. Padahal menurut warga dari sisi rasa tepung sagu yang dipukul dengan alat tradisional dan  mesin sangat berbeda. “Jelas dari segi rasa antara yang diolah dengan mesin dan menggunakan alat tradisiona ngongalo sangat beda,” jelasnya. 

Sementara untuk pangan dari  padi ladang ,warga sempat membuat  atraksi tumbuk padi mengunakan lesung dan alu. (ikh)

 

-

Peliput : Tim

Editor   : Ikram