Oknum Polisi di Halmahera Barat Diduga Setubuhi Anak di Bawah Umur di Polsek

Ilustrasi. (istimewa)

Ternate, malutpost.id -- Sebagai aparat penegak hukum, seorang polisi harusnya melindungi dan mengayomi warga demi menciptakan rasa aman dan nyaman. Namun yang dilakukan Briptu II sungguh di luar batas.

Bagaimana tidak, Briptu II yang bertugas di Polsek Jailolo Selatan yang berada di Desa Sidangoli Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), Provinsi Maluku Utara ini diduga mencabulai dan persetubuhan terhadap anak di bawah umur. Sebut saja Bunga. Mirisnya, anak gadis yang baru berusia 16 tahun ini diperkosa di dalam Polsek.

Peristiwa pilu itu bermula saat korban bersama rekannya Mawar (bukan nama sebenarnya) baru saja tiba di Sidangoli pada, Sabtu (13/6) akhir pekan lalu. Keduanya dari Bacan Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) menggunakan Feri Saketa. Kerena sudah larut, keduanya lalu bermalam di Sidangoli, tepatnya di penginapan Mari Sayang.

Korban dan rekannya masuk ke penginapan sekitar pukul 01.00 WIT dini hari. Tidak berselang lama, keduanya didatangi oknum polisi. Di situ, keduanya diminta segera ke Polsek tanpa alasan yang jelas. Mereka lalu diangkut menggunakan mobil patroli. Tiba di Polsek, korban dan rekannya lalu dimasukkan ke ruangan berbeda untuk dimintai keterangan.

Mawar diperiksa oleh salah satu oknum polisi yang diketahui kerap disapa Jiks. Sedangkan korban Bunga diperiksa di ruangan Briptu II. Dalam pemeriksaan, keduanya tiba-tiba dicerca dengan pertanyaan seputar aksi pelarian. Namun keduanya menjawab jika kepergian mereka sudah diketahui orang tua masing-masing.

Tak berselang lama, korban memanggil rekannya Mawar agar keluar dari ruang pemeriksaan. Karena sudah larut malam korban dan rekannya lalu beristirahat di Polsek Tidak lama kemudian, Mawar rekan korban menelepon. Tapi karena suaranya dianggap bising sehingga ditegur Briptu II dengan kata-kata kasar dan bernada makian.

Briptu II lalu menyuruh Mawar supaya keluar dari ruangan Polsek jika ingin menelepon. Dipengaruhi rasa takut, Mawar pun memberanikan diri keluar dari ruangan Polsek dan menelepon. Ketika Mawar keluar, lampu di Polsek tiba-tiba padam. Sementara Korban masih berada di dalam ruang Polsek. Sekitar 15 menit kemudian, lampu pun menyala.

Mawar yang selesai menelepon, lalu kembali ke ruangan. Tapi sampai di ruangan tempat rekannya Bunga beristirahat, pintu sudah dalam keadaan terkunci dan lampu dalam ruangan padam. Karena itu, Mawar hanya bisa menunggu di luar ruangan. Tiba-tiba lampu ruangan yang dihuni rekannya Bunga menyala lalu pintu dibuka.

Namun ketika pintu dibuka, Mawar sangat kaget melihat Briptu II keluar dari ruangan sambil membawa hp milik Mawar. Kebetulan hp yang digunakan Mawar untuk menelepon adalah milik rekannya Bunga. Saat masuk ke ruangan, Mawar melihat rekannya Bunga sudah menangis. Di situ, Mawar lalu bertanya. Dalam keadaan menangis, Bunga lalu menceritakan semua yang dialaminya.

Kepada rekannya, Bunga mengaku kalau dirinya dipaksa untuk melayani nafsu bejat sang Briptu. Jika tidak melayani, korban diancam akan disel. Dalam aksinya, Briptu II membanting tubuh korban ke lantai. Mulutnya lalu disekap dan baju korban dilepas. Selanjutnya Briptu II menggahi korban. Usai melakukan aksi bejatnya itu, sperma Briptu II lalu ditumpahkan ke lembar kertas HVS yang ada di ruangan.

Saat korban sedang menceritakan kejadian naas yang baru dialaminya itu, mereka kembali ditegur oleh Briptu II dengan kalimat-kalimat kasar dan lagi-lagi bernada makian. Keduanya bahkan dilempari dengan korek api gas. Karena tidak bisa berbuat banyak lantaran hari semakin gelap, keduanya memilih untuk tetap beristirahat dengan perasaan penuh ketakutan.

Setelah pukul 06.00 WIT pagi. Mawar dan Bunga langsung bergegas keluar dari Polsek dan mencari makanan. Namun keduanya dilarang. Tidak sampai disitu saja. Keduanya juga dijebloskan ke sel tahanan Polsek oleh Briptu II. Setelah pagi, Bunga dan Mawar juga sempat ditanya oleh beberapa anggota karena keduanya mendekam di dalam sel tahanan. Di situ, korban dan rekannya Mawar yang juga sebagai saksi lalu mulai bercerita. Kini keduanya sudah didampingi LSM Daurmala Maluku Utara yang fokus terhadap perlindungan anak dan perempuan.

Direktur Daurmala, Nurdewa Syafar melalui rilis yang dikirim ke Malut Post, mengaku, Mawar dan Bunga sempat diminta untuk membuat pernyataan dengan bukti tumpahan sperma di kertas HVS yang sudah lebih dulu dipegang oknum Provost bernama Radja. Di sini, korban Bunga diminta agar menuntut Briptu II senilai Rp2 juta untuk menutup malu. Mirisnya, uang Rp2 juta yang nantinya dituntut korban, dibagi rata dengan oknum provos tersebut. "Jadi satu juta untuk korban, satu juta lagi diberikan ke pak Radja," tiru Nurdewa usai melakukan sesi wawancara terhadap korban.

Di tegaskan Nurdewa, pihaknya akan melakukan pendampingan hukum terhadap korban serta memulihkan traumatik yang dialaminya. "Kasus ini sudah dilaporkan langsung oleh pihak orang tua pada tanggal 20 Juni 2021,"aku Nurdewa.

Terpisah, Kapolres Halbar, AKBP Indra Andiarta ketika dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut. Bahkan diakui Kapolres, kasus tersebut sudah ditangani Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum). "Untuk kasus tersebut sementara ditangani Krimum dan untuk kode etik langsung ditangani Propam Polda. Itu sesuai degan hasil pemeriksaan dari Polda, baik pidana umum maupun kode etik," tutupnya.(tr-07/aji)


_

Peliput : Aksal Muin

Editor   : Fitrah A. Kadir