Alat Bukti Kasus Jembatan Air Bugis Makin Kuat, Ini Langkah Penyidik Polda Malut

Kondisi jembatan Air Bugis di Desa Auponhia saat ini. (istimewa)

Ternate, malutpost.id -- Aktor utama dalam kasus dugaan korupsi proyek rehabilitasi jembatan Air Bugis di Desa Auponhia, Kecamatan Mangoli Selatan belum terungkap meski penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Maluku Utara telah menerima Laporan Perhitungan Kerugian Negara (LPKN) dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Malut. 

Direktur Reskrimsus Polda Malut, Kombes Pol Alfis Suhaili, saat dikonfirmasi mengaku, pihaknya telah menerima laporan perhitungan kerugian negara. Menurut dia, hasil penghitungan kerugian negara tersebut nantinya akan disinkronkan dengan alat bukti lain. "Hasil pemeriksaan BPKP sebagai referensi bagi penyidik untuk memperkuat alat bukti," ujarnya.

Menurut Alfis, penyidik belum menetukan tersangka proyek Rp4,2 miliar yang ditangani ipar Bupati Kepsul tersebut. Sebab, masih ada saksi-saksi yang diperiksa serta penelitian dokumen sebagai alat bukti. "Masih ada kegiatan pemeriksaan tambahan terhadap saksi-saksi dan penelitian dokumen terkait, yang nantinya juga berguna dalam menentukan siapa yang cukup bukti menjadi tersangka," tandasnya.

Sekedar diketahui, proyek senilai Rp 4,2 miliar, dianggarkan melalui APBD Kepsul tahun 2017 di Desa Auponhia itu dikerjakan oleh perusahan PT Kristi Jaya Abadi Ridwan Hongarta. Jembatan tersebut telah ambruk pada 2020 lalu, padahal belum pernah digunakan. (cr-04)


-

Peliput : Ramlan Harun

Editor   : Ikram