Warga Kao Barat Minta Dikunjungi Wamen PUPR


BENCANA: Banjir bandang di Kecamatan Kao Barat Halmahera Utara beberapa waktu lalu.

TOBELO – Warga enam desa di Kecamatan Kao Barat Halmahera Utara (Halut) minta dikunjungi Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Jhon Wempi Wetipo. Ini karena banjir terparah, Sabtu (16/1) lalu itu terjadi di enam desa. Masing-masing  Desa Pitago, Bailengit, Soamaetek, Parseba, Tuguis dan Dusun Mekar Sari.”Butuh keseriusan pemerintah untuk mengatasi bencana yang setiap tahun melanda kami,"kata Marsel salah satu warga Kao Barat saat menghubungi Malut Post, Kamis (28/1).        

Marsel mengatakan banjir yang terjadi di Kao Barat, lebih parah dibanding yang terjadi di kecamatan lainya."Sungai meluap dan merendam rumah penduduk dengan ketinggian air 1,5 meter. Kami butuh solusi agar keluar dari musibah yang setiap tahun melanda kami,”ungkapnya. Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Abner Manery yang dikonfirmasi mengatakan dari 7 kecamatan yang dilanda banjir, Kao Barat paling  parah. Hanya saja saat bencana banjir terjadi, warga tidak langsung keluar dari kampung sehingga tidak viral seperti di kecamatan lain.                      

Bencana Kao Barat ini membuat pusing BPBD, karena sejak menjabat Kepala BPBD 4 tahun terakhir, mereka tidak mau mendengar apa yang diarahkan pemerintah. Meski begitu, beberapa tahun lalu pihaknya sudah menormalisasi kali tersebut kurang lebih 2,5 kilometer, tapi masih saja banjir meluap hingga merendam sebagian besar rumah desa."Sebenarnya normalisasi yang dibuat meski baru 2,5 kilometer, tetapi sudah sedikit membantu. Banjir beberapa waktu lalu lebih besar dibanding tahun sebelumnya.

Biasanya banjir di Kao Barat tahun-tahun kemarin ketinggian hanya sampai lutut orang dewasa. Tapi banjir baru-baru debit air sampai 1,5 meter. Ini yang bikin bingung,"ucap Abner.  Sementara wilayah Galela Barat, khsususnya Desa Roko, paling parah terdampak. Yakni 45 kepala keluarga karena rumah mereka sangat berdekatan dengan tebing yang sangat berpotensi terjadinya abrasi ketika tiba musim hujan."Untuk 45 rumah milik warga di Desa Roko ini bahkan ada yang jaraknya tinggal satu meter ke sungai. Ada juga yang dapurnya sudah longsor,"ungkapnya. (rid/met)