Penyidik Temukan Dokumen Penting


PENGGELEDAHAN: Penyidik Kejari Bobong kembali melakukan penggeledahan di BPKPAD Pulat Taliabu. ft istimewa

BOBONG-Untuk kedua kalinya, penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Bobong Pulau Taliabu, menggeledah kantor Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah (BPKPAD) Taliabu.

Kamis (3/6) tiga penyidik mulai pukul 15.00 WIT memeriksa dokumen di ruang arsip dengan membuka dua lemari yang sehari sebelumnya disegel.

Penyidik berhasil menemukan dokumen yang dicari. Informasi yang dihimpun Malut Post, berdasarkan dokumen ini diketahui bahwa pada April dan Mei 2021, ada pihak yang diduga terlibat dalam kasus tersebut, secara diam-diam melakukan pengembalian sebagian kerugian negara ke rekening kas daerah. Namun dalam surat tanda setoran (STS) tidak tercantum nama dan tanda tangan penyetornya. Padahal penyelidikan kasus tersebut telah dimulai sejak Maret 2021. " Pada bulan April dan Mei ada pengembalian ke rekening kas daerah," ungkap sumber Malut Post.

Kepala Kejari Taliabu Agustinus Herimulyanto dikonfirmasi membenarkan bahwa sore kemarin, penyidik kembali melakukan penggeledahan. Penyidik berhasil menemukan dokumen yang dicari. “Kita kirim tiga jaksa dan temukan dokumen yang dicari,” akunya. Ketika ditanya terkait informasi pengembalian kerugian negara, dia mengatakan jika ada itikad baik maka pengembalian tersebut seharusnya diberikan langsung kepada penyidik, agar nanti dihitung dan dipertimbangkan dalam proses kasus yang sedang berlangsung. "Seharusnya diberikan langsung ke jaksa," tuturnya.

Pada kesempatan itu dia meluruskan pemberitaan sebelumnya terkait temuan dokumen pengadaan rice cooker senilai Rp40 juta. menurutnya, itu tidak benar. Kalaupun penyidik menemukan itu, mereka punya wewenang untuk mempublikasi dokumen tersebut, karena tidak berkaitan dengan materi penyidikan perkara yang sedang tangani. "Itu bertentangan dengan hukum acara," tutupnya. Untuk diketahui kasus pembangunan Puskesmas Sahu-Tikong dikerjakan PT. Widya Rahmat Karya dari Sunnguminasa Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Nilai proyeknya Rp3,43 miliar dengan kerugian negara mencapai Rp1,98 miliar. (mg-02/onk).