Pembuat Captikus ‘Rasa Babi’ Diburu

AKP NAIM ISHAK


LABUHA – Kepolisian Halmahera Selatan hingga kini masih memburu pelaku pembuatan minuman keras jenis captikus yang diduga menggunakan organ tubuh babi dan yakis Bacan dalam campurannya. Pembuatan miras secara tradisional masih dilakukan beberapa warga di Pulau Bacan, Halsel. Namun dugaan dicampurkannya organ tubuh hewan dalam pembuatannya baru ditemukan polisi dalam razia Jumat (6/12) lalu.

Kabag Ops Polres Halsel AKP Naim Ishak yang dikonfirmasi mengaku pihaknya terus melakukan razia captikus di Halsel dengan melibatkan Polsek-Polsek. Tiap kali menemukan rumah pembuatan captikus yang biasanya terletak di hutan, polisi langsung menghancurkan fasilitas penyulingannya. Saat ini, tim Reskrim juga telah diturunkan untuk memburu para pelaku yang sempat lolos sebelumnya. "Jika pelaku produksi captikus di wilayah Bacan sudah ditangkap akan kami sampaikan," tuturnya, Minggu (8/12).

Dia menambahkan, polisi berharap ada efek jera dengan tertangkapnya pelaku nanti. “Jadi kami turunkan tim memburu pelaku produksi captikus untuk ditangkap dan diberikan efek jera yang setimpal,” tegas mantan Kasat Reskrim Polres Haltim tersebut.
Akhir pecan lalu, polisi menggerebek rumah-rumah pembuatan captikus di Desa Panamboang, Tomori dan Hidayat, Kecamatan Bacan. Di dalam fasilitas penyulingan captikus ditemukan tulang, taring dan rahang babi, serta tangan, kaki, kulit, dan kepala yakis alias yaki (Macaca nigra).

Sementara itu, pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam mengaku tidak menemukan adanya indikasi perburuan yaki yang masif. Kepala Resort Konservasi Wilayah Bacan-Obi, Arga Christyan menyatakan, masyarakat lokal Bacan diketahui tidak ada yang mengkonsumsi yaki. “Hal ini diperkuat cerita rakyat tentang titisan bala tentara Sultan Bacan di masa lampau yang menjelma menjadi yaki ini. Dengan ini memperkuat agar keberadaan yaki bisa lestari di Pulau Bacan,” tuturnya kepada Malut Post.

Data terakhir BKSDA terkait populasi yaki di Pulau Bacan adalah sebanyak 400 ribuan (2012). Arga bilang, kasus penangkapan yaki, kura-kura air tawar dan burung paruh bengkok di sekitar Desa Yaba beberapa waktu lalu oleh Polairud merupakan penyelundupan dan perdagangan ke Filipina. “Memang hingga saat ini belum ada modus penangkapan yaki untuk dijadikan konsumsi. Hanya di wilayah Sulawesi Utara organ tubuh yaki dikonsumsi. Hal ini yang menyebabkan yaki menjadi satwa prioritas di Sulawesi Utara karena populasinya menurun drastis akibat perburuan untuk konsumsi,” pungkasnya.(sam/kai)