Bunuh Diri : Sebuah Tafsir Sosiologi


Oleh : Herman Oesman

(Dosen Departemen Sosiologi FISIP UMMU)

 

"The function of sociology, as of every science, is to reveal that which is hidden" (Pierre Felix Bourdieu - 1930-2002)

Malut Post tahun 2017, tepatnya Kamis (02/11/2017) menurunkan berita menghebohkan, tentang seorang pemuda bernama Risno (34 thn) yang nekad mengakhiri hidupnya dengan tindakan bunuh diri akibat depresi yang dialaminya. Sebelum kasus Risno, rentetan kasus bunuh diri begitu mengemuka : percobaan bunuh diri di Dufa-Dufa (Ternate, 20 Juni 2017), seseorang nekad melakukan bunuh diri setelah alasan mengurus sapi (Morotai, 20 Juli 2017), seorang istri bunuh diri menyusul suaminya (Ternate, 23 Agustus 2017), dan seorang remaja bunuh diri, karena orangtuanya tidak mengijinkan menikah dengan kekasihnya (15 September 2017).

Kasus yang sama pun menyeruak dan memanjang di tahun 2021, Kepolisian Daerah Maluku Utara mencatat terdapat 21 kasus bunuh diri, dan Halmahera Utara menempati posisi teratas dengan 12 kasus bunuh diri. Berturut-turut Kota Ternate dengan 3 kasus, lalu Halmahera Barat, Halmahera Timur, dan Kabupaten Pulau Morotai masing-masing dengan 2 kasus (Halmahera Post.Com. tanggal 12 Maret 2021). Data-data di atas memperlihatkan bahwa bunuh diri yang dilakukan bersifat individual, namun memiliki gejala supraindividual (Laeyendecker, 1983:287).

Sebuah Tafsiran

Adalah Emile Durkheim dalam buku fenomenalnya Suicide : a Study in Sociology memberi batasan, bahwa tindakan bunuh diri merupakan tindakan akibat langsung atau tidak langsung dari suatu perbuatan positif atau negatif oleh korban itu sendiri, yang mengetahui bahwa perbuatan itu akan berakibat seperti itu (Durkheim, 1950:60). Bunuh diri merupakan salah satu upaya Durkheim menguatkan tesisnya secara metodologis mengenai fakta sosial, yang berkaitan dengan pembagian kerja (The division of labour in society) dengan indikator solidaritas sosial.

Durkheim menulis, sebagaimana juga dikutip Anthony Giddens (1986:102), bahwa sudah dapat dipastikan, meningkatnya secara konsisten jumlah kejadian bunuh diri selalu memiliki kaitan dengan terjadinya pergolakan serius di dalam kondisi-kondisi organik suatu masyarakat. Karena itu, dalam pandangan Durkheim, bunuh diri merupakan gejala fakta sosial. Fakta Sosial ditandai oleh kekuatan pemaksaan yang bersifat eksternal yang diterapkan pada individu-individu. Fakta sosial merupakan kumpulan fakta individu yang dinyatakan sebagai suatu angka (rate) sosial. (Johnson, 1986:178)

Terdapat tiga karakteristik diferensiasi dari gejala sosial menurut Durkheim, yang berbeda dengan gejala individual (psikologi) : (1) Bersifat eksternal (merupakan cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang memperlihatkan sifat patut sebagai sesuatu yang berada di luar kesadaran individu). (2) Memaksa individu, di mana individu dipaksa, dibimbing, diyakinkan, didorong, atau dengan cara tertentu dipengaruhi oleh pelbagai tipe fakta sosial dalam lingkungan sosialnya. (3) Bersifat umum, atau tersebar secara meluas dalam suatu masyarakat. Fakta sosial itu milik bersama, bukan sifat individu perorangan, bersifat kolektif, dan pengaruhnya terhadap individu merupakan hasil dari sifat kolektifnya. (Johnson, 1986:177-178)

Kajian bunuh diri merupakan topik yang mendapat perhatian serius setelah Durkheim melakukan penelitian pertama kali dengan penggunaan teknik statistik modern dalam penelitian sosial, dan menegaskan bunuh diri sebagai gejala sosial. Walau pun pada era Durkheim itu terdapat tiga tafsiran umum yang dikenal tentang penyebab bunuh diri. Yakni tafsir gangguan psikologi, tafsir biologis, dan tafsir ekologis.

Dalam pandangan Durkheim (1950:63-67), tafsir gangguan psikologis melihat bunuh diri sebagai gejala individual yang terjadi akibat pelakunya menderita gangguan mental, yang digolongkan Durkheim dalam empat tipe utama gangguan mental. Durkheim pun membagi tipe-tipe bunuh diri secara psikologis : Pertama, Maniacal Suicide, bunuh diri akibat halusinasi. Kedua, Melancholy Suicide, bunuh diri dilakukan dalam keadaan depresi berat dan kesedihan berlebihan. Ketiga, Obsessive Suicide, bunuh diri yang tidak didasarkan atas suatu motivasi apapun, namun pikiran pelaku begitu kuat untuk melakukan bunuh diri. Keempat, Impulsive Suicide atau Automatic Suicide, tindakan bunuh diri semata-mata karena dorongan impulsif.

Tafsir psikologis mengenai bunuh diri menurut Durkheim sulit dipertanggungjawabkan kebenarannya, karena tidak semua tindakan bunuh diri dilakukan para penderita gangguan psikologis. Data yang digunakan Durkheim untuk menarik generalisasi bahwa bunuh diri diakibatkan faktor psikologis ternyata sangatlah terbatas. Data statistik bunuh diri yang dihimpun Durkheim memerlihatkan adanya hubungan antara bunuh diri dan beberapa ciri sosial, yaitu : jenis kelamin, agama, usia, dan asal negara pelaku bunuh diri. Dalam satuan abad, terjadi peningkatan angka bunuh diri secara teratur, dalam posisi ini Durkheim meragukan bunuh diri lebih dari sekadar hasil kerja faktor-faktor psikologis.

Demikian halnya bunuh diri dalam tafsir biologis, Durkheim menolak penjelasan bahwa terdapat hubungan bunuh diri dengan ras dan asal-usul keturunan pelaku. Begitu juga tafsir ekologis, yang merupakan tafsir paling populer saat itu tak memberikan kepuasan bagi Durkheim, karena dari data tidak terlihat keteraturan gejala bunuh diri menurut variabel ekologis : kelembaban udara, iklim, dan suhu.

Durkheim mencoba menjelaskan penyebab bunuh diri dalam perspektif sosiologis. Durkheim mendaku, walau bunuh diri merupakan tindakan individual, namun hal itu tak dapat dipandang semata-mata penjumlahan tindakan individual. Lebih dari itu, bunuh diri merupakan gejala sosial yang terjadi di dalam kolektivitas. Bunuh diri merupakan fakta sosial. Suatu fakta yang utuh meliputi individualitas dan sifat-sifat dasarnya.

Integrasi Sosial

Dalam telaah sosiologi, Durkheim lalu membagi tipe utama bunuh diri. Pertama, Egoistic Suicide, suatu bunuh diri yang terjadi karena rendahnya tingkat integrasi suatu kolektivitas. Tingkat integrasi rendah, menurut Durkheim, "memaksa" anggota-anggotanya bersandar pada diri masing-masing untuk mengambil keputusan bertindak, orang tidak dilindungi dari tindakan bunuh diri. Sebaliknya, integrasi kolektivitas tinggi, akan melahirkan kohesivitas yang kuat. Demikian halnya, pada konteks masyarakat politik, situasi politik yang tidak menentu, carut-marut, angka bunuh diri cenderung meningkat, dibanding orang melakukan bunuh diri masa tenang, damai.

Kedua, Altruistic Suicide, tipe bunuh diri ini justru menilai integrasi sosial yang kuat, kurang individuasi dan melibatkan tindakan individu. Terdapat tiga tindakan tipe bunuh diri altruistik yang saling berkaitan : (1) Obligatory Altruistic Suicide, bunuh diri dilakukan seseorang karena kewajibannya. (2) Optional Altruistic Suicide, bunuh diri dilakukan atau terbentuk secara eksplisit karena dukungan masyarakat. Misal, para prajurit yang bersedia bunuh diri untuk membela pemimpinnya. (3) Acute Altruistic Suicide atau Mystical Suicide, bunuh diri ini bukan karena paksaan/kewajiban atau dorongan pelaku memperoleh kehormatan, namun mengorbankan dirinya demi menguatkan nilai bersama.

Ketiga, Anomic Suicide, bunuh diri yang dilakukan karena ketidak-jelasan norma dan aturan cara berpikir, bertindak, dan berperilaku. Kondisi anomie ini dapat dilihat dalam konteks ekonomis maupun domestik. Secara ekonomis, dalam keadaan krisis ekonomi, apalagi pandemi seperti yang dialami masyarakat dunia saat ini, orang kehilangan orientasi yang sama dengan situasi sosial ekonomi : kurangi pengeluaran, batasi kebutuhan, tingkatkan pengekangan diri. Kondisi ini menurut Durkheim, mereka akan menyesuaikan dengan kondisi yang memaksa mereka, serta mengurangi eksistensi penderitaan mereka (Durkheim, 1950:252).

Bunuh diri merupakan gejala sosial, merupakan fakta sosial, dan tidak sekadar sebagai gejala individual. Hal ini karena kasus-kasus bunuh diri tersebar dalam kolektivitas. Karena itu, dalam pandangan Durkheim, keluarga memiliki signifikansi penting sebagai sebuah institusi yang memiliki pola normatif di masyarakat. Seseorang yang terlepas dari ikatan keluarga, akan membuat orang kehilangan pegangan untuk bertindak, berpikir, dan berperasaan. Karenanya, tingkat bunuh diri di kalangan orang yang tidak terikat (integrasi lemah) lebih tinggi daripada orang-orang yang terikat (integrasi kuat) dalam insitusi keluarga atau perkawinan. []