Tak Ada Pendidikan Alternatif Selama Pandemi, Anak-anak di Kepsul Terancam Buta Huruf

Relawan GST saat bertukar pikiran dengan anak-anak di Desa Fatkauyon di rumah warga. (ISTIMEWA)

Ternate, malutpost.id – Akitivitas belajar mengajar di Kabupaten Kepulauan Sula fakum selama pandemi Covid-19 berlangsung hingga ini. Sekolah tempat siswa menimbah ilmu tidak menyiapkan pendidikan alternatif selama “libur”.

Kondisi ini diperparah dengan tidak tersedianya akses internet. Terlebih Dinas Pendidikan setempat juga tidak menyiapkan metode belajar yang bisa dijalankan oleh siswa selama di rumah.

Hal ini terungkap dalam kegiatan studi tour yang dilakukan relawan Gravity Study Tour (GST) di Desa Fatkauyon, Kecamatan Sulabesi Timur, Kabupaten Kepulauan Sula pada, Sabtu (1/8/2020).

Para relawan yang terdiri dari advokat, konsultan, staf statistik, pengusaha, penggerak pendidikan, mahasiswa, pengusaha dan tokoh agama tersebut menemukan potret kondisi pendidikan yang dialami anak-anak setempat.

“Harapan saya dari kegiatan ini banyak yang ikut terlibat memperhatikan pendidikan anak anak di daerah pelosok Sula apalagi musim pandemi ini mereka masih diliburkan dan tidak ada media belajar di rumah sama sekali,” kata Koordinator GST, Irawan Duwila kepada malutpost.id, Senin (3/8/2020).

Menurutnya, kehadiran relawan GST tersebut sekaligus memberikan rangsangan pada anak-anak untuk tetap mau belajar selama libur. Kesenjangan pendidikan, kata Irawan, masih terjadi di Kepsul, terutama di daerah terpencil dan sulit terakses baik jaringan  maupun infrastruktur.  Apalagi di tengah wabah virus korona yang ikut memperparah kondisi pendidikan.

“Kami berharap Pemda khususnya Dinas Pendidikan segera menerapkan metode belajar alternatif agar anak-anak tidak dibiarkan begitu saja,” jelasnya.

Irawan bilang, jika kondisi tersebut terus dibiarkan, maka ancaman buta hurup bukan tidak mungkin terjadi. Dikatakan Irawan, ada beberapa anak yang sudah ingin kembali ke sekolah, namun belum ada kepastian kapan aktivitas belajar kembali normal.

Kondisi ini kata Irawan, dialami seluruh anak-anak di Kepsul, karena tidak memiliki media yang bisa dipelajari di rumah. ”Kami menemukan sendiri ada pengakuan dari seorang anak SD yang mengaku lupa bahwa dia sendiri masih berstatus siswa, ini bisa menambah jumlah buta huruf di Kepsul,” pungkasnya. (ikh)

 

 

-

Peliput : Tim

Editor   : Ikram