Terbebani Cicilan, Tukang Ojek Tunjukkan Video Jokowi

M. Run

Ternate, malutpost.id – Dampak kebijakan social distancing dan physical distancing saat ini sangat terasa di semua sektor ekonomi. Hampir semua profesi merasakan imbasnya, tak terkecuali tukang ojek di Kota Ternate. Pemasukan sehari-hari yang berkurang drastis membuat mereka kesulitan menafkahi keluarganya.

Muhammad D. Noho, salah satu tukang ojek di Ternate mengaku, pasca keluarnya imbauan berdiam diri di rumah dalam sehari bisa mengantongi Rp 30 ribu saja sudah dianggap beruntung. Saat ditemui malutpost.id di depan kantor Wali Kota Ternate, lelaki 58 tahun itu mengakui pendapatan ia dan rekan-rekannya terjun bebas. Dalam sehari paling banyak hanya bisa bawa pulang Rp 30 ribu sampai Ro 40 ribu.

“Kalo situasi normal dulu, satu hari bisa dapat Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu. Sekarang keluar pagi sampai Magrib cuma Rp 30 ribu," ungkap bapak delapan anak itu, Minggu (12/4).

Agar asap di dapur terus mengepul, pria yang karib disapa Mad ini nekat mengambil risiko mencari penumpang. Kendati risiko terpapar virus bisa dibilang tinggi.

Pasalnya, selain menghidupi anak dan istri, Mad juga dihadapkan dengan cicilan kredit motor yang harus disetor Rp 900 ribu tiap bulan. "Sudah dua bulan ini saya terlambat bayar cicilan. Saya betul-betul pusing mau bagaimana lagi. Jatuh tempo tanggal 3 tapi saya belum setor sampai sekarang," aku warga Kelurahan Kastela, Kecamatan Pulau Ternate itu.

Mad cerita, saat mendapat informasi Presiden Joko Widodo mengeluarkan kebijakan relaksasi angsuran setahun bagi UMKM, tukang ojek maupun nelayan yang memiliki kredit, Mad lantas menuju kantor finance tempat dia mengambil kredit. Kepada pegawai di situ, dia tunjukkan rekaman video pernyataan Presiden yang disimpan di ponselnya. “Saya langsung bawa itu dan tunjukkan, tapi mereka bilang belum terima edaran soal itu," ujarnya.

Serupa, M. Run, warga Takoma, Kecamatan Ternate Tengah juga mengaku harus bersusah payah setiap hari. Run pun rata-rata hanya berhasil mengantongi Rp 40 ribu dari hasil narik. Saat ditemui malutpost.id, lelaki 63 tahun itu baru mendapat Rp 15 ribu. "Sekarang sudah jam 2 (sore) lewat tapi saya baru dapat Rp 15 ribu," kata ayah dua anak itu.

Dia juga menyoroti harga masker yang melambung tinggi. Menurutnya, sebagai tukang ojek dengan kondisi saat ini, harus berpikir dua kali untuk membeli masker dengan harga Rp 20 ribu. Bahkan mereka juga dilarang masuk ke dalam apotik jika tanpa menggunakan masker. "Sekarang kalau ada keluarga saya yang sakit dan uang saya pas-pasan, apakah saya lebih pilih beli masker atau obat?" katanya sembari menunjuk masker kain yang sudah ia gunakan lebih dari 2 bulan. "Masker ini kita cuci habis pakai, jadi jangankan bantuan sembako, masker saja tidak ada," beber Nuh.

Beberapa rekan Nuh yang ikut mangkal di depan Bank Maumalat Ternate lantas ikut menimpali. Mereka meminta kebijakan pemerintah memberlakukan physical distancing dibarengi dengan penyaluran bantuan sembako. "Kalau kita disuruh untuk tetap di rumah, memangnya tiap bulan kita terima gaji? Satu hari dapat Rp 30 ribu saja susah seperti ini," sambung beberapa ojek lainnya.

Sementara itu, harapan para tukang ojek soal bantuan sembako tampaknya bakal terealisasi dalam waktu dekat. Jumat (10/4) lalu Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman menyatakan Pemerintah Kota akan memberikan bantuan stimulan untuk warga terdampak situasi Covid-19 jelang Ramadan.(ikh)