S E P E L E


Oleh : Muhd Nur Sangadji

Sebuah kisah yang diberi judul sepele, beredar luas di WA group. Kisah berisi nasehat itu bernarasi seperti berikut ;

Seorang wanita muda tengah duduk santai di dalam bis yang melaju ke tengah kota. Di satu pemberhentian bis, seorang wanita tua yang cerewet dan berisik naik ke dalam bis dan duduk di samping wanita muda tadi. Tas-tas bawaannya yang berat dia tumpuk begitu saja di atas kursi, membuat wanita muda itu harus menggeser duduknya sambil setengah terjepit.

Seorang pemuda yang duduk di bangku sebelah melihat kejadian itu dengan kesal, dan bertanya kepada wanita muda itu, "Kenapa kamu tidak bicara saja, katakan pada wanita tua itu bahwa kamu jadi terganggu..."

Wanita muda itu menjawab sambil tersenyum: "Aku rasa tidak perlu bersikap kasar dan beradu argumentasi untuk sesuatu yang sepele seperti ini, perjalanan bersama kita ini terlalu singkat. Saya juga akan turun di perhentian bis berikutnya di depan nanti"

Penulis kisah ini lalu beri apresiasi sekaligus hikmah dan nasehat. Isinya sebagai berikut ;

Jawaban wanita muda tadi sangat pantas untuk ditulis dengan huruf emas: "Kita tidak perlu berdebat untuk sesuatu yang sepele. Perjalanan kita bersama amat singkat."

***

Lama saya merenung atas kisah ini. Tapi, kian lama, saya makin berfikir terbalik. Seolah wanita muda ini selamat dari kesia-siaan waktu. Bila, dia membuang konsentrasi, hanya untuk menegur wanita tua yang bertindak keliru.

Padahal, pada saat bersamaan, dia membuang kesempatan untuk memperbaiki prilaku. Itulah hakekat anjuran. Dia membawa dua syarat. Ajak orang pada kebaikan dan cegah mereka dari kekeliruan. Semua agama membawa misi ini.

Dan menurut hemat saya, kedua-duanya tidak dilakukan oleh si wanita muda tersebut. Bukankah, dia bisa sampaikan dengan santun (tidak kasar) dan tanpa berdebat. Paling-paling, resiko sosialnya akan dimusuhi si wanita tua tersebut.

***

Iya, semua agama karena tugas pembawa agama (baca : nabi) adalah memperbaiki perilaku. Dan, semua nabi adalah orang baik. Orang baik pasti disayangi semua orang. Faktanya, hampir semua nabi punya musuh. Mangapa bisa ? Karena, selain baik, dia juga menyeru pada kebaikan dan kebenaran. Misi ini bernama seruan alias ajakan. Di peran yang terakhir ini lah, para nabi memproduksi musuh.

Inilah yang mumbuat nabi Isa AS, dalam keyakinan kristani, disalib. Ini pula yang dalam keyakinan islami, meyakini kisah deritanya nabi Muhammad SAW. Beliau dilempari kotaran onta dan batu hingga giginya patah. Bahkan, diancam dibunuh sebelum hijrah ke kota Yastrib alias Madinah Al Munawarah.

Bila keduanya hanya cari selamat sendiri dan tidak perlulah repot-repot menganjurkan kebaikan dan kebenaran. Mereka pasti terhindar dari kebencian umatnya masing-masing. Ada yang menyemangati. Jalan untuk kebaikan sering penuh derita. Bila kita tidak mengalaminya. Jangan-jangan kita ada di jalan yang salah.

***

Begitulah analoginya. Pastilah, wanita muda itu akan selamat sendiri dengan ketidak peduliannnya. Semuanya, dengan alasan hidup yang terlalu singkat. Namun, ibu tua itu akan tetap terjaga tindakan menyimpangnya (deviant behavior), untuk atas nama, hidup yang juga amat singkat.

Bagaimana kalau belum sempat memperbaiki perilaku (bertobat), hidup sudah berakhir. Dengan kata lain, ibu muda ini akan terbebas dari kerepotan yang dianggapnya sepele. Pada saat yang sama, ibu tua itu akan menumpuk kesalahan (baca : dosa) dari perilaku sama yang akan dia ulanginya pada orang lain. Mengapa..? Karena, tidak ada yang mengingatkannya (baca : menegurnya). Mungkin, Ini cara berfikir yang terlalu "akhirat oriented". Kalau begitu, mari kita singgahkan sedikit ke urusan dunia. Namanya managemen.

***

Kala itu tahun 1996. Sehabis belanja kebutuhan sekunder di luar kota. Kami sejumlah kawan Indonesia menunggu bis di halte pinggiran kota Lyon Perancis. Normalnya, bis akan datang sejam sekali. Kali itu, 1,5 jam baru datang.

Kami semua naik dan berebut tempat duduk. Saya perhatikan satu anak muda orang Perancis tidak peduli dengan tempat duduk yang terbatas. Dia berhenti di samping sopir bis. Dan, ini teguran anak muda itu kepada sang sopir : pourqoi vous etez en retard..? (mengapa kamu terlambat ?).

Saya terperanjat. Ada orang yang mau menegur untuk menjaga sebuah sistem manajemen transportasi berjalan baik. Sopir lalu memberi alasan. Tapi anak muda tersebut berucap. Kalau kamu bagini lagi, akan saya lapor. Sopir lantas menjawab, silahkan. Bus pun bergarak. Lalu, saya simpan kisah kejadian itu dalam buku yang saya tulis tahun 1997. Judulnya, Di Kaki Menara Eiffel.

***

Saya merenung lagi, hukum kehidupan itu memang harus saling mengingatkan. Menegur dengan cara yang baik hingga dengan cara yang tegas. Bahkan, keras (law enforcement). Tujuannya, justru untuk menjaga kehidupan itu sendiri. Dari kesewenang-wenangan. Dari ketamakan. Dan, dari ketidak adilan.

Nabi mengingatkan. Jika kamu lihat penyimpangan. Perbaikilah dengan tangan mu (kuasa). Atau, dengan mulut mu (lisan). Bila tidak, cukup dengan hati saja (berdoa). Dan, yang terakhir ini masuk kategori, selemah-lemahnya iman. Seandainya wanita muda tadi, dalam aksi diamnya, dia juga berdoa, maka dia ada di posisi ketiga. Selemah-lemahnya iman.

Tapi, kalau dia sekedar membiarkan. Karena tidak mau repot. Dan, atau karena dianggap sepele semata. Maka boleh jadi, dia tidak masuk sama sekali dari tiga kategori iman tersebut.

***

Mungkin itulah sebabnya, WS Rendra menggubahnya dalam puisi yang amat singkat. Dia membacanya dengan getaran original, bukan rekaman. Jaraknya satu jengkal dari duduk ku, sebagai moderator. Dalam satu pertemuan dengan PPI (perhimpunan pelajar Indonesia) Perancis dan AFIL (associations Franco-Indonessian de Lyon)(persatuan Masyarakat perancis dan Indonesia di Lyon). Kejadiannya sekira tahun 1995 di apartment seorang sahabat, Beri Herlambang. Letaknya di kawasan "Veux en Velin" kota Lyon-France.

Sudah 25 tahun lalu, tapi gema dari bait puisi itu terpahat di memori ku hingga kini. Ini deretannya. "Aku mendengar suara. Jeritan mahluk yang terluka. Ada orang memanah rembulan. Ada anak burung jatuh dari sarangnya. Orang-orang harus dibangunkan. Kesaksian harus diberikan. Agar kehidupan terjaga". Semoga.

Selamat menjalani tahun 2021, berharap hidup kita lebih berkualitas. Amin yaa Rabb. (*)