Gugat Kebijakan Pemdes, Ratusan Warga Popilo Seruduk Kantor Desa

Ratusan warga saat menggelar aksi di depan kantor desa Popilo. (FOTO: RAMLAN HARUN/MALUTPOST.ID)

Tobelo, malutpost.id - Ratusan warga Desa  Popilo, Kecamatan Tobelo Utara, Kabupaten Halmahera Utara (Halut),  menggelar aksi di kantor desa Rabu (28/5).  Aksi ini sebagai bentuk kekesalan warga atas dugaan penyelewengan dana desa oleh aparat desa.

Warga yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Popilo itu berorasi secara bergantian secara membaca spanduk yang mengkritik pemdes.

Korlap aksi,  Ajustal Hi. Abang mengatakan, kedatangan mereka untuk mempertanyakan kebijakan Pemdes, pemotongan anggaran Bumdes, koperasi Bumdes dengan nasabah hanya dari keluarga Kades dan aparat desa serta anggaran COVID-19 yang tidak ada transparan.

"Anggaran Bumdes itu diploting dalam APBDes Rp 80 juta. Tapi, berubah jadi Rp 60 juta namun dari data yang kami kantongi hanya Rp 40 juta,"ungkap Ajustal.

Kades Popilo, Anwar Djana  mengatakan,  sebelumnya Pemdes bersama mahasiswa telah menggelar pertemuan dan telah membuat kesepakatan.

"Sudah sepakati lima poin dalam pertemuan tersebut. Tapi,  hari ini tiba-tiba ada gerakan unjuk rasa,”kata Anwar.

Menurutnya, tuntutan Aliansi Masyarakat Popilo tidak mendasar. Sebab, setiap kali anggaran dicairkan, selalu dilakukan pertemuan dengan masyarakat.

“Setiap anggaran cair, kita lakukan pertemuan di kantor desa, dan diumumkan di Mesjid. Terus dari sisi mana kita dituduhkan tidak transparan mengenai DD dan ADD,” ucapnya.

Untuk anggaran Bumdes, lanjut Anwar, awalnya dialokasikan Rp 80 juta. Tapi, ada perubahan menjadi Rp 60 Juta. Anggaran itu kata Anwar, ia pinjam Rp 20 Juta untuk membangun pagar desa.

“Dana Bumdes tidak bermasalah, hanya saya lakukan pinjaman, tapi sebagian masyarakat tidak setuju, sehingga uang Rp 20 juta, digunakan untuk keperluan kantor desa,” terangnya.

Untuk dana COVID-19, kata Anwar, dianggarkan Rp100 juta per desa dan telah terpakai habis, untuk bantuan sembako kepada masyarakat dan kebutuhan penanganan covid.

“Anggaran sudah terpakai habis, tetapi semua itu masih hutang. Kita menunggu pencairan tahap dua, lalu dilakukan pelunasan hutang,” pungkasnya. (cr-04)

 

-

Peliput : Ramlan Harun

Editor  : Ikram Salim