Banting Setir Jual Masker, Cara UMKM di Ternate Bertahan di Tengah Corona

Pemilik rumah oleh-oleh, Kustalany saat menjajakan masker. (IKRAM SALIM/MALUTPOST.ID)

Ternate, malutpost.id - Wabah virus corona (Covid-19) membuat ekonomi dunia usaha anjlok. Para pelaku usaha harus putar otak agar bisa bertahan. 
 
Kustalany Syakir salah satu pelaku UMKM misalnya, terpaksa memilih menjual masker karyanya sendiri dengan harga Rp 15 ribu per masker. 
 
Saat ditemui di rumahnya, pemilik rumah oleh-oleh Maluku Utara ini mengaku terpukul dengan wabah saat ini. "Kebutuhan kita banyak, untuk biaya listrik saja 1 bulan Rp 3 juta lebih, jadi kita harus cari usaha lain," kata Kustalany, kepada malutpost.id, Selasa (12/5)
 
Pengusaha batik Tubo ini bahkan harus merumahkan 6 karyawannya karena sudah tidak bisa menggaji mereka. Sebab, sejak 3 bulan produknya sudah tidak laku, ini berbeda dengan sebelumnya dimana dalam sehari dia bisa mendapat Rp 3 juta dari hasil penjualan. "Penjualan kita setiap hari itu tidak ada, orang sudah tidak belanja, biaya pengeluaran kita besar," ujarnya.
 
Dalam diskusi via zoom dengan Plt Sekda yang dipandu Mokhtar Adam dia meminta pemerintah segera mengambil langkah membantu UMKM agar bisa bertahan. Pasalnya, rumah oleh-oleh miliknya membawahi sekitar 60 UMK dan IKM di Ternate yang sudah tidak bisa memproduksi lagi. "Saya sampaikan harusnya ada resep dari pemerintah karena mereka punya anggaran tapi sampai hari belum ada langkah makanya saya minta UKM untuk hentikan sementara produksinya," katanya.
 
Kondisi serupa juga dialami swalayan Tara no Ate yang juga merumahkan 14 karyawannya. Menejer Tara no Ate, Burhanudin Rope mengatakan, saat transaksi penjualan mereka anjlok. Menurutnya, biasanya penjualan mereka dalam sehari bisa mencapai Rp 4 sampai 7 juta namun saat corona paling tinggi hanya Rp 60 ribu. "Kadang juga tidak ada sama sekali," akunya saat ditemui di swalayan.
 
Dia mengaku kesulitan mendongkrak penjualan ditengah wabah saat ini. Dari 1621 produk kata Bur sapaannya, hanya beberapa produk yang masih laris terjual salah satunya air guraka."Cuma air guraka saja karena banyak yang cari selain itu semua anjlok makanya kita hentikan semua produk makanan UMKM," ujarnya.
 
Menurutnya, Pemkot mestinya bisa menyiasati dengan anggaran yang ada agar UMKM bisa bertahan. "Saya membawahi 154 UMKM dan IKM yang tersebar di Malut, sekarang semuanya terancam jadi kita berharap harus ada langkah," pungkasnya. (ikh)
 
-
Editor: Ikram Salim