Ketika Bupati dan Wali Kota Mojokerto Bisa Berdiskusi saat Sekamar

Kabupaten dan Kota dalam Kendali Kakak-Adik


PEREMPUAN PEMIMPIN: Dari kiri, Bupati Mojokerto Ikfina Famawati, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari, dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri pernikahan adik Wabup Mojokerto Muhammad Albarra di Pacet, Mojokerto (5/3). (DOK. PEMKOT MOJOKERTO)

Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati mengaku belajar banyak dari sang adik yang sudah sekitar 2,5 tahun memimpin Kota Mojokerto, Ika Puspitasari. Koordinasi dan kolaborasi lebih mudah dilakukan dan itu sudah terbukti di hari kedua sang kakak menjabat.

RIZAL AMRULLOH,

Mojokerto. 

TIAP ada undangan ke acara yang sama, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari dengan segera mengontak Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati. Misalnya, ketika keduanya diundang Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghadiri peringatan Isra Mikraj belum lama ini. ”Mbak, kita budal jam piro (Mbak, kita berangkat jam berapa),” kata Ning Ita, sapaan akrab Ika Puspitasari, menceritakan kontaknya ke Ikfina. Dalam sejumlah kesempatan, Ning Ita biasanya akan mengajak Ikfina satu mobil dengannya.

Bahkan, ketika menghadiri Rapat Koordinasi Program Pencegahan Korupsi pada Pemerintah Daerah di Wilayah Kerja Bakorwil Jawa Timur II di Bojonegoro bulan lalu (10/3), keduanya memilih satu kamar di tempat transit. ”Pada momen-momen seperti itu, kami bisa berdiskusi lebih dekat. Karena saya dan beliau (Bupati Ikfina) bisa satu mobil, makan bersama, dan satu kamar juga berdua,” imbuhnya. Kalau keduanya bisa sedekat itu, bukan semata karena keduanya sama-sama perempuan atau karena wilayah yang mereka pimpin berimpitan.

Tapi, karena keduanya memang kakak-adik. Ikfina istri Mustofa Kamal Pasa, mantan bupati Mojokerto yang juga kakak kandung Ita. Tapi, Ita jauh lebih dulu menduduki posisinya yang sekarang. Sudah sekitar 2,5 tahun dia memimpin Kota Mojokerto dengan didampingi Wakil Wali Kota A. Rizal Zakaria. Ikfina baru 26 Februari lalu dilantik sebagai bupati Mojokerto, berdampingan dengan Wakil Bupati Muhammad Albarra. Dalam keseharian Ita biasa memanggil Ikfina dengan ”Mbak Ina”, sedangkan Ikfina memanggil adik iparnya itu dengan ”Dik Ita”. Relasi seperti ”Mbak Ina dan Dik Ita” itu tergolong langka dalam sejarah pemerintahan Indonesia.

Di periode sekarang ini, relasi serupa bisa ditemukan di Kabupaten dan Kota Pasuruan, yang juga berada di Jawa Timur, yang dipimpin kakak-adik pula. Bagi Ita, bertugas berdampingan dengan sang kakak ipar yang memimpin kabupaten tetangga sangat memudahkan koordinasi dan kolaborasi. Itu terbukti di hari kedua Ikfina berdinas sebagai bupati Mojokerto. Dua perempuan pemimpin tersebut melakukan penandatanganan berita acara saling serah terima hibah barang milik daerah antara Pemkab dan Pemkot Mojokerto. Agenda yang difasilitasi Korsupgah (Koordinasi dan Supervisi Pencegahan Korupsi) Komisi Pemberantasan Korupsi itu pun menjadi gerbang awal sinergi yang terjalin antar kedua kepala daerah. Ning Ita menyebutkan, masih ada sejumlah prioritas di sektor lain yang juga akan dikerjasamakan dengan Pemkab Mojokerto.

Di antaranya, yang kini tengah berproses adalah penataan tata ruang. ”Karena ada sebagian daerah kita (Kota Mojokerto, Red) yang justru di peta RTRW (rencana tata ruang wilayah) masuk di wilayah Kabupaten Mojokerto. Begitu pun sebaliknya,” ujarnya. Karena itu, dua daerah bertetangga tersebut bersepakat melakukan review untuk menentukan titik-titik koordinat batas wilayah Kota dan Kabupaten Mojokerto. ”Tata ruang ini harus segera kami tertibkan. Karena ke depan sangat berpengaruh terhadap perizinan,” terangnya.

Tapi, sedekat apa pun, tentu tak bisa tiap hari kakak-adik itu bisa bertemu secara fisik. Sebab, keduanya tentu terikat padatnya agenda pemerintahan. Karena itu, selama bulan pertama Ikfina memimpin Kabupaten Mojokero, Ning Ita mengaku hanya beberapa kali bertatap muka secara langsung. Kendati demikian, keduanya masih menyempatkan waktu untuk berkomunikasi melalui sambungan telepon. ”Saya menyadari di awal-awal begini beliau (Bupati Ikfina) masih butuh konsentrasi dan effort yang cukup besar,” papar Ita.

Menjalin kontak dengan kakak sendiri, bagi Ita, juga lebih cair. ”Artinya, ketika satu keluarga, akan semakin lebih mudah berkoordinasi dari sekadar hubungan pertemanan dengan kepala-kepala daerah yang lain,” katanya. Karena itu, tiap ada kesempatan menghadiri acara yang sama selalu dimanfaatkan keduanya.

Misalnya, saat menghadiri pernikahan putri pengasuh Pesantren Amanatul Ummah KH Asep Saifuddin Chalim yang juga adik Wakil Bupati Mojokerto Muhammad Albarra di Pacet, Kabupaten Mojokerto (5/3). Ikfina menyatakan, yang menjadi perhatian dan prioritas utama di masa kepemimpinannya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan infrastruktur. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan sinergi dengan pemerintah daerah di sekitarnya.

Khususnya dengan tetangga terdekat, yakni Pemkot Mojokerto. Untuk itu, Ikfina mengaku banyak menimba ilmu dan pengalaman kepada adik iparnya yang sudah lebih dari 2,5 tahun memimpin Kota Mojokerto. ”Saya masih baru sehingga harus banyak belajar dengan Ning Ita terkait dengan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada masyarakat,” katanya. Dan, relasi kakak-adik memudahkan dia untuk belajar kapan saja dari sang adik. Di acara yang mereka hadiri berdua, saat semobil di perjalanan, ketika beristirahat bersama saat transit, atau juga di pertemuan-pertemuan keluarga.(jpc/rul)