BBM Langka, 1,5 Liter Dibanderol Rp 50 Ribu

LANGKA: Informasi stok BBM habis yang tertempel di SPBU Sanana, Minggu (8/12) IKRAM SALIM/MALUT POST

SANANA – Fenomana kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) rupanya tak hanya terjadi di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Kelangkaan juga terjadi di Kabupaten Kepulauan Sula sejak dua hari belakangan. Sejumlah pemilik depot eceran pinggir jalan memanfaatkan kelangkaan ini untuk menaikkan harga bensin hingga selangit.

Kelangkaan BBM jenis bensin Premium dan Pertalite ini ditandai dengan tidak beroperasinya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Sanana dan Waiboga, Kecamatan Sulabesi Tengah, sejak Sabtu (7/12) hingga Minggu (8/12) kemarin. Amatan Malut Post, puluhan truk dan sepeda motor diparkir di sekitar SPBU menunggu dibukanya kembali pelayanan. Pihak SPBU juga telah memasang tanda keterangan kosongnya BBM.

Pengawas SPBU Sanana, Budi saat dikonfirmasi membenarkan kelangkaan terjadi sejak dua hari belakangan. Penyebabnya adalah keterlambatan masuknya kapal pengangkut BBM. “Karena kapal terlambat jadi stok BBM kita belum masuk, mungkin karena cuaca,” kata Budi saat ditemui di SPBU kemarin (8/12).

Budi bilang, pihaknya juga telah mengonfirmasi langsung ke pihak Pertamina Depot Sanana. Dia memastikan stok BBM di Kepsul bakal normal kembali mulai hari ini. “Katanya besok (hari ini, red) kapal sudah masuk jadi sudah mulai normal,” ujarnya.

Kelangkaan BBM ini dimanfaatkan oknum penjual bensin eceran untuk menaikkan harga hingga di luar batas kewajaran. Di pusat kota Sanana, dari sedikit depot eceran yang masih punya stok harga bensin dibanderol Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per botol Aqua berukuran 1.500 mililiter. Menurut pengakuan para penjual, bensin itu dibeli secara eceran dari wilayah Waiboga seharga Rp 35 ribu per liter. “Tidak sampai 2 liter tapi harganya mahal sekali,” keluh Ramli, salah satu pembeli. “Tapi terpaksa beli karena butuh.”

Sebelumnya, kelangkaan BBM juga melanda wilayah Halsel  sejak Jumat (6/12) lalu. Pada Minggu kemarin, BBM sudah mulai masuk ke SPBU dan APMS namun antrean pengendara masih mengular. Pasalnya, SPBU hanya beroperasi selama 2 jam di sore hari.

Sales Branch Manager PT Pertamina Maluku Utara Gilang Hisyam Hasyemi yang dikonfirmasi menuturkan, keterlambatan pengiriman BBM ke Kepsul dan Halsel disebabkan terjadinya gempa berpotensi tsunami 14 November kemarin. Alhasil, empat kapal yang bertugas mendistribusikan BBM ke Ternate, Halmahera Utara, Halsel dan Kepsul sempat tertunda. “Yang berdampak pada kelangkaan BBM beberapa waktu lalu. Tapi sekarang sudah kembali normal,” tuturnya, Minggu.

Menurut Gilang, SPBU dan APMS di Ternate memiliki tempat penampungan yang besar. Kalaupun satu bulan BBM tak masuk, stoknya tetap normal. “Tapi kalau di daerah lain tempat tampungan kecil maka keterlambatan pengiriman langsung jadi langka," ujarnya.
Gilang juga bilang, sebelumnya memang ada kelangkaan Pertalite di Halsel. Pertamina sudah menyuplai Premium namun warga Halsel lebih senang menggunakan Pertalite. “Maka ada Premium tapi mereka tidak mau. Mulai Jumat kemarin kami sudah distribusi BBM di kabupaten yang kekurangan itu. Kita kirim terakhir untuk stok di lapangan. Masyarakat tidak perlu khawatir terkait dengan kekurangan BBM,” tandasnya.(ikh/sam/tr-02/kai)