Curahan Hati Istri Korban KM Karya Indah, Berharap Dijenguk Bupati Fifian

Indrawati, istri Dedi Hidayat, korban hilang saat KM Karya Indah terbakar. (istimewa)

Sanana,malutpost.id -- Indrawati tak bisa membendung air matanya begitu tahu pemerintah melalui Tim SAR gabungan Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara menutup operasi pencarian pada, Jumat (4/6/2021).

Operasi selama 7 hari itu untuk mencari suaminya, Dedi Hidayat, satu-satunya korban hilang saat KM Karya Indah terbakar di perairan Lifmatola, Pulau Mangoli, Sabtu 26 Mei 2021 pekan kemarin. Kapal yang lepas sauh di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate itu membawa 282 penumpang termasuk anak buah kapal dan nahkoda. 

Meski begitu, Indrawati masih berharap sang suami bisa kembali berkumpul bersama keluarga kecilnya. Di tengah harapannya tak pasti, Indrawati juga menitip pesan untuk Bupati Kepulauan Sula Fifian Adeningsi Mus yang baru dilantik, Jumat (4/6/2021). 

"Saya berharap Ibu Bupati bisa melihat saya, karena sejak kejadian ini pemerintah seperti tidak peduli dengan saya,"kata Indrawati. 

Menurutnya, dirinya bersama tiga putrinya telah kehilangan orang yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga. Terlebih, mereka tidak memiliki keluarga di Kepulauan Sula sangat membutuhkan dukungan dari semua pihak. 

Dia bercerita tentang perjalanannya bersama sang suami hingga bisa sampai di Kepulauan Sula. Saat itu, ia bersama suami dan beberapa temannya dibawa langsung dari Jawa oleh mantan Bupati Kepsul Ahmad Hidayat Mus untuk menjadi guru kontrak di Sula tahun 2005 dengan jaminan diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) setelah 2 tahun mengabdi. "Tapi sampai saya dan suami saya belum juga menjadi PNS sedangkan teman saya yang lain sudah menjadi PNS,"katanya. 

Mereka diberikan fasilitas berupa rumah guru dan kesejahteraan. Namun, setelah AHM tak lagi menjadi bupati, nasibnya bersama sang suami makin tak menentu. Bahkan untuk tinggal, saat ini mereka tinggal di rumah dinas Kodim 1510 Sanana. "Dulu saya dan suami masih diperhatikan, tapi sekarang kita tidak tahu nasib kita,"ujarnya. 

Nasibnya sebagai pegawai makin tak jelas, guru di SMK Negeri 1 Sanana itu pun menempuh berbagai cara termasuk menyurat ke Presiden Joko Widodo, dan Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba. Sayang, upayanya tidak mendapat respon baik dari pemerintah. 

"Kami ada 3 orang yang belum jadi pegawai, dan upah kami juga sudah tidak seperti dulu lagi,"ungkapnya.  

Dia hanya ingin pemerintah menaruh simpati dengan datang melihatnya. Baginya, saat ini mereka membutuhkan dukungan. "Saya tidak butuh uang saya berharap Bupati Sula bisa datang lihat kami sebagai bentuk kepedulian bahwa saya juga warga Sula yang sudah mengabdi belasan tahun di Sula.

"Meski kami bukan berdarah Sula namun kami saat ini adalah penduduk Sula, sehingga harusnya Pemda Sula beri perhatian. Bukan masalah rupiah tetapi sprit kepada saya agar bisa melewati ini semua dengan baik,"tandasnya. (mg-01)


_

Peliput : Hamdi Embisa

Editor   : Ikram Salim