Pilot Project Pengelolaan Sampah Berbasis Partisipasi Masyarakat


PILOT PROJECT : Wali Kota Ternate, M Tauhid Soleman, saat melakukan simulasi pembuangan sampah dari armada roda tiga ke Trans Depot, di Kelurahan Bastiong Karance, kemarin (15/6).

TERNATE - Persoalan sampah bukan hanya terjadi di Kota-Kota berkembang seperti Ternate. Tetapi di Kota-Kota lain dengan skala metropolis sekalipun kerap direpotkan dengan sampah. Maka, dibutuhkan tenaga dan pikiran yang ekstra aktif, serta kolaborasi semua pihak agar persoalan sampah bisa diminimalisir. Ini merupakan langkah awal yang harus dimulai, karena dengan partisipasi dan kolaborasi, diharapkan dapat meminimalisir persoalan sampah tersebut.

Saat ini sampah menjadi persoalan serius di Kota Ternate. Terutama beberapa titik di pusat Kota yang padat penduduk, dengan jumlah konsentrasi sampah yang besar. Sehingga, yang perlu dilakukan untuk mengatasi peningkatan volume sampah adalah mengurangi volume sampah dari sumbernya.

Yakni dilakukan melalui pemberdayaan atau partisipasi masyarakat. Sebab, masalah-masalah pengendalian sampah Kota adalah tanggung jawab bersama sebagai masyarakat Kota. Pemerintah Kota (Pemkot) dalam masa 100 hari kerja Ternate Mandiri dan Berkeadilan (Ternate Andalan), akan berupaya meminimalisir penumpukan sampah. Cara yang digunakan adalah melalui pilot project pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat. Launching Trans Depot Sampah di Kelurahan Bastiong Karance dan Kelurahan Bastiong Talangame pagi kemarin (15/6), merupakan bentuk implementasi atau Pilot Project dalam upaya penanganan sampah.

Launching dilakukan oleh Wali Kota Ternate, M Tauhid Soleman. Secara teknis, dalam launching tersebut, diperlihatkan, armada roda tiga digunakan untuk mengangkut sampah dari tiap-tiap RT dan RW di lingkup Kelurahan. Selanjutnya sampah tersebut dibawah ke trans depot sebagai titik kumpul sampah. Kemudian sampah tersebut diangkut dan dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Wali Kota Ternate, M Tauhid Soleman, mengatakan, teknis ini merupakan role model pengelolaan sampah dalam 100 hari kerja Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ternate. "Model ini selanjutnya juga akan diterapkan pada semua Kelurahan Kota Ternate. Ini adalah langkah partisipatif sebagai pemantik, yang berawal dari zona kecamatan Ternate Selatan yakni di Bastiong Karance dan Talangame. Selanjutnya, masuk ke zona tengah, utara dan pulau hingga Ternate barat," ucapnya di sela-sela kegiatan Launching.

Tauhid mengatakan, akan ada program selanjutnya yang gerakannya lebih intens di semua kelurahan, yakni patroli sampah. Program tersebut akan terealisasi ketika adanya perubahan APBD. Program Patroli sampah ini akan lebih intens untuk mengangkut sampah yang berserakan di tempat pembuangan sementara (TPS) di semua kelurahan di kota Ternate. Sementara untuk persoalan sampah di laut, Tauhid menuturkan, Pemkot akan memanfaatkan armada laut yang representatif agar dapat mengangkut sampah di sepanjang pantai Kota Ternate.

Tentu akan ada kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Ternate. "Sesegara mungkin, kita harus berupaya mengendalikan dan meminimalisir sampah di laut. Harus ada kerjasama secara komprehensif, karena permasalahan sampah bukan hanya ada di darat, maka harus ada penyadaran dan pengelolaan yang partisipatif mulai dari hulu ke hilir," tuturnya.

Selain itu, Pemkot juga akan membuka peluang kerjasama terhadap retail modern yakni Alfa Midi, Indomaret, dan stakeholder lainnya yang mampu menyediakan kendaraan roda tiga. Ini demi membantu ketersediaan armada roda tiga yang representatif. Tujuannya adalah untuk pengelolaan sampah di gang-gang/lorong-lorong pada tiap-tiap Kelurahan. "Harapan kami, dalam 100 hari kerja ini, adalah wujud kerja dengan rasional dan memanfaatkan sumber daya yang ada. Sebagai langkah awal untuk mengatasi permasalahan sampah. Nanti seterusnya akan ada program pengelolaan sampah yang dituangkan dalam dokumen perencanaan, yang terjabarkan dalam Visi-Misi Ternate Andalan," tutur Tauhid.

Ia mengatakan, Pemkot juga akan berupaya untuk tetap mendengarkan masukan dari semua pihak, baik akademisi, aktivis lingkungan dan para peneliti lingkungan, termasuk keluhan dari masyarakat. "Ini persoalan yang berkesinambungan, maka butuh kolaborasi dari semua pihak. In Shaa Allah kita akan terus bekerja semaksimal mungkin. Karena soal lingkungan dan kebersihan kota adalah identitas kota yang harus dijaga, demi anak cucu kita ke depan. Mari kita sama-sama menjaga Kota Ternate dari persoalan sampah, dan mari bersama-sama mewujudkan Ternate yang Mandiri dan Berkeadilan," pungkasnya. (pn/tr-01/yun