Mengintip Tradisi Warga Morotai Berburu Cacing Laut

Warga Morotai menggunakan jala untuk memungut cacing laut atau laor di pesisir pantai, Ahad (2/5/2021). (istimewa) 

Daruba, malutpost.id -- Warga sejumlah desa di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara kembali panen cacing laut (Lyde oele) atau biasa disebut loar. Salah satu lokasi yang sering menjadi tempat munculnya laor yakni pesisir pantai Tanjung Gorango Desa Gurua, Kecamatan Morotai Utara.

Pantauan malutpost.id, Ahad (2/5/2021), aktivitas menimba laor ini biasanya dimulai sejak pukul 03.00 WIT. Warga bahkan membangun tenda untuk menunggu cacing laut tersebut muncul ke dipermukaan laut. Tidak hanya nelayan, aktivitas menimpa laor juga dilakoni warga dari berbagai latar belakang berprofesi.

Menurut warga, panen laor biasanya dilakukan dua kali dalam setahun yakni pada April dan Mei. Fandi salah satu warga Gurua mengaku, panen laor kali ini terbilang sedikit akibat gelombang tinggi. Biasanya, kata Fandi,  dalam semalam warga bisa mengumpulkan laor hingga 2 karung beras ukuraan 25 kilo gram. "Baru tahun ini baomba (gelombang tinggi), kalau tahun sebelumnya tidak seperti ini. Kali ini sangat sedikit,"katanya.

Sudin, warga Desa Daruba Kecamatan Morotai Selatan bilang, dirinya jauh-jauh dari Daruba hanya untuk manangkap laor. Sudin berujar, kemunculan laor sering ditandai dengan fenomena alam seperti guntur diringi hujan deras, namun kali ini hanya mendung dan gerimis. "Kalau dari Daruba itu 1 jam sampai sini, hasil tangkapan laor kali ini sedikit hanya satu karung,"pungkasnya.(cr-04)


_

Peliput : Sofyan Togobu

Editor   : Ikram