Akademisi Morotai Minta Pemerintah Tak Paksa Rakyat untuk Divaksin

Ilustrasi vaksin. (REUTERS/Thomas Peter)

Daruba, malutpost.id -- Proses persiapan suntik massal vaksin Covid-19, Sinovac atau vaksinasi di Maluku Utara ditentang sejumlah pihak.

Salah satu akedemisi Universitas Pasifik Morotai (Unipas), Irfan Hi. Abd Rahman mengatakan, keberadaan vaksin Covid-19 buatan China tersebut perlu dikritiksi bahkan ditolak karena sampai dengan saat ini belum diketahui tingkat keamanan, keampuhan dan kehalalan dari vaksin tersebut.

Untuk itu, kata Irfan, dirinya meminta kepada Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai agar hati-hati melaksanakan kebijakan tersebut, sebab efeknya pada kesehatan manusia bahkan dapat merengut nyawa.

"Sehingga ke hati-hatian perlu di terapkan, selain itu pemerintah juga harus memberikan kesempatan kepada masyakat untuk mengakses segala bentuk informasi yang diperlukan mulai dari proses pembuatan vaksin, bahan yang digunakan, uji klinisnya hingga efek samping yang ditimbulkan setelah dilakukan suntik vaksin," katanya.

Secara pribadi, lanjut Irfan, dirinya akan menolak jika vaksin tersebut tidak dapat dibuktikan keakuratan uji kelinisnya dan kehalalany. Apalagi, belakangan viral informasi masyarakat bakal dipidanakan jika menolak suktik vaksin, maka penolakan tersebut wajar dilakukan karena masyarakat meragukan keampuhan vaksin tersebut.

"Saya menyarankan jika pemkab bersekukuh tetap melakukan vaksin terhadap masyarakat maka yang mesti dilakukan pertama adalah Bupati Pulau Morotai diikuti DPRD dan pimpinan SKPD," katanya.

Irfan berujar, jika yang didahulukan tenaga medis, sehingga jika terjadi sesuatu terhadap tenaga medis, tentu berisiko terhadap pelayanan kesehatan.

"Pun sebaliknya kalau tenaga medis bisa bertindak atau menolong mereka bupati, anggota DPRD dan pimpinan SKPD jika setelah di vaksin ternyata risiko medisnya membahayakan jiwa mereka ada tenaga medis yang dapat menolong mereka, sekali lagi saya tegaskan jangan paksakan rakyat," pungkasnya. (tr-04)


-

Peliput : Sofyan Togubu

Editor   : Ikram