Warga Sandera Mobil PDAM


KESAL : Warga Kelurahan Tanah Tinggi Barat tahan mobil PDAM, akibat tak mendapat air bersih selama dua minggu

TERNATE - Program penanganan air bersih bagi warga Kota yang masuk dalam 100 kerja M Tauhid Soleman dan Jasri Usman. Dari lima program yang diusung, air bersih dinilai terancam gagal. Bagaimana tidak, sejak dilantik sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ternate pada tanggal 26 April lalu, hingga saat ini, air bersih masih dikeluhkan oleh masyarakat di sejumlah Kelurahan. Indikasi lain adalah, di sejumlah kelurahan yang masih krisis air ini lantara ada kerusakan pada komponen pemasok air di kelurahan Ngade.

Tak hanya itu, di PDAM ini juga tidak memiliki SDM yang bisa memperbaiki setiap kerusakan pada sistem aplikasi. Karena itu, PDAM harus mencari tenaga ahli dari luar untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Dampaknya, sejumlah warga bahkan sudah mulai melampiaskan kekesalan. Ini terbukti di Kelurahan Tanah Tinggi Barat RT:03 dan RT:04. Warga mulai mengamuk dan menghadang mobil PDAM yang hendak memasok air ke salah satu rumah anggota DPRD Kota Ternate. Warga mengamuk, lantaran air bersih di lingkungan mereka tidak mengalir selama kurang lebih dua pekan. Momen itu terjadi, Sabtu (19/6).

Mobil PDAM tersebut didiamkan parkir oleh sejumlah warga, sambil meminta Dirut PDAM untuk turun ke lapangan. Salah satu warga, Hawania Wambes menuturkan, air di lingkungan mereka sudah tidak mengalir selama kurang lebih 2 pekan. Untuk memperoleh air, mereka harus membeli lewat profil. Pembelian air profil dilakukan dua hari sekali. Hal ini jelas sangat membebani warga. Apalagi harga air yang semula masih di angka Rp70.000 per tangki, kini naik menjadi Rp 100.000. "Tong pe anak pe celana so kotor, tiap hari mo beli air kah, mau beli anak pe popok kah. Kalau tara bayar (air, red) satu hari langsung kase putus. Padahal di RT 06 dan RT 07, lingkungan Jerbus mengalir," ujar Hawania dengan nada kesal, sambil membandingkan kondisi air di lingkungan mereka dengan lingkungan lain.

Hawania menegaskan, mobil PDAM yang ditahan tersebut tidak akan dibiarkan berjalan sebelum Dirut PDAM turun menemui mereka. Jika tidak, maka warga akan melakukan aksi di Kantor PDAM. "Oto tunggu sampai Dirut turun baru oto boleh jalan. Kalau pejabat besar cepat dilayani, kalau tong warga telpon-telpon alasan banyak. Padahal pejabat itu duduk karena torang yang pilih," kesalnya. Macetnya distribusi air ke RT:03 dan RT:04 Kelurahan Tanah Tinggi Barat ini, disebabkan karena terjadi kerusakan Ultra Filtrasi (UF) pada Reservoir di Kelurahan Ngade. Sebagaimana yang disampaikan oleh Plt Direktur PDAM Kota Ternate Thamrin Alwi beberapa hari lalu, bahwa ada 7 komponen alat yang rusak.

Meski sudah sempat mendatangkan teknisi dari Jakarta bagian aplikasi, yang mencoba melakukan perbaikan terhadap 7 komponen tersebut, namun baru 1 komponen yang berhasil diselesaikan. Sementara 6 diantaranya belum. Buntut dari kerusakan inilah, menyebabkan suplai air ke sejumlah titik tidak mengalir lancar termasuk RT:03 dan RT:04 Kelurahan Tanah Tinggi Barat. Pasca mobil PDAM dihadang oleh warga, beberapa waktu berselang pihak PDAM langsung turun. Kepala Bidang (Kabid) PDAM Kota Ternate, Suharto Kaha menuturkan, kemacetan air terjadi karena memang adanya gangguan program pada reservoir di Kelurahan Ngade. Sehingga PDAM masih menunggu alat dari luar Kota.

Menurut Suharto, Direktur PDAM saat ini sedang berusaha bertemu dengan pihak perusahaan di Surabaya untuk datang memperbaiki kerusakan. Ia menyebut, kemacetan air bukan hanya terjadi di RT:03 dan RT:04 Tanah Tinggi Barat, namun juga di Kelurahan Jati Metro, Tabona, dan Amara. Menurutnya, Plt Direrktur PDAM akan kembali dari Surabaya pada Minggu (20/6) kemarin. Ia juga sempat menjelaskan, program yang rusak pada reservoir di Ngade seperti ultra filtrasi.

Sehingga jika terjadi kerusakan, butuh teknisi dari pusat. Masalah seperti ini bukan hanya terjadi di Kota Ternate, melainkan di Ambon dan daerah Kalimantan. "Karena semuanya pakai program sistem digital. Beda dengan manual," tutur Suharto. Sambil menunggu perbaikan kerusakan, PDAM melakukan distribusi bantuan air ke RT:03 dan RT:04 melalui reservoir Jan II dan Skep. "Ini sementara saja, karena masih terdampak dari kelurahan Ngade," ujarnya. Sementara Plt Dirut PDAM Kota Ternate, Thamrin Alwi, dalam upayanya bertemu dengan teknisi bagian alat belum juga berhasil. Untuk memperbaiki 6 komponen yang rusak tersebut, dibutuhkan dua teknisi. Masing-masing pada bagian alat dan bagian aplikasi. Teknisi bagian alat yang sementara dihubungi bernama Richat. Sementara teknisi bagian aplikasi adalah Santoso yang sudah lebih dulu datang dan memperbaiki satu komponen. "Teknisi bagian alat ada di Palangkaraya, saya sudah coba telpon tapi belum direspons.

Kalau teknisi bagian aplikasi ada di Sanana. Saya juga sementara minta rincian alat supaya kita bisa carikan biayanya," tandas Thamrin saat dihubungi Malut Post, melalui sambungan telepon. Sementara itu, anggota komisi II H. Sudarno Taher mengatakan, PDAM harus responsif menyangkut dengan keluhan. Ia meminta, PDAM tidak harus menunggu ada keluhan warga baru pasokan mobil tangki datang. Harusnya, setiap ada gangguan pada kerusakan pipa, maka segera memasok air sambil melakukan perbaikan. “PDAM harus bersikap responsif terhadap keluhan.

Karena air bersih ini kebutuhan sehari-haru, jadi harus cepat,” ujarnya. Terkait tenaga teknisi di PDAM, kata dia memang masih kekurangan. Yang ada cuma teknisi yang mampu memindahkan aliran air dan lainnya. Tetapi teknisi yang lebih ahli itu belum tersedia. Untuk itu, DPRD mendesak Dirut PDAM agar bisa memperhatikan masalah Sumber Daya tersebut. Apakah dengan merekrut tenaga teknis yang ahli, atau seperti ap. Yang jelas, kata dia, PDAM harus punya teknisi ahli agar kerusakan seperti saat ini bisa cepat teratasi. “Air bersih ini kebutuhan dasar, dan masuk dalam 100 hari kerja pemerintah Kota Ternate. Jadi, harus ada solusi. Jangan dibiarkan begitu saja tanpa ada pelayanan air bersih," tutupnya. (tr-03/tr-01/yun)