Margarito Nilai Peluang MHB-GAS Tipis


Margarito Kamis. (istimewa)

Ternate, malutpost.id -- Rencana pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ternate Muhammad Hasan Bay dan Asghar Saleh (MHB-GAS) menggunakan Margarito Kamis sebagai tenaga ahli bakal sulit terkabul.

Margarito sendiri mengaku sudah mempelajari gugatan MHB-GAS terkait perselisihan hasil pemilihan (PHP) Pilkada Ternate yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa waktu lalu. Hal tersebut ia sampaikan kepada Malut Post via ponsel, kemarin (28/1).

Pakar Hukum Tata Negara ini menilai tidak ada yang krusial dalam permohonan gugatan MHB-GAS terhadap KPU Kota Ternate. Meski begitu, ia menghormati niat baik MHB-GAS untuk menggunakannya sebagai ahli.

Margarito pun menguraikan beberapa hal yang menjadi dasar argumennya tersebut. Pertama, dalam gugatan MHB-GAS yang menyatakan ada pemilih di bawah umur, pemilih lebih, dan lain sebagainya, menurutnya jika diakumulasikan hanya di angka 180 pemilih.

Sementara, selisih suara antara TULUS dengan MHB-GAS adalah 1.715 suara berdasarkan pleno penetapan KPU Kota Ternate. Kedua, masalah-masalah yang ada dalam gugatan MHB-GAS rata-rata terjadi di akhir tahapan Pilkada atau hari pencoblosan. Karena terjadi di penghujung, maka menurut Margarito tidak dapat dikualifisir sebagai sesuatu yang menunjukkan adanya unprofessional dari KPU.

"Alhasil, sampai pada batas tertentu, kalaupun itu dianggap sebagai kekeliruan, maka itu bukanlah kekeliruan yang ekstrem. Karena bukan kekeliruan yang ekstrem maka tidak cukup alasan untuk mengubah keadaan hukum yang ada saat ini, bahwa kalah ya kalah, menang ya memang," ujarnya.

Ketiga, menurut Margarito, telah menjadi pengetahuan umum bahwa ada kedekatan istimewa antara Pemerintah Kota Ternate (Pemkot) dengan MHB-GAS. Bahkan ia sempat mendengar ada salah satu lembaga survei yang menemukan kenyataan bahwa terdapat pengaruh signifikan atau relasi antara Pemkot dengan MHB-GAS.

"Sehingga, dari segi itu semua kalau dikristalkan maka cukup untuk menyatakan bahwa tidak ada yang krusial dalam kasus ini," bebernya.

Ia melanjutkan, dari fakta yang tersaji di dalam permohonan MHB-GAS, serta berdasarkan pengetahuan profesionalitasnya sebagai pakar hukum tata negara, dapat ia nyatakan bahwa kemungkinan mengubah keadaan sangat kecil. Meski begitu, ia tidak ingin mendahului keputusan MK.

"Saya tidak akan mendahului Mahkamah Konstitusi, tapi fakta yang tersaji di dalam permohonan dapat memberikan saya keyakinan secara profesional, untuk menyatakan bahwa secara keseluruhan terlalu sulit mengubah keadaan," ungkapnya.

Karena itu, menurut dia, Paslon M. Tauhid Soleman-Jasri Usman (TULUS) sebagai calon pihak terkait dalam perkara ini tidak perlu menggunakan ahli. Ditanya apakah ia bersedia jika sewaktu-waktu TULUS membutuhkannya untuk menjadi tenaga ahli dalam perkara ini, ia pun tak menolak.

Meskipun menurutnya untuk saat ini TULUS tidak perlu menggunakan ahli oleh karena tidak ada yang krusial dari segi hukum terhadap permohonan gugatan MHB-GAS.

"Saya rasa demi Ternate saya mengiyakan. Dan di atas semua itu, saya tidak menemukan hal yang menjadi cukup alasan untuk menyatakan ada ketidakberesan yang fatal di dalam Pilkada Kota Ternate," akunya.

Margarito bahkan menilai KPU Kota Ternate sudah cukup profesional dalam bekerja. Hal itu berdasarkan pertimbangannya terhadap data atau kenyataan-kenyataan yang telah ia pelajari dalam gugatan MHB-GAS."Saya dapat mengatakan begitu, karena data yang tersaji dalam gugatan MHB-GAS menyulitkan saya untuk menemukan argumen yang rasional untuk mengiyakannya," pungkasnya.

Adapun beredar foto di media sosial antara dirinya bersama dengan Paslon TULUS beberapa hari kemarin pun tak dielak. "Kalau saya bertemu dengan mereka? Iya, karena kita sama-sama dari Ternate. Dia (M Tauhid Soleman, red) pernah menjadi Camat di Ternate Selatan, dan dia minta bertemu dengan saya melalui sahabat saya, maka saya bilang ayo, karena sama-sama orang Ternate," tuturnya mengisahkan. (mg-01/jfr)



-

Peliput : Alfandi Bambang

Editor   : Jufri Duwila