Transaksi Gelap di Terminal-Rusunawa


Grafis

TERNATE - Terminal angkutan penumpang di Gamalama, dipenuhi lapak berkonstruksi baja. Lokasi seluas 8.415 meter persegi ini sudah dipenuhi lapak dengan berbagai ukuran dan beragam jualan di lapak tersebut. Alhasil, terminal-pun berubah fungsi menjadi pasar. Padahal, terminal ini telah diapit tujuh bangunan pasar. Hasil penelusuran koran ini, jumlah lapak di dalam terminal Gamalama sebanyak 90 unit, 63 unit di antaranya telah ditempati.

Sementara masih ada 27 unit dalam tahap pekerjaan, namun sudah ada hak milik. Saking banyaknya lapak ini, pandangan ke pasar utama di bagian timur, tidak lagi kelihatan. Bahkan, jalan akses ke rusunawa, bagian utara Terminal ditutup dan hanya dibuat satu jalur akses masuk. Eksotik rusunawa pengengkap letak terminal hilang ditutupi jejeran lapak. Hasil identifikasi dari 90 lapak ini, sebanyak 16 unit digunakan untuk menjual pakaian, sepatu dan assesoris. Sebanyak 20 unit warung makan, sementara jual sembako 4 unit, konter handpone 2 unit, sisanya belum diketahui pasti, apa yang akan dijual.

Lantaran masih dalam proses pembangunan. Padahal, sebelumnya, kepala dinas Perhubungan Faruq Albaar mengaku, lapak di Terminal hanya akan dibangun beberapa saja, khusus warung makan, sebagaimana fungsi Terminal itu sendiri. Lapak-lapak ini, mulai terbangun sejak bulan januari lalu. Sebanyak kurang lebih 28 lapak. Mantan Wali Kota Burhan Abdurahman, bahkan sempat turun langsung meminta untuk tidak lagi menambah jumlahnya.

Karena akan merusak estetika dan tujuan renovasi terminal untuk menghilangkan kesan kumuh, tidak bisa terwujud. Ironisnya, tiba-tiba setelah jabatan Burhan berakhir 17 Februari lalu, lapak tumbuh bagai jamur di musim hujan. Sebanyak 62 unit dalam waktu satu bulan setengah dibangun. Malut post, mencoba menemui kurang lebih lima pedagang yang sudah menempati lapak tersebut. Jawabannya sangat mengejutkan. Lapak ini, ternyata dibeli dengan harga yang mencapai Rp25 juta per unit. Dengan ukuran 2x3 meter. Sementara ukuran 1,9x2 meter juga sama, Rp25 juta.

Harga ini, ternyata bagi yang mendapat kesepakatan dengan pihak Dinas. Namun ada juga yang mendapat harga Rp30 jutaan. Hara ini diperoleh di tangan kedua alias calo. Jika dijumlahkan, maka hasil penjualan 90 unit lapak ini mencapai 2,250 miliar. Jumlah ini, belum termasuk lapak di depan rumah susun sewa (rusunawa).

Hasil identifikasi, sebanyak 31 lapak baru terbangun. Sebanyak 22 lapak sudah terisi, sementara 9 masih kosong. Dari 22 ini, 8 unit diantaranya berisi pakaian, asessoris dan sepatu. Satu unit rumah makan dan dua unit sembako. Sementara 11 unit masih dalam tahap penyelesaian banguan oleh pemilik. Penempatan lapak di depan rusunawa ini, dari dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag). Meskipun, rusunawa sendiri di bawah pengelolaan Dinas Perkim. Alhasil, ruang parkir dan tamanpun nyaris tidak tersisa. Hasil penelusuran, harga lapak di rusunawa ini juga sama halnya di dalam Gamalam. Dimana per lapak dengan ukuran 2x2 meter, dipatok Rp25 juta. Namun pedagang mengaku hanya Rp7 juta per lapak. Harga 7 juta ini, disetor langsung ke Perindag. Sementara sisanya diberikan ke salah satu kepala bidang disperindag berinsial A, melalui anak buahnya. Begitu juga 57 lapak di pasar buah di depan jalan utama. Dimana per lapak dijual Rp9,3 juta.

Sebagian disetorkan langsung ke Perindag, sebagian ke anakbuah-nya kabid inisial A tersebut. "Informasi itu bohong, fitnah," singkat kabid A, saat dikonfirmasi. Tidak semua pedagang berkesempatan dapat lapak-lapak ini. Hanya mereka yang bermodal saja, bahkan satu orang bisa miliki dua sampai tiga unit lapak. Baik di rusunawa maupun di dalam terminal. Sama seperti depan rusunawa, model transaksinya ada yang menyetorkan langsung ke Dishub melalui kepala Terminal Zulkarnain.

Ada juga melalui Ci Ima, selaku koordinator. Setelah Ima mengumpulkan, barulah disetorkan ke Zulkarnaian. Ironisnya, semua transaksi bawah tangan ini, tanpa bukti kwitansi. Pedagang percaya, kalau uang yang diberikan itu terjamin. "Saya beli satu lapak dengan harga Rp25 juta. Uangnya saya serahkan langsung ke Ci Ima," aku salah satu bapak, pedagang pakean di deretan selatan Terminal. Tidak semua pedagang mengakui harga transaksi ilegal ini.

Mereka diminta menjaga rahasia, agar tetap aman dalam berjualan. Untuk bisa mengetahuinya, malut post harus menyamar sebagai pedagang yang sedang mencari lapak. Ci Ima alias Ima, berhasil ditemui. Namun tidak mau memberikan keterangan. Kendati begitu, gesture Ima kelihatan gugup dan cepat-cepat menghindar meninggalkan wartwan. Ima sendiri memiliki satu lapak di Terminal, isi-nya Sembilan bahan pokok di deretan selatan Terminal.

Selain satu lapak itu, Ima juga ternyata punya lapak di lantai dua pasar Percontohan. Begitu juga pedagang lainnya. Rata-rata telah memiliki lapak di pasar percontohan dan juga pasar Kota Baru. Sehingga ada pedagang yang memiliki tiga sampai empat lapak. "kasihan, torang ini bajual puluhan tahun. Tapi hanya dengan satu tempat saja, hanya karna tidak punya modal seperti para pedagang pakain ini. Kalau saja pemerintah menertibkan lokasi terminal, dibuat secara adil supaya semua orang yang punya hak mencari hidup di pasar atau terminal ini, bisa terakomodir secara adil," kata Yana, pedagang makanan.

Sementara kepala Terminal Zulkarnaen Baso, saat dikonfirmasi berkilah adanya pungutan hingga mencapai Rp25 juta bahkan sampai Rp30 juta dari tangan Ci Ima. Sebab dia sendiri baru kenal Ima, setelah meminta lapak untuk berjualan. Zulkarnaen menyampaikan, harga lapak di dalam terminal dipungut hanya untuk biaya pembangunan sebesar Rp6 juta per lapak, dengan luas 2x2 meter dan 2x3 meter. Anggaran itu diserahkan ke pihak ketiga untuk membeli bahan, berupa baja ringan dan seng. "Kalau Rp25 juta itu pedagang siapa yang bilang. Nanti saya tanya, dia berikan ke siapa," kilahnya.

Zulkarnaen mengaku, penambahan lapak ini dibuat karena atas rekomendasi DPRD. Karena saat dibangun 28 unit, banyak pedagang menuntut dan mengaduh sampai DPRD turun ke lokasi. "DPRD yang memperbolehkan assesoris dijual dalam terminal. Hanya pakaian saja yang tidak bisa. Khusus lapak kain gorden itu nanti kami tegur," katanya. (mg-02/udy/yun)