Sultan Baabullah Pahlawan Nasional, Hidayat Mudaffar Sjah: Sejarah Indonesia Harus Rekonsiliasi


Hidayat Mudaffar Sjah. (Foto: Ikh/malutpost.id)

Ternate, malutpost.id -- Ahli waris Kesultanan Ternate, Maluku Utara meminta pemerintah Indonesia melakukan rekonsiliasasi atau perbaikan sejarah Indonesia. Dorongan dan keinginan tersebut seiring dengan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Baabullah Datu Syah oleh Presiden Joko Widodo pada 10 November 2020 lalu.

Salah satu ahli waris Kesultanan Ternate, Hidayat Mudaffar Sjah menuturkan, sejarah penjajahan Indonesia selama ini ditulis hanya berdasarkan penjajahan oleh Belanda. Alasan itu pula, kata Hidayat, membuat usulan gelar pahlawan Sultan Baabullah terganjal dengan periode penjajahan Indonesia. Sebab, lanjut Hidayat, Sultan Baabullah yang mulai berkuasa sebagai Sultan Ternate berjuang mengusir Portugis dari tanah Maluku pada 1570-1583.

"Selama ini pemerintah kita ini selalu merunut penjajahan dimulai dari kedatangan Belanda, sehingga kita usulkan Sultan Baabullah jadi pahlawan nasional terganjal di situ, karena beralasan kita hanya mengakui penjajahan Indonesia dari jaman Belanda, dengan dikukuhkan Baabullah ini mau tidak mau mereka harus mengakui bahwa penjajahan itu berawal dari Portugis karena pala dan cengkeh," ujar Hidayat di Kedaton Kesultanan Ternate, Sabtu (14/11/2020).

Untuk itu lanjutnya, rentang waktu penjajahan dalam sejarah Indonesia harus dikaji kembali karena dimasa pemerintahan Baabullah, Indonesia dijajah oleh Portugis bukan Belanda. Selain itu, tambah Hidayat, selain Baabullah, Almarhum Sultan Mudaffar Sjah sempat berkeiginan untuk mendorong Sultan Haji Usman Syah menjadi pahlawan nasional. Alasannya, Sultan yang berkuasa sejak 1896-1927 itu, pernah memimpin perlawanan terhadap Belanda yang dimulai dari wilayah-wilayah kekuasannya termasuk di Jailolo, Halmahera Barat.

"Ayah saya (Mudaffar Sjah) sebenarnya maunya Sultan Usman Syah beliau ditangkap memerintahkan (Kapita) Banau untuk membunuh Coentroleur Belanda Agerbeek di Jailolo, karena Belanda tahu beliau dalangnya, lalu ditangkap dan dibuang ke Bandung dari 1914-1929, tapi rekan-rekan yang lain maunya Sultan Baabullah sudah kami ikuti, Alhamdulilah datanya cukup valid sehingga hanya sekali diusul langsung disetujui," ungkap Hidayat.

Hidayat bilang, selain Sultan Baabullah, dirinya juga mendorong Kesultanan Bacan untuk mengusulkan Sultan Bacan Usman Syah sebagi pahlawan nasional karena ikut memimpin pemberontakan terhadap penjajah. "Ada dua Sultan Usman Syah, satu dari Bacan dan satu dari Ternate itu juga dibuang ke Bandung selain itu juga Banau dari Jailolo," katanya.

Hidayat juga bercerita tentang awal mula perjuangan usulan Sultan Baabullah sebagai pahlawan nasional yang  mulai didengungkan oleh Almarhum Sultan Mudaffar Sjah pada 1968 silam. Di masa pemerintahan Sultan Mudaffar juga, nama Baabullah dimasukan dalam struktur pemerintahan Kesultanan Ternate yakni Kapita Baabullah. Kemudian, lanjut Hidayat, pada 1998 dilanjutkan dirinya dengan membentuk organisasi Generasi Muda Sultan Baabullah (Gemusba) yang diketuai langsung Hidayat. 

"Tapi kita terhalang dengan konflik horizontal, kemudian Ayahanda Sultan Mudaffar sampaikan ke kami kitorang (kita) anak cucu ahli waris tidak boleh memperjuangkan kitorang (kita) punya keturunan sendiri itu hak rakyat untuk memperjuangkan (gelar pahlawan) kemudian ayahanda juga berpesan mengusung Sultan Babullah tidak boleh tidak tapi juga harus menerapkan nilai-nilai yang diterapkan oleh Sultan Babullah yang tidak pendendam dan menghargai HAM," pungkasnya. (ikh)


-

Peliput : Tim

Editor   : Ikram