Breakwater Dermaga Hiri Gunakan Tetrapod


INFRASTRUKTUR : Dermaga Hiri yang dirancang untuk menggunakan tetrapod sebagai breakwater, di Kelurahan Sulamadaha.

TERNATE - Pemerintah Kota Ternate akan menggunakan konstruksi Tetrapod sebagai pemecah ombak (Breakweter) Dermaga Pulau Hiri, di Pantai Kelurahan Sulamadaha. Hal ini disampaikan kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Ternate, Risval Tri Budiyanto, usai menghadiri pertemuan dengan Wali Kota Ternate, M Tauhid Soleman, kemarin.

Rapat tersebut digelar bersama Dinas Perhubungan (Dishub), Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), dan Badan Perencanaan dan Penelitian, Pengembangan Daerah (Bappelitbangda). Risval menuturkan, PUPR memberikan pertimbangan, agar Breakwaters dermaga pulau Hiri menggunakan teknologi yang lebih modern yaitu Tetrapod. Pertimbangan tersebut juga sudah disetujui Wali Kota. "Sudah disetujui. Pak Wali juga sudah perintahkan ke PUPR, untuk melakukan perhitungan khusus terkait anggaran tetrapod, untuk selanjutnya akan dipaparkan ke pak Wali.

Pada prinsipnya, kegiatan ini siap dijalankan," kata Risval. Estimasi anggaran kata Risval, berdasarkan perintah Wali Kota akan disampaikan langsung ke BPKSD. Hal ini agar dilakukan penggabungan antara anggaran dari PUPR dan Dishub. Setelah itu baru mulai dikerjakan. Risval memastikan, pekerjaan bisa mulai dilakukan tahun ini. “Yang diperintahkan ke kita sekarang adalah, menghitung kembali jumlah anggaran khusus untuk Tetrapod," ujarnya. Tetrapod jelas Risval adalah, konstruksi pemecah ombak yang sudah diterapkan di kota-kota lain.

Menurutnya, jika pemecah ombak masih menggunakan pasangan batu, maka itu terlalu bersifat konvensional. "Kalau menggunakan batu kosong, saya pikir tidak mampu menahan hempasan ombak yang ada. Apalagi kedalaman pelabuhan Hiri dengan ombak yang begitu besar, yang pada musim-musim tertentu ada perubahan cuaca yang sangat drastis. Karena utu, Tetrapod akan lebih efektif," jelasnya. Memang dari sisi anggaran, Risval mengaku bahwa, Tetrapod jelas lebih mahal jika dibandingkan dengan batu kosong. Akan tetapi, jika dilihat dari sisi jangka panjang, maka Tetrapod akan lebih efektif.

"Karena kalau pemasangan batu kosong kan tidak ada pengikat dibawah, makanya kami memilih konstruksi Tetrapod," jelasnya. Dengan menggunakan konstruksi Tetrapod, Risval menilai peluang untuk mendapat dukungan dari kementerian Balai juga akan semakin terbuka lebar. Sebab bisa dilihat dari hibah kementerian terkait dengan berapa banyak Tetrapod yang nantinya digunakan. Apakah itu melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) ataupun cipta karya yang lain. "Kalau hibah untuk Tetrapod dari kementerian saya rasa sangat bisa," tandasnya. (tr-01/yun)