Kita, Kata, Kota


Oleh : Herman Oesman

Dosen Departemen Sosiologi FISIP UMMU

 

"Ruang kota harus dikuatkan dengan kekitaan, untuk 

melahirkan kata-kata positif yang lantip, penuh harapan, kebaikan, 

dan saling percaya." (Quote)

Kita hari ini, telah dipecah-belah oleh rangkaian kata dan kalimat, yang lalu berubah di antara sesama kita menjadi liyan _(otherness)_. Kita tetiba menjadi asing di dalam atap dan ruang kota yang sama, hanya karena rangkaian kata yang tak sepatutnya hadir dalam ruang keadaban. Yang sebelumnya, hari-hari dijalani dengan kebersamaan, keceriaan, canda, dan tanpa sekat.

Deretan huruf yang tersusun dari pikiran yang tak sehat dan tak terlatih, telah melahirkan kata dan kalimat kebencian. Tendensius, egoistik, dan caci maki mengalir tanpa henti, hanya karena satu hal : vandalistis dan anarkistis. 

Kata-kata yang telah berubah menjadi teks digandeng kebencian dan caci maki kemudian menemukan konteksnya. Kemarahan itu lalu menguar. Kekitaan lalu seketika retak. Terbangun kekamian, menguatkan keakuan. Ada jurang yang mulai menganga. Jarak antara kami dan kita pun begitu terbuka lebar.

Kata dalam teks itu telah memisahkan kekitaan, menjadi anak panah yang menghunjam sakit hingga ke tubir paling dalam. Membangkitkan soliditas. Pada satu sisi, kekamian dan keakuan mulai menyatu dan tumbuh, namun pada sisi lain, kekitaan makin melebar menjauh.

Kata-kata tak pantas itu pernah lahir dari warga sebuah kota tua. Kota yang menjunjung tinggi adat-tradisi dan moral. Karena itu, dalam tradisi besar umat manusia, istilah kota berakar pada makna positif : keberadaban _(civility)_, kemuliaan _(nobility)_, dan keteraturan _(order)_. Sehingga itulah Max Weber (1864-1920) mendefinisikan kota idealnya sebagai tempat yang direncanakan bagi kelompok “berbudaya” dan “rasional.”

Kota, sebagaimana gambaran Weber, awalnya merupakan kota “ortogenetik” yang mengekspresikan tatanan moral dan keindahan yang luhur dan indah _(venustas)_. Perhatikan sejarah keindahan dan keluhuran Islam Cordova, Buddha Kyoto, Katolik Roma, dan lain-lain.

Dalam banyak literatur, terutama yang gagasannya mengarah pada pembangunan perkotaan, terlihat bagaimana kota merupakan satu entitas penting di dalam pembangunan ekonomi. David Harvey (1985) menegaskan, proses kapitalisasi perkotaan ”...menyiratkan penciptaan material infrastruktur fisik untuk produksi, sirkulasi, pertukaran, dan konsumsi.” 

Pandangan Harvey ini dapat dipahami secara sederhana, bahwa berbagai bentuk pembangunan perkotaan tidak bisa dilepaskan dari akumulasi kapital. Karena itu, kota memang dibentuk, dihayati, dan digagaskan pertama-tama sebagai ruang. 

Kota sebagai ruang (kapital) kemudian merubahnya sebagai sumber “kengerian”, “kompetisi”, “kekerasan”, dan “ketidak-aturan.” Kota sebagai ruang adalah medan kompetisi untuk merebut dominasi.  Kota seolah-olah tak lagi melahirkan kecerdasan sosial, yang mana setiap warga diharapkan memiliki kemampuan menavigasi dan bernegosiasi dalam interaksi dan lingkungan sosialnya. Barangkali pula, kedermawanan, yang merupakan potensi besar untuk menjadi baik, adalah sesuatu yang teramat langka, karena kuatnya egoistik, dan pertarungan.

Muncul transplosi, yang menurut Hans-Dieter Evers (1995), merupakan suatu perluasan mendadak dari masyarakat kota. Transplosi kemudian mendorong terjadinya kompetisi untuk mendapatkan ruang tempat tinggal. Perebutan ruang menurut pada dasarnya adalah perebutan tanah untuk keperluan-keperluan tertentu oleh individu atau kelompok masyarakat.

Namun kemudian, mengikuti penggambaran Clifford Geertz dalam _The Social History of an Indonesian Town_ (1965), kesemrawutan, kepadatan, dan disorientasi budaya kebanyakan kota berakar dari kesenjangan sektor komersial padat modal di tangan orang-orang asing dengan sektor subsistem padat-karya di tangan penduduk lokal. Ada segregasi ekonomi, sosial, budaya modern dengan sektor tradisional.

Kota terus berkembang, dan pada akhirnya mengkhianati watak idealnya. Muncul kemudian kota penuh kengerian _(the dreadful city)_. Kota kemudian berubah, muncul kota “heterogenik” yang dilukiskan sosiolog Lewis Mumford (1895-1990), sebagai kota yang ambiguitas, kekerasan, disintegrasi, tragedi, dan anarki.

Kota bisa dilihat sebagai fenomena sosial yang total. Artinya, kota berhubungan dengan berbagai macam aspek baik yang material, maupun aspek sosial, kultural, linguistik, politis dan ekonomis.

Akibatnya, kota menjadi sasaran terkonsentrasinya seluruh interaksi masyarakat, termasuk masyarakat pedesaan, demikian Peter J. M. Nas dan Welmoet Boender (dalam Nas, 2007). Tak berlebihan, bila dalam kerangka ini, kota, bahkan kehidupan perkotaan, lebih ditentukan oleh masyarakat yang hidup didalamnya. 

Kota merupakan pusat saraf kehidupan rasional yang perlu dihidupkan dengan nafas cinta dari siapa yang datang, agar kita dapat meleburkan keakuan dan kekamian untuk menguatkan kekitaan dalam kata-kata yang penuh cinta.

Dalam bahasa penulis spiritualitas asal India, Deepak Chopra, tindakan yang dimotivasi oleh ketulusan, bukan oleh egosentrisme, akan menghasilkan energi berlimpah yang dapat digunakan untuk menciptakan apa saja yang dikehendaki. Untuk itu, ruang kota harus dikuatkan dengan kekitaan untuk melahirkan kata-kata positif, penuh harapan, kebaikan, dan saling percaya. [*]