Tukang Bentor Cabuli Anak Tiri

BEJAT: Pelaku RSM alias Rus (49) saat diamankan di Mapolres Morotai kemarin (10/3) usai dilaporkan korban dan pihak sekolah SOFYAN TOGUBU/MALUT POST

DARUBA – Satu lagi kasus kekerasan seksual anak terungkap di Kabupaten Pulau Morotai. Pelakunya merupakan seorang tukang bentor yang mencabuli putri tirinya yang masih duduk di bangku SD kelas 6. Mirisnya, aksi bejat ini tak dilakukan sendiri. Teman baik pelaku, sesama tukang bentor, juga ikut mencabuli korban.

Informasi yang diperoleh //Malut Post//, pelaku berinisial RSM alias Rus (49) merupakan warga salah satu desa di Kecamatan Morotai Selatan. Ia berasal dari Kota Palu, Sulawesi Tengah, dan berprofesi sebagai tukang bentor.

Aksi dugaan pencabulan RSM terhadap putri tirinya yang baru berusia 12 tahun itu terjadi Januari lalu. Saat itu pelaku dalam kondisi mabuk. Pria berkacamata itu melancarkan aksi bejatnya di rumah mereka saat korban sedang tidur. Pelaku disebut memegang alat vital dan mengisap dada korban.

Korban yang ketakutan tak menceritakan peristiwa itu pada siapapun. Malang, Minggu (8/3) malam kemarin RSM bersama sobat karibnya yang juga seorang tukang bentor, S alias Satria (60), pesta minuman keras di rumah RSM.

Dalam kondisi mabuk, Satria lantas mendorong dan meremas dada korban. Kali ini korban mengadu pada ibu kandungnya, W, yang langsung memaki-maki pelaku.

Peristiwa ini terungkap setelah pihak sekolah melaporkan ke pihak berwajib, Selasa (10/3). FI, wali kelas korban mengungkapkan, awalnya korban menceritakan peristiwa yang menimpanya pada teman sebangkunya. Si teman sebangku lantas menyampaikan pada FI. Korban juga disebut membawa pakaian di dalam tasnya dan mengaku ingin pindah rumah lantaran trauma. “Dengar itu saya lalu tanya ke korban kenapa? Korban bilang ada teman ayahnya melecehkan dia. Saya kaget dengarnya, kemudian lapor ke kepala sekolah dan kepala sekolah mengambil langkah untuk kami laporkan ke pihak kepolisian,” ungkap FI.

Polisi pun menindaklanjuti laporan tersebut dengan mengamankan pelaku. Polisi juga memanggil W untuk dimintai keterangan sebagai saksi. “Saya tidak lihat kejadiannya, tapi anak saya cerita. Waktu itu saya marah dan maki-maki pelaku. Pihak sekolah yang lapor ke polisi dan tiba-tiba saya dipanggil ke Polres,” tutur W saat ditemui di Mapolres Morotai.

Kepala Unit Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Morotai Bripka Umar Hi Nasir yang dikonfirmasi membenarkan telah menerima kasus tersebut. Korban datang melapor ditemani gurunya sekira pukul 10 pagi kemarin. “Untuk pasalnya belum ditetapkan, nanti Reskrim yang dalami dulu," tutupnya.(tr-04/kai)