Postingan Vulgar dan Meresahkan, Admin Status Ternate Terancam Dipolisikan

Muhammad Konoras. (istimewa)

Ternate, malutpost.id -- Penyalahgunaan informasi di media sosial (medsos) kerap membuat resah. Apalagi jika narasi yang diposting sangat vulgar dan negatif. Tidak sedikit postingan negatif dari oknum pemilik akun merugikan banyak pihak. Seperti yang dilakukan akun Status Ternate. Pengelola Status Ternate dikenal kerap mencari sensasi dengan narasi-narasi vulgarnya.

Seperti postingannya baru-baru ini terkait video porno yang diduga melibatkan pasangan remaja di Kota Ternate. Dalam postingannya, Status Ternate secara vulgar menulis dan memposting secara jelas, inisal serta asal sekolah kedua pasangan remaja tersebut. Padahal diketahui, tindakan yang dilakukan kedua pasangan remaja itu tidak ada kaitannya dengan sekolah secara kelembagaan karena tidak menggunakan seragam bahkan diluar jam sekolah alias libur. Postingan itu disebarluaskan.

Hal ini berdampak buruk terhadap psikologis pasangan remaja beserta pihak keluarga. Postingan akun yang berkali-kali dilaporkan pun banjir hujatan dari para netizen. Para netizen menganggap, postingan Status Ternate sudah mencoreng nama baik sekolah.

Terkait itu, Mustamin Lila selaku Kepsek SMA 1 Ternate berjanji, akan membawa masalah ini ke ranah hukum. Sebab menurutnya, aksi mesum yang diduga dilakukan kedua oknum remaja itu diluar jam sekolah, bahkan tidak menggunakan seragam. Kata Mustamin, itu perbuatan oknum, bukan sekolah secara kelembagaan.

Menurut Mustamin, postingan tersebut telah mencoreng nama baik sekolah. Karena itu, pihaknya bakal berkoordinasi dengan Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) PGRI Provinsi Maluku, guna membahas postingan Status Ternate yang dinilainya vulgar. "Saya secara pribadi akan berkoordinasi dengan PGRI dan LKBH PGRI Malut soal postingan tersebut,"kata Mustamin ketika ditemui diruang kerjanya Selasa (18/5/2021).

Terpisah, Muhammad Konoras selaku Ketua LKBH PGRI Provinsi Maluku Utara ketika dimintai tanggapan, mengutuk keras postingan Status Ternate. Pengacara senior asal Malut ini mengatakan, narasi dalam unggahannya itu turut mencatut nama sekolah dan tidak memperdulikan psikologis kedua pasangan remaja, serta masuk dalam kategori kejahatan pidana.

"Ini adalah sebuah kejahatan ITE, karena dengan sengaja menyebarluaskan sesuatu yang bukan haknya bahkan tidak ada kaitannya sama sekali,"ungkapnya.

Menurut Konoras, postingan Status Ternate sudah mencoreng nama baik sekolah. "Mereka (Kedua pasangan remaja) itu tidak menggunakan seragam. Lagian tindakan yang dilakukan diluar jam sekolah, kenapa nama sekolah ikut dibawa-bawa. Media saja kalau menulis berita dengan kasus seperti ini, tidak seperti itu jadi postingan Status Ternate sudah melanggar kode etik,"tegasnya.

Untu itu, Konoras mendesak pihak sekolah agar segera melaporkan admin Status Ternate ke tim Cyber Crime di Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Malut agar diproses secara hukum. "Saya sebagai Ketua LKBH PGRI Provinsi Maluku Utara mendesak Kepala Sekolah segera melakukan tindakan hukum, yakni melapor ke Ditreskrimsus Polda,"desaknya.

Selain pihak sekolah, Konoras juga menyarankan ke pihak keluarga yang merasa dirugikan dengan postingan Status Ternate supaya ikut melapor. "Saya selaku Ketua LKBH PGRI Malut juga bersedia membantu keluarga korban untuk melakukan advokasi terhadap kasus ini,"janjinya tegas.

Disamping aspek hukum, postingan Status Ternate jika dilihat dari sisi ilmu komunikasi juga dinilai bertentangan. Helmi Alhadar, salah satu dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) mengatakan, postingan Status Ternate sangat disayangkan karena tidak menunjukkan perilaku beradab dari pengelola admin. "Semestinya, hal-hal seperti ini tidak sepatutnya diposting dan disebarluaskan lagi ke medsos,"ungkapnya.

Dia bilang, unggahan tersebut dapat menimbulkan keresahan ditengah masyarakat, apalagi bahasa yang ditulis sangat vulgar dan secara terang-terangan, mencatut identitas sekolah serta inisial. "Sudah sepantasnya admin akun ini dilacak untuk diberi sanksi hukum sebagaimana mestinya,"saran Helmi.

Lebih lanjut, kata Helmi, postingan Status Ternate secara tidak langsung, berdampak pada mental serta psikologis oknum remaja tersebut. "Mereka masih tergolong anak-anak yang masih perlu untuk dibina,"ungkapnya. Lebih jauh lagi, Helmi menjelaskan, pengelola admin akun Status Ternate tidak mempertimbangkan kondisi pasangan remaja beserta pihak keluarga.(mg-03/aji)


_

Peliput : Andi Naser

Editor   : Fitrah A. Kadir