Pentingnya Sosialisasi Politik

Fadlum Marsaoly, Mahasiswa FISIP UMMU

"Sistem politik di Indonesia saat ini sangat lemah karena menyandarkan diri pada pencitraan, bukan penguatan struktur partai dan kerja riil di masyarakat"

Dhaniel Dhakidae, Peneliti Senior Prisma Resource Center.

Di dalam kehidupan politik, seperti halnya dalam wilayah kehidupan lain, sosialisasi merupakan suatu kunci bagi perilaku. Bahwa sosialisasi politik merupakan suatu proses bagaimana memperkenalkan sistem politik pada seseorang, dan bagaimana orang tersebut menentukan tanggapan serta reaksi-reaksinya terhadap gejala-gejala politik. Melalui sosialisasi politik, individu-individu diharapkan mau dan mampu berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam kehidupan politik. Dalam hal ini sosialisasi merupakan suatu proses pedagosis (proses pendidikan), atau suatu proses pembudayaan insan-insan politik. Proses ini melibatkan orang-orang baik dari generasi tua maupun dari generasi muda. Proses ini dimulai sejak dini, ketika seorang anak masih kecil, dimana keluarga berperan sebagai pelaku utama dalam sosialisasi. Selain keluarga, sekolah (pendidikan), kelompok kerja, kelompok sebaya, kelompok agama, dan media massa berperan sebagai agen atau perilaku sosialisasi politik.

Sejak zaman kuno telah disadari pentingnya politik. Plato dan Aristoteles, misalnya, menekankan betapa pentingnya melatih para anggota masyarakat untuk berbagai tipe aktivitas politik. Dizaman modern, Rousseau adalah tokoh yang mengakui peranan pendidikan untuk memperhitungkan nilai-nilai. Para filsuf liberal abad ke-19 pun memberikan tekanan besar pada adanya kebutuhan untuk mendidik para penguasa. Para penguasa pun membutuhkan pendidikan politik. Dengan demikian mereka dapat menjalankan kekuasaan mereka secara bertanggung jawab, yakni demi kesejahteraan seluruh lapisan dan golongan masyarakat, tanpa kecuali. Greenstein dalam karyanya “International Encyolopedia of The Social Sciences” 2 definisi sosialisasi politik:

Definisi sempit, sosialisasi politik adalah penanaman informasi politik yang disengaja, nilai-nilai dan praktek-praktek yang oleh badan-badan instruksional secara formal ditugaskan untuk tanggung jawab ini. Definisi luas, sosialisasi politik merupakan semua usaha mempelajari politik baik formal maupun informal, disengaja ataupun terencana pada setiap tahap siklus kehidupan dan termasuk di dalamnya tidak hanya secara eksplisit masalah belajar politik tetapi juga secara nominal belajar bersikap non politik mengenai karakteristik-karakteristik kepribadian yang bersangkutan.

Sosialisasi Politik merupakan proses yang sulit dipahami. Secara luas dikatakan sosialisasi politik merupakan transmisi dari budaya politik kepada generasi yang baru di suatu masyarakat tertentu (Almond and Verba, 1963). Sosialisasi politik merupakan produk dari fenomena mikro dan makro yang saling bertautan. Pertanyaan mendasar pada level makro dalam penelitian sosialisasi politik adalah bagaimana masyarakat politik mewariskan nilai-nilai, sikap-sikap, kepercayaan-kepercayaan, dan pendapat-pendapat serta perilaku kepada masyarakat? Studi sosialisasi politik pada level mikro mempertanyakan: bagaimana dan mengapa orang-orang menjadi warga negara? Pada level makro sistem politik, sosialisasi politik merupakan alat yang digunakan masyarakat politik untuk menanamkan norma-norma dan praktek-praktek yang tepat kepada warganya (Sapiro, 2004: 2). Masyarakat politik membawakan pola-pola yang telah terpola dari pemikiran, tindakan, hukum dan norma serta tradisi melalui agen-agen sosialisasi politik seperti keluarga, sistem pendidikan, kelompok bermain, organisasi masyarakaat, media, lembaga politik, organisasi masyarakat, dan Organisasi keagamaan serta militer (Beck, 1977). Pertanyaan-pertanyaan sejenis ini yang ditujukan pada level makro memberikan perhatian kepada “dimana dan bagaimana orang membangun orientasi dan praktek politiknya yang mengubah desain lembaga demokrasi dan konstitusi ke dalam pembuatan masyarakat demokratis yang nyata dan berfungsi ” (Sapiro, 2004: 19). Pada level mikro, sosialisasi politik merupakan pola-pola dan proses yang dilalui individu dalam melibatkan diri dalam pembangunan dan pembelajaran politik, membentuk konteks yang khusus dengan lingkungan politik tempat tinggalnya (Sapiro, 2004: 3).

Sosialisasi politik pada dasarnya merupakan suatu proses bagaimana memperkenalkan sistem politik pada seseorang, dan bagaimana orang tersebut menentukan tanggapan serta reaksi-reaksinya terhadap gejala-gejala politik. Beberapa ahli ilmu sosial menggunakan istilah sosialisasi untuk menunjukkan cara bagaimana anak-anak diperkenalkan pada nilai-nilai dan sikap-sikap yang dianut masyarakat mereka, serta bagaimana mereka mempelajari peranan yang diharapkan mereka jalankan kelak bila sudah dewasa. Sosialisasi politik menunjukkan bagaimana seharusnya masing-masing anggota masyarakat berpartisipasi dalam sistem politiknya. Kebanyakan anak-anak, sejak masa kanak-kanaknya, belajar memahami sikap-sikap dan harapan-harapan politik yang hidup dalam masyarakatnya. Jadi sosialisasi politik menunjuk pada proses-proses pembentukan sikap-sikap politik dan pola-pola tingkah laku. Disamping itu sosialisasi politik juga merupakan sarana bagi suatu generasi untuk “mewariskan” patokan-patokan dan keyakinan-keyakinan politik kepada generasi sesudahnya, proses ini disebut tranmisi kebudayaan ( Mas;ud, 1995:34 ). Ada dua hal yang harus diperhatikan mengenai proses sosialisasi politik, yaitu Pertama; Sosialisasi itu berjalan terus menerus selama hidup seseorang. Sikap-sikap yang terbentuk selama masa kanak-kanak selalu disesuaikan atau diperkuat, sementara ia menjalani berbagai pengalaman sosial. Pengaruh keluarga selama masa kanak-kanak, misalnya akan menciptakan gambaran yang baik mengenai suatu partai politik tertentu dalam pemikiran seseorang. Kedua; Sosialisasi politik dapat berujud tranmisi dan pengajaran yang langsung maupun tidak langsung. Sosialisaasi yang besifat langsung kalau melibatkan komunikasi informasi, nilai-nilai atau perasaan-perasaan mengenai politik secara eksplisit, mata pelajaran pendidikan kewarganeagaraan di sekolah.

Pendidikan Politik

Pendidikan politik merupakan suatu proses dialogik antara pemberi dan penerima pesan. Melalui proses ini para anggota masyarakat mengenal dan mempelajari nilai-nilai, norma-norma dan simbol-simbol politik negaranya dalam sistem politik. Pendidikan politik dipandang sebagai proses dialog antara pendidik, seperti sekolah, pemerintah, partai politik, peserta didik dalam rangka pemahaman, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai, norma dan simbol-simbol politik yang dianggap ideal dan baik. Melalui kegiatan kursus, latihan kepemimpinan, diskusi dan keikutsertaan Dalam berbagai forum pertemuan partai politik, dalam sistem politik demikian dapat melaksanakan proses pendidikan politik.

Indoktrinasi politik Yang dimaksud indoktrinasi ialah proses sepihak ketika penguasa memobilisasi dan memanipulasi warga masyarakat untuk menerima nilai, norma, dan simbol yang dianggap pihak yang berkuasa sebagai ideal dan baik. Melalui berbagai forum penguasa yang penuh paksaan psikologis dan latihan Yang penuh disiplin partai politik dalam sistem politik totaliter melaksanakan fungsi indoktrinasi politik. *Agen Sosialisasi Politik Diatas telah disinggung bahwa sosialisasi politik dimulai sejak masa kanak-kanak. Sebelum seorang anak masuk sekolah, keluarga, dalam hal ini orang tua, berperan sebagai agen utama sosialisasi politik. Dengan masuknya seorang anak ke sekolah maka yang berperan sebagai agen sosialisasi baginya adalah keluarga dan sekolah. Apa yang dipelajari seorang anak? Sebelum usia 9 tahun, kebanyakan anak-anak Amerika tahu siapa presiden mereka, dan mereka sadar akan adanya Partai Republik dan Demokrat. Di Indonesia pun cukup banyak anak-anak yang belum genap 9 tahun tahu siapa presiden Republik Indonesia.

Tapi apakah nak-anak Indonesia pun tahu jumlah dan nama-nama partai-partai politik yang ada di negeri ini? Sosialisasi politik dikalangan anak-anak pun merupakan upaya untuk membentuk beberapa sikap politik yang penting. Sekolah dan orang tua mulai mempengaruhi kepekaan anak-anak akan pentingnya politik- kepercayaan mereka bahwa mereka dapat berpartisipasi dalam politik dan bahwa partisipasi mereka itu dapat membuat suatu perbedaan. Orangtuapun sering kali mengalihkan identifikasi partai mereka (dukungan mereka terhadap suatu partai politik) kepada anak-anak mereka. Jika kedua orangtua mereka mendukung partai yang sama, mereka mungkin mendukung partai itu. Namun sejalan dengan pertumbuhan usia, identifikasi mereka dengan partai dukungan orang tua mereka cenderung merosot.

Di Amerika Serikat, pengaruh orang tua pada umumnya lebih kuat dikalangan republika yang konservatif ketimbang dikalangan demokrat yang liberal. Seperti dikemukakan Frederic Koening, anak-anak konservatif lebih merasa terpanggil untuk membela tradisi-tradisi warisan generasi-generasi tua dan memiliki respek yang lebih besar terhadap tokoh pemimpin seperti orang tua. Anak-anak juga mengembangkan sikap-sikap tertentu terhadap pemerintah pada umumnya, khususnya terhadap para politisi. Dengan bertambahnya usia, dukungan terhadap sistem politik pun cenderung meningkat. Tetapi kepercayaan terhadap pejabat-pejabat pemerintah tampaknya merosot. Ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga di negara-negara lain. Sosialisasi Politik berlanjut dimasa ketika anak telah bertumbuh menjadi remaja dan pemuda. Dimasa-masa seperti ini kepercayaan-kepercayaan politik seseorang dipengaruhi oleh teman-teman, keluarga, dan rekan-rekannya. Mereka bisa mempengaruhi dukungan kita terhadap partai politik tertentu. Proses sosialisasi politik pun berlaku bagi orang-orang dewasa, bahkan proses ini sangat penting bagi mereka. Bagi para politisi sosialisasi politik tidak mungkin dihindari. Bagaimana mereka harus belajar menjadi politisi yang baik dan bertanggung jawab. Setelah seseorang dipilih menjadi anggota legislatif, misalnya dia harus belajar menjadi seorang wakil rakyat yang dapat diandalkan.

Dalam situasi normal, orang dengan senang hati mau mendukung suatu partai politik yang dipimpin oleh tokoh-tokoh yang bersikap manusiawi. Hanya karena terpaksa (dan dipaksa) maka orangpun mau mendukung suatu parai politik yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya. Tetapi dengan partai politik semacam ini orang sebenarnya merasa merasa pesimis dengan masa depan bangsa dan negaranya. Sikap tidak puas terhadap partai politik yang suka bermain curang itu pada gilirannya akan menjelma menjadi kekerasan-kekerasan yang sukar untuk dikendalikan. Untuk mencegah hal-hal tersebut, sosialisasi sebagai proses pencerahan politik bagi orang-orang dewasa sangat diperlukan. Melalui proses ini, orang diharapkan tetap bermain politik dijalur yang fair. Itu tidak berarti bahwa dunia politik pun lantas sepi dari konflik. Konflik politik akan terus terjadi, terutama dikalangan elit politik yang berbeda-beda kepentingan. Tapi konflik-konflik semacam itu tidak perlu berubah menjadi kekerasan-kekerasan yang mengancam eksistensi masyarakat, karena mereka dapat menyelesaikan secara politis. Yang dimaksud adalah penyelesaian konflik melalui proses perembukan yang rasional demi kepentingan bersama. Dalam sosialisasi politik, terdapat beberapa agen yang dipandang memegang peran penting, yaitu antara lain keluarga, sekolah, kelompok pertemanan, dan media massa. Agen tersebutlah dipandang yang berperan dalam membentuk pengetahuan, sikap, nilai, norma, prilaku esensial, dan harapan – harapan dalam kaitannya dengan pilitik.

Keluarga

Keluarga Merupakan agen sosialisasi pertama yang dialami seseorang. Keluarga memiliki pengaruh besar terhadap anggota-anggotanya. Pengaruh yang paling jelas adalah dalam hal pembentukan sikap terhadap wewenang kekuasaan. Bagi anak, keputusan bersama yang dibuat di keluarga bersifat otoritatif, dalam arti keengganan untuk mematuhinya dapat mendatangkan hukuman. Pengalaman berpartisipasi dalam pembuatan keputusan keluarga dapat meningkatkan perasaan kompetensi politik si anak, memberikannya kecakapan-kecakapan untuk melakukan interaksi politik dan membuatnya lebih mungkin berpartisipasi secara aktif dalam sistem politik sesudah dewasa.

Keluarga adalah merupakan kesatuan masyarakat yang terkecil, keluarga memegang peranan penting dalam perkembangan kehidupan masyarakat itu sendiri. Signifikansi terjadi dalam perkembangan anak secara fisik maupun mental. Hal ini mengandung maksud bahwa pendidikan paling pertama yang didapatkan oleh anak adalah yang berasal dari keluarganya, apapun bentuknya itu, akan berimplikasi positif atau negatif tergantung pada sosialisasi yang terjadi dalam keluarga itu sendiri. Adalah hal yang natural bahwa perkembangan manusia dimulai sejak lahir sudah berhadapan dengan keluarga sebagai kelompok sosial yang pertama dihadapi. Terdapat peranan yang melekat dalam sebuah kelompok sosial, yakni peranan sebagai orang tua dan peranan sebagai anak.

Sekolah

Sekolah memainkan peran sebagai agen sosialisasi politik melalui kurikulum pengajaran formal, beraneka ragam kegiatan ritual sekolah dan kegiatan-kegiatan guru. Sekolah melalui kurikulumnya memberikan pandangan-pandangan yang kongkrit tentang lembaga-lembaga politik dan hubungan-hubungan politik. Ia juga dapat memegang peran penting dalam pembentukan sikap terhadap aturan permainan politik yang tak tertulis. Sekolah pun dapat mempertebal kesetiaan terhadap system politik dan memberikan symbol-simbol umum untuk menunjukkan tanggapan yang ekspresif terhadap system tersebut. Peranan sekolah dalam mewariskan nilai-nilai politik tidak hanya terjadi melalui kurikulum sekolah. Sosialisasi juga dilakukan sekolah melalui berbagai upacara yang diselenggarakan di kelas maupun di luar kelas dan berbagai kegiatan ekstra yang diselenggarakan oleh OSIS.

Kelompok Pertemanan

Kelompok pertemanan mulai mengambil penting dalam proses sosialisasi politik selama masa remaja dan berlangsung terus sepanjang usia dewasa. Takott Parson menyatakan kelompok pertemanan tumbuh menjadi agen sosialisasi politik yang sangat penting pada masa anak-anak berada di sekolah menengah atas.

Selama periode ini, orang tua dan guru-guru sekolah sebagai figur otoritas pemberi transmitter proses belajar sosial, kehilangan pengaruhnya. Sebaliknya peranan kelompok-kelompok klik, gang-gang remaja dan kelompok-kelompok remaja yang lain menjadi semakin penting. Pengaruh sosialisasi yang penting dari kelompok pertemanan bersumber di dalam factor-faktor yang membuat peranan keluarga menjadi sangat penting dalam sosialisasi politik yaitu: Akses yang sangat ekstensif dari kelompok-kelompok pertemanan terhadap anggota mereka. Hubungan-hubungan pribadi yang secara emosional berkembang di dalamnya.

Kelompok pertemanan mempengaruhi pembentukan orientasi politik individu melalui beberapa cara yaitu: Kelompok pertemanan adalah sumber sangat penting dari informasi dan sikap-sikap tentang dunia social dan politik. Kelompok pertemanan berfungsi sebagai “communication channels”. Kelompok pertemanan merupakan agen sosialisasi politik sangat penting karena ia melengkapi anggota-anggotanya dengan konsepsi politik yang lebih khusus tentang dunia politik.

Media Massa

Media massa seperti surat kabar, radio, majalah, televisi dan internet memegang peran penting dalam menularkan sikap-sikap dan nilai-nilai modern kepada bangsa-bangsa baru merdeka. Selain memberikan informasi tentang informasi-informasi politik, media massa juga menyampaikan nilai-nilai utama yang dianut oleh masyarakatnya. Media massa merupakan agen sosialisasi politik yang semakin menguat perannya. Pengaruh media massa cenderung bersifat pasif, berskala besar, dan segera. Penggunaan media massa secara intensif oleh partai di Indonesia terjadi pada pemilihan umum 1999, terutama masa kampanye. Ada kecenderungan terjadi peningkatan belanja iklan politik oleh partai politik atau pasangan calon( presiden atau kepala daerah) kepada media massa, terutama televise, untuk menjadikan media sebagai agen sosialisasi politik mereka.

Masyarakat Pers Indonesia yang saat ini memiliki kebebasan pers, memiliki peluang untuk menyampaikan informasi seluas-luasnya dan menyampaikan fakta pada khalayak. Pers secara langsung maupun tidak langsung dapat menurunkan nilai-nilai politik kepada masyarakat. Misalnya dalam perdebatan-perdebatan yang dilakukan oleh para pakar di media elektronik atau media cetak dapat diserap dan menurunkan nilai-nilai politik. Demikian halnya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam percaturan politik dapat diketahui oleh media masa dan akan tersebar dengan cepat kepada masyarakat dan kebijaksanaan-kebijaksanaan politik negara dapat diketahui rakyatnya.(*)