Oknum Pegawai Lapas Simpan Sabu di Rumdis

DIBEKUK: RS alias Ical (ketiga dari kanan) saat diamankan polisi atas dugaan kepemilikan sabu POLRES HALUT FOR MALUT POST

TOBELO – Satuan Reserse Narkoba Kepolisian Resort Halmahera Utara terus membuat terobosan membasmi peredaran Narkoba. Setelah tiga tersangka diamankan belum lama ini, kini satu terduga tersangka menyusul. Ia adalah RS alias Ical (34), oknum pegawai pada Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tobelo.

Informasi yang dihimpun Malut Post, Ical ditangkap tim Operasional Satresnarkoba Polres Rabu (19/2) sekira pukul 21.00 WIT. Ironisnya, ia diduga menyimpan narkotika jenis sabu di rumah dinas (rumdis) Lapas Tobelo di Desa Gorua Selatan, Kecamatan Tobelo. Di rumdis itu pula Ical dicokok polisi.

Dalam penggeledahan yang dilakukan polisi, ditemukan barang bukti berupa bubuk kristal diduga sabu seberat 0,37 gram. Polisi juga mengamankan satu ponsel Vivo sebagai barang bukti.

Kasat Narkoba Pores Halut Ipda Aktuin Moniharapon yang dikonfirmasi membenarkan kabar tersebut. Aktuin bilang, pengungkapan itu dilakukan setelah pihaknya mendapat informasi bahwa terduga tersangka menyimpan, memiliki dan menguasai narkotika jenis sabu-sabu. "Jadi setelah mendapatkan info tersebut, anggota langsung melakukan penyelidikan untuk mencari tahu keberadaan orang tersebut," kata dia.

Dalam proses penyelidikan, menurut Aktuin, pihaknya kemudian mendapati terduga tersangka di dalam rumdisnya. "Bersangkutan pada saat itu sedang berada di dalam rumah," ujarnya.

Petugas langsung menunjukkan surat perintah tugas dan melakukan penggeledahan. "Petugas menemukan barang bukti yang diduga narkotika jenis shabu-shabu sebanyak satu sachet yang disembunyikan yang bersangkutan di atas ventilasi kamar mandi rumahnya," terang Aktuin.

Ical pun digelandang ke kantor polisi. Ia juga dites urine untuk pemeriksaan lanjutan. “Kita sementara melakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan," sambungnya.

Terduga tersangka disangkakan Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narktika. "Ancaman pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 12 tahun," tegas Aktuin.

Terpisah, Kepala Lapas Kelas IIB Tobelo Rizal Effendi menegaskan sanksi terhadap pegawainya tersebut adalah dipecat. Hanya saja, Lapas menunggu turunnya keputusan hukum tetap. Sebab oknum pegawai tersebut saat ini masih dalam status praduga tak bersalah. "Kita akan usulkan ke kantor wilayah (untuk dipecat), tapi ini masih praduga tak bersalah sebelum ada kekuatan hukum tetap," tegasnya.

Lapas juga berkomitmen terus melakukan upaya pemberantasan narkoba, baik di internal pegawai Lapas maupun narapidana dan tahanan. “Bahkan kami segera melakukan tes urine terhadap pegawai yang bekerja sama dengan BNNK,” tandas Rizal.(cr-04/kai)