Pulau Pagama, Ikon Kepulauan Sula yang Sebentar Lagi Tinggal Cerita

Kondisi Pulau Pagama saat ini yang dimbil pada November 2020 lalu, tampak tersisa beberapa pohon yang masih hidup. (Foto: Irawan Duwila) 

Ternate, malutpost.id -- Tak ada lagi pulau kecil eksotis bernama Pagama menyambut, saat kapal melewati Pulau Sulabesi dan Pulau Lifmatola.

Bentangan pulau mungil berpasir putih itu kelak tersisa dokumentasi dan cerita sebagai ikon bagi siapa saja yang berkunjung di Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara.

Demikian gambaran nasib pulau yang terletak di Kecamatan Mangoli Utara Timur dalam rentang 5-10 tahun kedepan jika tidak ada langkah antisipasi. Abrasi menjadi masalah serius yang mesti segera ditanggulangi.

Sejak dua hari terakhir ini, wajah Pulau Pagama yang tersisa beberapa meter persegi viral di media sosial. Tidak sedikit yang menyerukan aksi selamatkan Pagama.

Ahli Pengembangan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Ir. Irawan Duwila menyatakan, kondisi Pulau Pagama saat ini makin memprihatinkan. Berdasarkan data citra satelit 5 tahun terakhir, lanjut Irawan, dari total luasan kurang dari 1 hektar kini hanya tersisa beberapa meter persegi saja.

“Itu pun jika air laut dalam kondisi pasang maka akan tenggelam atau hilang, pemerintah harus melihat dan mempriotitaskan penanganan hilangnya pulau Pagama ini,”kata Irawan kepada malutpost.id, Selasa (23/2/2021).

Foto Pulau Pagama tahun 2017 menggunakan drone. (Foto: Irawan Duwila) 

Irawan bilang, dirinya bersama pemuda peduli lingkungan di Kepsul pernah beberapa kali melakukan aksi dan mengkampanyekan selamtkan Pagama yang semakin kritis. Hanya saja, kata Irawan, tidak ada satu pun pihak menanggapi hal tersebut termasuk pemerintah.

"Sekarang kita mulai pasang status atau hanya memotret pulau yang hanya muncul ketika surut yang mana sudah tidak ada lagi pohon atau tumbuhan di atasnya, siapa yang mau di salahkan?,”kata Irawan dengan nada tanya.

Dia menjelaskan, dalam ketentuan umum Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dijelaskan bahwa pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah suatu proses perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil antarsektor.

“Antara pemerintah pusat melalui KKP dan pemerintah daerah, namun jika melihat beberapa data ke belakang mengenai intervensi kebijakan pemerintah tidak ada program yang dilakukan untuk antisipasi hilanngya pulau pagama,”papar Irawan.

Insinyur teknik tersebut mengurai, pemerintah sempat membuat cincin dan pos pemantau melalui dana alokasi khusus (DAK) tahun 2017.

“Itu pun hanya dibuat asal-asalan karena tidak melalui prosedur perencanaan terlebih dahulu,”tambah Irawan.

Lebih lanjut Irawan berujar, global warming juga menjadi pemicu adanya arus, gelombang dan mengakibatkan bentang fisik pulau-pulau mengalami perubahan. Untuk itu, lanjutnya, pemerintah perlu mempunyai referensi data teknis terlebih dahulu sebelum memberi solusi melalui intervensi program di Pulau Pagama.

"Jangan nanti mulai viral mulai terangkatnya foto hilanya Pagama kemudian langsung dibuat kegiatan yang tidak tepat, kegiatan yang salah sasaran, kami merasa sangat perihatin dengan hilangnya Pagama dari tahun ke tahun. Dengan banyak pihak yang peduli seperti ini kita berharap Pagama bisa ditangani,”jelas pria yang juga aktif sebagai aktivis lingkungan di Kepsul itu. (ikh)


-

Peliput : Tim

Editor   : Ikram