Lagi, Oknum Anggota Polisi di Maluku Utara Diduga Setubuhi 2 Anak di Bawah Umur

Ilustrasi. (istimewa)

Ternate, malutpost.id -- Belum usai kasus pemerkosaan anak di bawah umur oleh Briptu Nikmal Idwar, anggota Polsek Jailolo Selatan, kini kasus serupa kembali dilakukan seorang oknum polisi yang bertugas di Polsek Weda, Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara bernama Brigadir AG alias Gani (40 tahun).

Bejatnya, korbannya dua anak sekaligus yang masih di bawah umur. Keduanya diketahui merupakan anak angkat terduga pelaku yang menikah dengan kakak korban. Kasus tersebut telah dilaporkan ke Polres Halmahera Utara oleh korban dan pamannya dengan nomor LP: STPL/99/V/2021/SPKT dan STPL/98/V/2021/SPKT pada 10 Mei 2021 lalu.

Meski sudah dilaporkan, namun kasusnya belum diproses, sehingga korban yang didampingi LSM Daurmala dan Front Suara Korban Kekerasan Seksual (FSKKS) Halut membawa kasusnya ke Polda Maluku Utara. 

Koordinator FSKKS Halut, Yulia Pihang menceritakan, dua korban tersebut masing-masing berusia 15 dan 16 tahun. Korban merupakan adik kandung dan sepupu dari istri terduga pelaku. Mirisnya, untuk melayani nafsu bejatnya, pelaku berulang kali memperkosa korban secara bergantian dan diketahui oleh istrinya, ML sejak 2019 hingga Mei 2021 lalu.

"Sudah dilaporkan ke Polres Halut dan kita yang mendampingi korban,"kata Yulia kepada malutpost.id, Selasa (29/6/2021). 

Kabid Humas Polda Maluku Utara Kombes Pol Adib Rojikan saat dikonfirmasi malutpost.id mengatakan, pihaknya belum menerima laporan kasus tersebut. "Dari narasi (rilis pihak korban) tersebut sama sekali tidak menggunakan sumber kepolisian baik itu Polres Halut, Halteng maupun Tidore. Dan Saya pun di polda belum mengetahui hal tersebut,"kata Adib, Selasa (29/6/2021).

Kronologi Korban Pertama

Korban pertama sebut saja Wahyuni (bukan nama sebenarnya) menceritakan, ia mulai diperkosa oleh oknum aparat penegak hukum itu sejak 2019 atau atau masih berusia 13 tahun. Saat itu, korban diajak berkunjung ke kampung halaman pelaku di Tidore Kepulauan.

Di salah satu kamar kos pelaku, Wahyuni lalu diperkosa. Belum sampai disitu, Wahyuni kembali diajak ke ke rumahnya disaat yang sama dan kembali melampiaskan birahinya. Aksi ketiga kalinya dilakukan di rumahnya pada malam dan dibantu sang istri yang saat itu membawa korban masuk ke kamar. Di sana sudah ada AG sedang menunggu, korban kembali digagahi dihadapan sang istri, ML. Meski korban berulang kali memohon namun, AG tersebut tidak peduli. 

Aksi terakhirnya dilakukan pada Minggu, 2 Mei 2021 di tempat pantai Halmahera Utara. Saat itu korban bersama keluarga berlibur ke pantai. Di lokasi itu, Wahyuni mengaku melihat AG bersama istrinya sempat minum minuman keras jenis cap tikus. Setelahnya, AG bolak-balik mengantar keluarga kembali ke rumah hingga tersisa korban dan istinya. 

Sebelum AG datang, istrinya sempat meminta korban untuk tidur bersama mereka sekembalinya ke rumah. Korban pun menanyakan maksud ML mengajaknya tidur bersama, yang langsung dijawab vulgar oleh kakak kandungnya tersebut bahwa pelaku akan meraba-raba bagian tubuh korban.  

Sekira pukul 19.00 WIT, AG kembali ke lokasi, tapi mereka tidak langsung pulang. Selang beberapa saat, AG lalu mencabuli korban yang dibantu sang istri. Korban sempat melarikan diri, namun pelaku memegang kakinya hingga korban jatuh. Tubuhnya lalu dibalik agar telentang di atas pasir. Gadis belia itu lalu disetubuhi.

Korban 2

Pada Agustus 2020, AG mengajak Wahyuni dan sepupunya Indri (nama samaran) pergi makan ke rumah makan yang ada di kampung sebelah. Keduanya menolak untuk ikut, tapi pelaku merayu dan memaksa. Sekira pukul 01.00 dini hari, mereka pergi menggunakan kendaraan menuju ke kampung yang di tuju, namun di tengah perjalanan ternyata AG memutar arah ke pantai.

Wahyuni sempat bertanya tujuan mereka pergi, tapi AG berkelit dan mengaku hanya sebentar. Dalam perjalanan AG, justru memutar kendaraan ke arah pantai dan mengajak kedua korban turun. Di situ, Wahyuni berpamitan untuk buang air kecil. AG, lalu memanfaatkan kesempatan dengan merayu korban Indri untuk berbuat tak senonoh, namun permintaan itu ditolak Indri.

AG yang naik pitam mendorong korban ke pohon kelapa lalu berusaha melucuti celananya, korban tak kuasa meski berusasha melawan. Aksi AG dilihat Wahyuni, namun bukan berhenti AG malah menarik korban hingga jatuh di dekat Indri yang terbaring di atas tanah.  Meski melawan, namun kedua korban tidak sanggup melawan AG yang bertubuh kekar. Korban pun digilir secara bergantian.  

Setelah aksi bejatnya itu, AG mengantar kedua korban pulang sekira pukul 05.00 pagi, namun hanya sampai di ujung kampung dan membiarkan korban jalan kaki. Karena trauma dan tinggal serumah dengan AG, Indri memilih kabur ke Halmahera Timur, sementara Wahyuni memilih tinggal. 

Selain disetubuhi, Wahyuni juga sering dianiaya oleh sang kakak, ML. Istri dari AG itu mengaku cemburu terhadap Wahyuni lalu menganiayanya. Amarahnya terselut saat melihat korban suaminya membeli buah. ML yang kalap mata langsung menganiaya korban di rumahnya. 

Penganiayaan ini pun mengungkap semua bangkai dirinya bersama sang suami. Korban yang tak tahan lagi akhirnya menceritakan peristiwa yang menimpahnya bersama Indri. Keluarga korban lantas memintaIndri kembali ke Halut, untuk memproses AG. Polisi kemudian memeriksa korban bersama keluargnya, hanya saja belum ada kejelasan kasusnya hingga saat ini, apalagi AG juga masih bebas berkeliaran. Keluarga korban didampingi salah satu lembaga perlindungan perempuan dan anak rencananya membawa kasus tersebut ke Polda Malut. (tr-07/mg-06)


_

Peliput : Aksal/Muhlis

Editor   : Ikram Salim