Pelayanan Kesehatan di Pesisir Halmahera Memprihatinkan: Akses Sulit, Bertahan dengan Obat di Warung

Kondisi Ali, warga Desa Samo, Kecamatan Gane Barat Utara saat ini. (Foto: kieraha.com)

Ternate, malutpost.id -- Masyarakat pesisir di dataran pulau Halmahera belum sepenuhnya merasakan pelayanan kesehatan yang memadai. Keterbatasan akses wilayah dan kurang pekanya pemerintah setempat berakibat pada kebutuhan dasar masyarakat. Kendala itulah yang dialami masyarakat pesisir di Desa Samo, Kecamatan Gane Barat Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Ali, salah satu warga Desa Samo yang mengalami sulitnya pelayanan kesehatan. Tiga bulan terakhir ini, kesehatan lelaki 57 tahun itu makin memburuk. Ia hanya bisa berbaring di atas tempat tidur akibat sakit paru yang dialaminya. Sejak sakit parah, Ali tidak pernah mendapat pengobatan, baik dari Puskesmas pembantu (Pustu) Desa Samo maupun Puskesmas di ibu kota kecamatan.  

“Kita mau bawa bapak ke Bacan tapi uang tidak cukup,” kata Rohani, istri Ali saat disambangi malutpost.id,  Rabu 28 Oktober 2020.

Di sisi lain, akses masyarakat pesisir ke Puskesmas atau Rumah Sakit juga sulit. Warga harus menempuh jalur laut hingga berjam-jam ke Puskesmas atau rumah sakit di Labuha dan Ternate tentunya dengan biaya yang tidak sedikit. Sebab, akses jalan darat masih sangat sulit dan membahayakan.

Rohani mengaku, hanya membeli obat seadanya di warung. Di pustu, dirinya dan sang suami hanya bisa berkonsultasi, karena pustu sering kehabisan obat. Sejak suaminya sakit, keluarga dengan 6 orang anak itu sudah tidak punya pemasukan. Mereka juga tidak memiliki BPJS kesehatan atau jaminan kesehatan lainnya.

“Akhirnya saya dan bapak hanya bisa pasrah dan membeli obat seadanya saja,” jelasnya.

Kepala Pustu Desa Samo, Saina Abdul Majid membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, keluhan soal pelayanan kesehatan ini berulang kali disampaikan warga. Namun, Saina mengaku tidak bisa berbuat banyak.

“Memang mereka pernah berkonsultasi dan saya sudah sarankan untuk rujuk ke RS atau puskesmas tetapi mereka belum punya uang, sementara obat disini juga terbatas dan sering habis,” kata Saina.

Soal fasilitas kesehatan, lanjut Saina, dia telah menyampaikan ke Puskesmas maupun Dinas Kesehatan namun belum ada respon. Dia juga berharap Pemerintah Desa turut berpartisipasi memperhatikan kebutuhan kesehatan masyarakat. Di hadapan wartawan, Saina sendiri takut berbicara banyak.

“Saya sudah sampaikan termasuk ke kades,” kata bidan desa yang sudah 28 tahun bertugas di Desa Samo tersebut.

Hamid Ici kepada malutpost.id mengaku, berulang kali memeriksa kesehatan, namun tidak diberi obat oleh petugas Pustu. ”Saya pernah sampai marah juga ke petugas kenapa kita tidak diberi obat, katanya obat sudah habis,” kata Hamid.

Dia berharap, pemerintah bisa memperhatikan fasilitas dan pelayanan kesehatan di Desa Samo. Sebab, lanjut Hamid, selain kesulitan akses kesehatan ke kecamatan maupun ke RS, warga selama ini hanya bisa berobat dengan obat dari warung.

“Kita berharap agar pemerintah bisa perhatikan ini, karena biaya berobat kita ke RS juga mahal,” pungkas Hamid. (ikh)

 

 

-

Peliput : Tim

Editor   : Ikram