Mukhtar Sebut Diskusi Mahasiswa Lebih Menarik dari Isu Debat Kandidat Pilwako Ternate

Dr. Mukhtar Adam. (istimewa)

Ternate, malutpost.id -- Debat kandidat calon wali kota dan wakil wali kota Ternate pertama yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Ternate di Sahid Bela Hotel, Selasa (27/10) memantik reaksi publik.

Dosen Ekonomi Universitas Khairun, Dr Mukhtar Adam menilai, materi debat kandidat pertama belum menunjukan debat yang tidak berkualitas dan membosankan. Menurutnya, tidak ada isu-isu terbaru yang dibangun dari fenomena yang dihadapi masyarakat kota dari tema yang disajikan terkait kesejahteraan.

Ekonom asal Malut itu mengemukakan, KPUD mestinya menyiapkan format diskusi yang didasari pada beberapa hal. Pertama, RPJP 25 tahun pembangunan Kota Ternate yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah sebagai rujukan pembangunan kesejahteraan tidak terungkap dalam berbagai sesi, utamanya sesi pertanyaan yang sudah disiapkan oleh KPUD.

Kedua, dunia lagi menghadapi resesi, akibat pademi covid-19, yang mengganggu kesejahteraan rakyat dan memaksa negara harus melakukan berbagai upaya-upaya terobosan. Salah satunya, menitipkan kepada para calon kepala daerah untuk turut serta merumuskan strategi pemulihan dan penanganan covid-19 dalam rumusan visi- misi yang berkaitan dengan kesejahteraan tidak tertuang sebagai isu atau materi debat.

“Sementara, para calon wali kota jika terpilih akan berhadapan dengan beban berat, menata kota Ternate dari menurunnya kapasitas fiskal, dengan berbagai dimensi yang harus ditangani dengan strategi dan roadmap yang jelas dan terukur tidak terungkap dengan baik dalam debat karena KPUD tidak mendesain debat yang baik dalam pengayaan gagasan pemulihan dan penanganan kebencanaan,” ungkap Mukhtar kepada malutpost.id.

Ketiga, lanjut Mukhtar, debat justru terlihat biasa-biasa saja, diskusi mahasiswa dinilai lebih berkualitas dan terkonstruktif dengan baik daripada debat calon kepala daerah yang tidak membumi pada masalah dan tantangan yang dihadapi warga kota dalam 5 tahun kedepan.

Keempat, rumusan pertanyaan panelis yang tidak secara baik mengungkap fenomena kesejahteraan dalam debat kandidat sehingga muncul beberapa pertanyaan yang dirumuskan panelis menjadi tidak “nyambung” dengan topik besar dan fenomena kekinian dan masa depan kota Ternate.

Padahal, lanjut Mukhtar, dinamika kesejahteraan yang dihadapi saat ini diprediksi akan berlanjut dalam 3 sampai dengan 5 tahun kedepan adalah menurunnya daya beli masyarakat, sebagai dampak dari rendahnya investasi, tidak tersedia lapangan kerja, pasar global yang mengalami kelesuan adalah rangkaian tekanan pada daya beli masyarakat.

Kualitas SDM yang dipengaruhi oleh kualitas konsumsi bayi balita ibu hamil dan ibu menyusui yang berefek terhadap kualitas SDM.

“Ternate sebagai kota gugus pulau dengan pola hunian pada pulau-pulau kecil, yang berdampak pada disparitas kawasan dan wilayah yang bermuara pada kesejahteraan tidak menjadi tema diskusi sejahtera warga kota dan berbagai dinamika kesejahteraan yang tidak dikelola dengan baik dalam diskusi para calon pemimpin kota,” jelasnya.

Tak hanya itu, kata Mukhtar, rumusan pertanyaan yang mengembang dan tidak fokus oleh panelis dan cenderung berbelit-belit.

Contoh pertanyaan pertama ke pasangan calon nomor urut 2 tidak secara tegas terkait kemiskinan Kota Ternate yang fluktuatif dengan tekanan tumbuh tertinggi pada 2019 ataukah terkait konsep ekonomi kerakyatan.

Cara merumuskan soal yang panjang dan tidak fokus, pada problem kota. Atau pada pertanyaan kedua kepada pasangan calon urutan ketiga, substansinya pada pembangunan sumberdaya manusia yang memiliki hubungan dengan tenaga kerja namun penggunaan istilah sumberdaya tenaga kerja yang dikaitkan dengan sumber daya manusia pada substansi pembangunan angkatan kerja yang berkualitas menjadi tidak relevan, apalagi menggunakan istilah sumberdaya tenaga kerja.

“Namun dari isu pokok, ya panelis ingin mengarahkan pada pembangunan sumberdaya manusia yang dapat menghasilkan angkatan kerja yang bermutu yang dikenal dalam teori mutu modal manusia, agar bisa berkompetisi di pasar kerja global. Namun sayang, rumusan pertanyaan panelis tidak tepat dalam pemanfaatan istilah dan substansi yang diajukan kepada para calon walikota dalam debat kandidat,” tandas Mukhtar. (aby)

 

-

Peliput : Hasbi Konoras

Editor   : Ikram