Tidore sebagai Tuan Rumah Pertemuan GNC Ke VII 2021


NAni Jafar

Dosen Prodi Ilmu Sejarah Unkhair

A. Pengantar

SEJAK kedatangan kapal latih kerajaan Spanyol Juan Sebastian Elcano di Tidore pada 27-29 Maret 2021, menimbulkan polemik dalam masyarakat Tidore, mulai dari masyarakat biasa sampai masyarakat yang berpendidikan tinggi (sarjana). Polemik tersebut terkait klaim masyarakat setempat bahwa di perairan mana di Tidore ketika dua kapal Spanyol, Victoria dan Trinidad (Trinity), pertama kali membuang sauhnya pada 500 tahun (8 November 1521) yang lalu.

Mulai dari Rum sampai Soasio, masyarakatnya mengklaim bahwa di perairan merekalah dua kapal tersebut lego jangkar. Klaim masyarakat seperti itu menurut penulis merupakan hal yang wajar, karena mereka pada umumnya tidak memiliki pengetahuan sejarah secara akademik (ilmiah) maupun secara komprehensif terkait Tidore, terutama pada periode kedatangan Spanyol di Tidore pada 500 tahun yang lalu maupun pengetahuan sejarah mereka tentang Tidore pada periode praIslam.

Informasi kesejarahan dan arkeologis di Tidore dan di Maluku Utara pada umumnya meskipun banyak terdapat dalam dokumen-dokumen Eropa yang ditulis sejak abad 16 hingga abad 20, namun hanya dikonsumsi secara terbatas oleh kalangan tertentu (akademisi sejarah termasuk mahasiswanya). Ketidakseimbangan informasi kesejarahan pada masyarakat di Tidore tersebut janganlah kita lantas saling menuding siapa yang bersalah dan siapa yang bertanggung jawab terkait polemik kesejarahan tersebut. Marilah kita duduk secara bersama-sama sambil minum kopi membahas “jalan buntu” yang dihadapi oleh kita semua.

Kebuntuan tersebut disebabkan oleh sejak jenjang SD hingga SMA kita tidak pernah diajarkan pengetahuan sejarah lokal secara ilmiah dan komprehensif mengenai Tidore pada jenjang tersebut. Kelemahan itu pun hingga kini masih terlihat bahwa di sekolah-sekolah pada jenjang tersebut tidak memiliki kurikulum terkait mata pelajaran sejarah lokal, pada hal banyak pengetahuan kesejarahan yang tersimpan rapi dalam bentuk dokumen dalam perpustakaan daerah dan nasional, serta sumber sejarah lisan dan benda mengenai Tidore masih banyak berserakan dan tersebar di berbagai tempat dan hingga kini belum terkumpul untuk dibukukan guna kepentingan pembelajaran di sekolah-sekolah tersebut.

Berserakannya sumber-sumber sejarah itu perlu ditindaklanjuti melalui proyek penelitian dan penulisan sejarah lokal secara akademik untuk kepentingan pengajaran di sekolah pada jenjang tersebut. Dengan demikian, menurut hemat penulis kondisi disinformasi kesejarahan sebagaimana yang dipolemikan di atas menjadi salah satu pemicu dan klaim-mengklaim dalam masyarakat Tidore di berbagai tempat terkait kedatangan kapal Spanyol di Tidore pada masa lalu dan beberapa hari yang lalu.

Selama ini para pengambil kebijakan dalam bidang pendidikan setempat yang terkait dengan sejarah setempat hanyalah sebagai pelengkap di jenjang pendidikan SMA dan dianggap tidak begitu penting, sementara itu pada jenjang pendidikan di SD dan SMP tidak ada mata pelajaran sejarah lokal dalam kurikulum. Oleh karenanya kita perlu berkaca pada polemik dalam masyarakat sehubungan dengan kedatangan kapal Spanyol itu. Hal ini semata untuk perbaikan kurikulum terutama di SD dan SMP yang ada di Tidore agar semua masyarakat setidaknya dapat memahami sejarah lokal di lokalitas Tidore dan sekitarnya.

Dalam artian bahwa kita harus jujur kemukakan fakta dan data sejarah di wilayah mana di Tidore pada 500 tahun yang lalu Spanyol pertama kali lego jangkar di Tidore. B. Pertemuan Anggota GNC Ke VI di Kota Cebu, Philipina Sekitar tahun 2016 yang lalu, di Kota Cebu Philipina, telah berlangsung pertemuan anggota Global Network Cities (GNC) ke- VI atau disebut sebagai Jaringan Kota-Kota Magellan ke- VI di Kota Cebu. Terbentuknya GNC sebagai sebuah himpunan jaringan kota-kota Magellan karena pernah disinggahi oleh Magellan dalam pelayaran mengelilingi dunia pada masa lalu.

Namun sayang, ia mati terbunuh di Kota Cebu dan tidak sempat mencapai Maluku, dan pelayaran ke Maluku itu kemudian diteruskan oleh Juan Sebastian Elcano hingga mencapai Maluku tahun 1521. Dalam catatan sejarah, de Elcano dikenal dan dikenang oleh bangsa Spanyol sebagai orang pertama yang mengelilingi dunia dalam pengertian harfiah. Juan Sebastian de Elcano merupakan bagian dari penjelajahan Magellan. Kenangan penjelajahan samudra karena peran penting de Elcano pada 500 tahun yang lalu, kini diwujudkan oleh pemerintah Spanyol dalam bentuk pembentukan kelompok GNC (Jaringan Kota-Kota Magellan).

Dalam pelayaran mengelilingi dunia, de Elcano yang merupakan bagian dari ekspedisi Magellan pernah menyinggahi kota-kota di dunia yang dilaluinya dalam pelayaran itu. Tujuan utama pembentukan GNC adalah sebagai media tukar ide bagi kota-kota dalam jaringan itu untuk mempromosikan pariwisata sejarah dan bahari mereka dan pihak kerajaan Spanyol, termasuk Indonesia yang diwakili oleh Kota Tidore Kepulauan. Tidore dilibatkan karena pada masa lalu berperan penting sebagai salah satu produsen cengkeh dunia di Maluku. Pertemuan anggota GNC di Kota Cebu, melahirkan banyak agenda penting yang tidak saja menyentuh dari aspek pariwisata sejarah dan bahari, tetapi banyak hal yang lain, seperti ekonomi dan kebudayaan.

Salah satu agenda penting yang dibahas adalah bagaimana kelanjutan dari pertemuan tersebut. Hal ini telah memunculkan beberapa pandangan dari para peserta pertemuan terkait dengan rencana pertemuan GNC ke VII nanti. Setelah melalui berbagai diskusi terkait fakta sejarah pada masa lalu dari perjalanan Magellan dan de Elcano ke Maluku, lahirlah ide bahwa pertemuan GNC ke VII nanti akan dilaksanakan di Indonesia, dan Tidore merupakan salah satu kota terpenting dunia pada era Magellan dan de Elcano ditetapkan sebagai tuan rumah dalam pertemuan anggota GNC ke VII yang akan datang. C. Rencana Pertemuan Anggota GNC Ke VII di Tidore 2021 Setelah final keputusan dalam pertemuan GNC ke- VI di Cebu Philipina, Presiden GNC melalui Kedutaan Besar Spanyol di Jakarta mengontak Pemerintah Kota Tidore Kepulauan untuk dimintai kesediaan dan kesiapan kelangsungan pertemuan ke- VII nanti.

Akan tetapi, langkah yang ditempuh Pemkot Tidore adalah mengunjungi Spanyol pada beberapa waktu lalu dengan agenda yang tidak terlalu jelas. Kini, Wali Kota Tidore Kepulauan ditetapkan sebagai Wakil Presiden GNC. Melalui tulisan ini penulis sangat berharap Pak Wali Kota Tidore membangun komunikasi secara intensif dengan Presiden GNC, Kementrian Pariwisata, Sultan Tidore, Gubernur Maluku Utara, dan Wali Kota Ternate untuk memantapkan agenda yang dipersiapakan dan akan dibicarakan dalam pertemuan GNC Ke- VII itu. Selain itu, penting untuk memberikan informasi ke publik di Tidore, Maluku Utara, dan Indonesia terkait agenda yang dipersiapkan Tidore untuk dibahas dalam pertemuan nanti.

Dalam rangka penguatan informasi sehubungan dengan progres agenda GNC, penulis berharap kepada Pemkot Tidore memberikan informasi secara terbuka kepada publik melalui wawancara di media televisi swasta nasional di Jakarta. Dengan begitu, diharapkan akan memperoleh pembobotan agenda pertemuan maupun dukungan financial (berbagai pajak promosi dan pajak penjualan produk tertentu) dari para pengusaha swasta nasional selama berlangsungnya sail Tidore maupun pertemuan GNC ke- VII dengan acara puncaknya pada bulan September 2021.

Berdasarkan hasil bacarita penulis dengan rekan-rekan dari birokrasi maupun akademisi di Ternate, terdapat beberapa point yang dapat diusulkan sebagai agenda dalam pertemuan GNC ke- VII nanti, yaitu : 1. Bidang Pendidikan. Dalam pertemuan itu diharapkan memperoleh dukungan kebijakan terkait usulan beasiswa untuk studi lanjut ke jenjang doktor oleh para dosen di Maluku Utara di Spanyol. 2. Pertukaran Kebudayaan.

Mengirimkan sejumlah pemuda/pemudi asal Tidore maupun Maluku Utara secara umum ke Spanyol dan sebaliknya untuk mempelajari tradisi, budaya, dan sejarah kedua negara, dan memungkinkan mempelajari keturunan dan kehidupan sekitar 16 orang Tidore yang pernah ikut bersama de Elcano dengan kapal Victoria ke Spanyol setelah memuat cengkeh di Tidore pada tahun 1521 yang lalu. 3. Kerja sama dalam bidang pariwisata sejarah dan bahari. 4. Kerja sama dalam bidang ekonomi antara Tidore dengan para anggota delegasi GNC ke VII dalam pertemuannya di Tidore nanti. D. Penutup Melalui tulisan ini penulis berharap semoga kita lebih terbuka dan bijaksana dalam menyikapi polemik dan disinformasi masyarakat mengenai pengetahuan sejarah di lokalitas Tidore dan di Maluku Utara pada umumnya. Disinformasi pengetahuan sejarah yang muncul di tengah masyarakat kini setidaknya dijawab melalui pengkajian dan penelitian sejarah secara lebih komprehensif dan mendalam agar berbagai fakta dan data sejarah di lokalitas Tidore bisa terungkap dan dibukukan untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran pada jenjang SD, SMP, dan SMA di Kota Tidore Kepulauan.

Melalui tulisan ini pula disampaikan bahwa empat point hasil bacarita di atas disambut baik oleh Duta Besar Spanyol di Jakarta dan para Atasenya yang pernah berkunjung ke Tidore dan Ternate pada beberapa hari yang lalu seiring dengan kedatangan kapal latih Spanyol Juan Sebastian Elcano. Diharapkan point-point itu pula mendapat sambutan positif dari pihak Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Kesultanan Tidore, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan, Pemerintah Kota Ternate untuk diboboti dan dijadikan sebagai bagian dari agenda yang akan dibahas lebih lanjut pada pertemuan anggota GNC ke- VII di Tidore pada September 2021 nanti. (*)