Blue Bayou Hantarkan Kapita Tomole ke Peristirahatan Terakhir

KENANGAN: Kapita Tomole Kesultanan Ternate Anis Senen (baju hitam paling kanan) saat mendampingi Ofa Hidayat Mudaffar Sjah di Belanda 2018 lalu. (TIFAMAGAZINE)

Ternate, malutpost.id – Kabar duka menyelimuti Kesultanan Ternate. Kapita Tomole Anis Senen yang berkediaman di Belanda berpulang. Anis dikabarkan meninggal pada usia 66 tahun setelah terpapar Covid-19 5 April lalu.

 

Putra mendiang Sultan Ternate Mudaffar Sjah, Ofa Firman Mudaffar Sjah mengungkapkan, Anis merupakan anak seorang Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Orangtuanya berasal dari Desa Hoku Hoku, Kecamatan Jailolo, Halmahera Barat. Keluarga ini sudah lama tinggal di Belanda.

 

Anis dilantik sebagai Kapita Tomole pada 1988 oleh Sultan Mudaffar. Ia juga dikenal dekat dengan keluarga inti Kesultanan Ternate. Setiap kali Sultan Mudaffar atau anak-anaknya berkunjung ke Belanda, Anis selalu mendampingi.

 

Pada 2018 lalu ketika putra Sultan Mudaffar yang lain, Ofa Hidayat Mudaffar Sjah berkunjung, Anis terlihat mendampinginya. Bahkan dalam wawancara dengan tifamagazine.com, Hidayat secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Anis yang telah menjadi Kapita sejak 30 tahun silam. “Tahun 2019 saya ke Belanda juga sempat ke rumah beliau,” tutur Firman kepada malutpost.id, Selasa (14/4).

 

Berpulangnya Anis menimbulkan duka bagi keluarga Kesultanan. Firman mengungkapkan, Kesultanan kehilangan seorang keluarga dekat. “Tentunya sangat kehilangan karena hubungan kekeluargaan yang sangat baik dan terjalin sudah lama serta almarhum orangnya sangat low profile,” ucapnya.

 

Kedekatan Anis dengan keluarga Kesultanan Ternate juga digambarkan Victor Joseph. Sekitar 25 tahun lalu ketika Victor bekerja untuk majalah Marinjo, ia berkesempatan mewawancarai Sultan Mudaffar kala berkunjung ke Belanda. Saat itu ada sekitar enam pria asal Ternate dan Halmahera namun telah bermukim di Belanda yang mendampingi Sultan. Salah satunya adalah Anis. “Waktu itu setahu saya Sultan melakukan kunjungan pribadi ke rumah salah satu teman lama di Belanda. Saat wawancara Sultan menunjukkan fotonya yang memakai mahkota pada saya. Dan Anis ada di sana juga. Sultan adalah orang yang bijaksana,” tutur Victor kepada malutpost.id.

 

Setelah pertemuan itu, Victor sempat pula bertemu Anis pada kesempatan lain. Salah satu Pendiri TaskForce Maluku-Malut itu digambarkan Victor sebagai orang yang bae-bae. “Tidak banyak bicara, tapi baik,” sebutnya.

 

Sabtu (11/4) pekan lalu jenazah Anis dikremasi. Prosesi peribadatan untuk pelepasan jenazahnya dipimpin Pendeta Domina M Waelauruw-Talabessy dan dapat diikuti secara daring oleh kerabat. Lagu favorit Anis, Blue Bayou dari Linda Rondstadt, mengiringi persemayamannya.

 

Dalam sebuah video yang beredar luas, seorang pria tampak memberikan penghormatan terakhir kepada Anis. Ia adalah Tobias Jano, juga seorang asal Maluku Utara, dan tergabung dalam grup Cakalele Dadatoko Halmahera. Tobias mengenakan kostum penari cakalele, lengkap dengan salawaku di tangannya.

 

Dalam penghormatannya, Tobias melepas Anis dengan kalimat berbahasa Ternate “tagi jo, tagi laha-laha” yang artinya “pergilah, pergi dengan baik.”

 

Selamat beristirahat, Kapita.(kai)