Aksi Relawan Gravity: Selamatkan Lingkungan dari Sampah Terkecil

Ilustrasi sampah rokok. 

Ternate, malutpost.id -- Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok tertinggi ketiga di dunia, di bawah China dan India. Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018, prevelensi perokok di atas usia 15 tahun mencapai 33,8 persen dan penduduk usia 10-18 tahun meningkat dari 7,2 persen di tahun 2013 menjadi 9,1 persen di tahun 2018.

Di lansir dari Tirto.id, peneliti Jenna Jamceck dari University of Georgia menyatakan, Indonesia menjadi negara kedua penyumbang sampah di laut setelah Tiongkok.

Dari sekitar 187,2 juta ton sampah, 52 juta di antaranya adalah puntung rokok. Memang puntung rokok selama ini dianggap bukan sampah. Meski kecil, puntung rokok berbahaya bagi lingkungan.

Bahayanya terbuat dari sejenis kapas plastik bernama selulosa asetat, yang butuh satu sampai lima tahun untuk terutai, atau bahkan bisa sampai 10 tahun jika sudah terkena air laut. Jangan Indonesia, seluruh dunia setiap tahun menyumbangkan sekitar 4,5 triliun sampah puntung rokok.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, setidaknya dua pertiga puntung rokok dibuang secara sembarangan dan banyak ditemukan berserakan di trotoar atau selokan, dan akhirnya berujung di lautan.

Berangkat dari situ, relawan Gravity Study Tour (GST) bersama PT GunaOlahLimbah melakukan aksi nyata penyelamatan lingkungan dari sampah tersebut. Aksi peduli lingkungan ini melalui galang donasi puntung rokok. Siapa saja, bisa menyumbangkan sampah puntung rokok.

"Donasi pengumpulan puntung rokok nanti akan dijadikan minyak," kata Koordinator GST Ir.Irawan duwila ST, M.Si IAP.

Dia menjelaskan, kegiatan tersebut diinisiasi oleh PT GunaOlahLimbah yang merupakan perusahaan teknologi pengolahan limbah berbasis riset. Dengan prinsip “Menggabungkan Teknologi Terkini Barat dengan Kearifan Timur”. Pihaknya membuka posko donasi puntung rokok berlokasi di wakop Block Gravity, Desa Fagudu, Sanana.

Irawan Duwila. (istimewa)

Irawan menjelaskan, belakangan isu sampah plastik ramai diperbincangkan. Masyarakat mulai beralih bergaya hidup ramah lingkungan termasuk di Kabupaten Kepulauan Sula. Hanya saja, lanjut Irawan, kesadaran akan bahaya puntung rokok yang termasuk dalam sampah plastik susah terurai masih minim.

"Puntung rokok merupakan sisa dari rokok yang sudah dibakar berupa filter plastik yang terbuat dari selulosa asesat. Lembaga demografi UI menyebutkan konsumsi rokok di Indonesia mencapai 302 milyar batang per tahun, ini sangat bahaya bagi pelestarian lingkungan," papar pemuda asal Desa Fagudu, Kepulauan Sula itu.

Irawan lantas menganalogikan, jika 80 persen dari puntung rokok dibuang sembarangan, maka akan menghasilkan minimal 660 juta puntung rokok mencemari lingkungan. "Kita disuport oleh media partner, kami merasa ini hanya hal kecil yang kita bisa buat untuk melindungi lingkungan kita, dengan membuka posko donasi pengumpulan puntung rokok di Block Gravity akan menjadi brand kampanye ke masyarakat agar lebih memperhatikan lingkungan dari hal kecil yang berdampak besar bagi lingkungan kita," ujarnya.

Salah satu relawan GST, Fitri mengungkapkan, posko donasi akan dibuka pada 10 Desember hingga 31 Januari 2021. Siapa saja, bisa mendonasikan sampah tersebut, baik masyarakat, komunitas, maupun pribadi. ”Puntung rokok dapat dikumpul di Block Gravity Caffe sebagai basecamp relawan," pungkasnya. (ikh)



-

Peliput : Tim

Editor   : Ikram