Pendapatan Mengalir ke Rekening Dirut


UNIT USAHA: Tempat penggilingan daging milik Perusda yang berada di kawasan pasar Higienis, kelurahan Gamalama

TERNATE - Holding Company yang diharapkan bisa memberi manfaat bagi daerah, justru tidak dikelola dengan baik. Dampaknya, sejumlah aset Perusda digadai bahkan ada yang tidak diketahui keberadaannya lagi. Selain itu, PT. Alga Bahari Berkesan sebagai anak perusahaan juga kolaps. Tak hanya itu, belakangan diketahui sejumlah hasil usaha justru mengalir ke rekening pribadi Direktur Utama Holding Company, Ramdani Abubakar.

Keuntungan yang diduga mengalir ke rekening pribadi ini, bersumber dari usaha Penggilingan Daging. Usaha ini adalah salah satu unit usaha di bawah Holding Company, yang merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Ternate. Informasi yang dihimpun Malut Post, Ramdhani beberapa kali memerintahkan ke Riyadi, selaku pengelola unit usaha Penggilingan Daging untuk mentransfer uang ke rekening pribadinya.

Transaksi di luar rekening kantor ini mulai dilakukan Ramdhani, dan menghentikan penyetoran pendapatan Penggilingan Daging ke kantor. Selain melalui tranfer, Ramdhani juga sering memerintahkan salah satu stafnya bernama Zul untuk menagih ke Riyadi. Perlu diketahui, usaha Penggilingan Daging yang bertempat di sekitaran Pasar Higienis tersebut dibuka pada bulan Maret tahun 2019.

Penyetoran yang dimasukkan oleh pengelola ke kantor Holding Company sebesar 5 juta rupiah per bulan. Penyetoran lancar dilakukan ke kantor sejak bulan Mei 2019 hingga Februari 2020. Menurut Riyadi, saat disambangi Malut Post kemarin menuturkan, penyetoran ke kantor terhenti pada bulan Februari 2020. Karena saat itu kondisi kantor tidak lagi stabil. Masuk ke bulan Maret 2020, Ramdhani mulai meminta uang ke Riyadi sebesar 15 juta rupiah untuk ditranfer ke rekening pribadi. Riyadi pun memenuhi permintaan Ramdhani. Uang tersebut diminta oleh Ramdhani dengan alasan untuk penyetoran tiga bulan, terhitung untuk Maret, April, dan Mei 2020. Akan tetapi sebelum masuk ke bulan Juni, Ramdhani sudah kembali meminta uang ke Riyadi dengan nominal yang bervariasi.

Mulai dari 2 juta hingga 3 juta rupiah. Beberapa bulan berselang, Riyadi kembali diminta oleh Ramdhani untuk datang ke rumahnya. Menurut Riyadi, ia diperintahkan untuk menyiapkan uang sebesar 6 juta rupiah, dengan alasan akan ada pemeriksan dari Jaksa. Seingat Riyadi, momen tersebut terjadi sekitar bulan September 2020. "Karena namanya atasan, kita harus loyal. Saya kasih uang 6 juta," ujar Riyadi.

Riyadi menuturkan, setelah permintaan uang 6 juta rupiah tersebut, dua pekan berselang, Ramdhani kembali meminta uang senilai 2 juta dengan alasan karena sedang berada di Weda, Kabupaten Halmahera Tengah. Permintaan tersebut dipenuhi Riyadi, kemudian memberikan uang tersebut melalui Zul. Sekembalinya dari Weda, Ramdhani kembali meminta uang 2 juta rupiah. Riyadi menuturkan, dirinya tidak mengetahui persis total uang yang ia setor ke Ramdhani sejauh ini, baik melalui transfer ke rekening pribadi, maupun diberikan melalui Zul. "Saya tidak ingat betul jumlahnya, tapi kwitansinya semua ada di pak Zul," ungkapnya.

Selain itu, sejak tidak lagi melakukan penyetoran langsung ke kantor, Riyadi juga dibebankan uang sebesar 1 juta rupiah per bulan untuk pembayaran listrik kantor Holding Company. Uang tersebut selalu diberikan Riyadi melalui Zul. "Terakhir kurang lebih dua bulan lalu saya diminta oleh pak Zul untuk menyiapkan uang 3 juta. Katanya untuk pembayaran apa begitu," tandas Riyadi. Sementara Ramdani Abubakar sejuah ini belum berhasil dihubungi wartawan. (tr-01/yun)