Derita Warga Loloda Utara, Bertaruh Nyawa Sebrangi Sungai Berarus

Warga Kecamatan Loloda Utara terpaksa menyebrang sungai berarus agar bisa menuju ke ibu kota Tobelo, Halmahera Utara. (Foto: Rido/malutp)

Tobelo, malutpost.id -- Warga Kecamatan Loloda Utara, Kabupaten Halmahera Utara merasa terisolir dan dianaktirikan selama pemerintahan Bupati dan Wakil Bupati Frans Manery dan Muhlis Tapi Tapi. Sebabnya, daerah tersebut minim pembangunan terutama sarana publik seperti jalan dan jembatan. Salah satunya, ada di Desa Kailupa dan Desa Dorume, Kecamatan Loloda Utara. Warga yang melintas di dua desa tersebut harus mencebur kendaraannya ke dalam air kali. Tidak tersedianya, jembatan membuat sewaktu-waktu warga bertaruh nyawa jika hendak ke ibu kota Tobelo. “Kalau banjir, memang airnya sangat kuat, jadi warga dari desa sebelah juga kalau mau ke Tobelo, harus menunggu sampai airnya surut baru bisa melewati kali tersebut,"ungkap Charles, Charles, Warga Desa Kailupa, Ahad (7/2/2021). Dia bilang, meski tak ada jembatan sebagian warga tetap nekat menerebos arus sungai. Sebab, kata Charles, warga tak punya pilihan salah satunya seperti merujuk keluarga ke RSUD di Tobelo. “Tidak ada pilihan lain, selain kita menyeberangi atau cemburkan kendaraan kita dalam kali agar bisa melanjutkan perjalanan,”terangnya. Selain jembatan, warga Loloda Utara juga harus dihadapkan dengan kondisi jalan yang rusak berat. “Soal akses jalan rusak menjadi pelengkap penderitaan warga,”pungkasnya. (rid).