Wawali Tegur Dirut PDAM


JASRI Usman

TERNATE - Pelayanan air bersih memang benar-benar menjadi perhatian pemerintah Kota Ternate. Saat ini masih ada sejumlah kelurahan yang masih mengeluh, karena pasokan air bersih tidak normal. Bahkan ada kelurahan yang harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Krisi air ini dampak dari kerusakan beberapa komponen, sehingga membuat air tidak bisa mengalir ke beberapa kelurahan.

Akibat dari keluhan warga ini, Plt Dirut PDAM Thamrin Alwi ditegur oleh Wakil Wali Kota Ternate, Jasri Usman. Teguran ini buntut dari pasokan air bersih yang belum lancar terdistribusi pada sejumlah Kelurahan. Pelayanan air bersih bagi warga Kota sebagaimana yang diketahui masuk dalam program 100 hari kerja Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ternate pasca dilantik pada 26 April lalu. Jika penanganan air bersih tidak bisa diselesaikan dalam kurun waktu 100 hari kerja, maka item penanganan air bersih bagi warga kota ini dianggap gagal. "Saya sudah tegur (Dirut PDAM, red), kenapa bisa terjadi air macet seperti di RT 03 dan RT 04 Kelurahan Jerbus. Mereka sudah dua minggu tidak dapat penyaluran air. Saya bilang, kalau ada hal-hal yang bersifat keluhan dari masyarakat, maka PDAM harus bisa cepat dan tepat dalam memberikan pelayanan," ucap Jasri, kemarin.

Ia juga memerintahkan PDAM melalui Plt Dirut untuk selalu responsif dan stand bay ketika ada keluhan dari Masyarakat. PDAM harus bisa memberikan solusi pada setiap titik-titik kemacetan. Sebab PDAM selaku penanggung jawab terhadap pelayanan air bersih. "Saya sudah ingatkan pak Thamrin, untuk segera menindaklanjuti hal ini. Agar masyarakat bisa mendapat pelayanan air bersih dengan baik. Kalau misalnya butuh teknisi dari luar, ya harus cepat didatangkan untuk melakukan perbaikan," tandasnya. Untuk diketahui, macetnya air pada sejumlah Kelurahan seperti Jerbus, Jati Metro, dan Maliaro, disebabkan karena terjadi kerusakan Ultra Filtrasi (UF) di Ngade. Total ada 7 komponen pada UF Ngade yang rusak, namun saat ini 3 diantaranya sudah bisa ditaktisi.

Komponen yang sudah bisa difungsikan adalah Nepel Skoring (slang udara), Flow Meter (Skid UF A dan D), serta Velve Automatik. Sementara yang masih rusak adalah Hidrayer Udara (Selenoid), Sensor Tekanan (Tanki 1000 meter kubik), Sensor Suhu Pompa Intek, dan Infelter Pompa Intek B. Staf operator UF Ngade, Putranto menjelaskan, kerusakan sejumlah komponen ini sudah dilaporkan ke bagian teknisi Tirta Sarana Malya. Tirta Sarana Malya adalah perusahan teknologi yang mengerjakan pembangunan UF Ngade. Menurutnya, dari sejumlah komponen yang rusak, Hidrayer Udara (Selenoid) dan Flow Meter (Skid UF A dan D) adalah komponen yang paling sulit untuk diperbaiki. Khusus untuk Flow Meter, harus mendatangkan teknisi dari Tirta Sarana Malya karena mereka yang membuat program. Intinya, kerusakan UF Ngade ini menyebabkan kemacetan pada beberapa titik Kelurahan, karena penyuplai air kecil. "Kami selaku operator, ketika terjadi kerusakan dan ada yang bisa diperbaiki, ya kami perbaiki. Tapi kalau sudah masuk ke dalam ranah program yang memang sangat dalam, kami tidak bisa.

Karena ada kode-kode tertentu yang hanya diketahui oleh teknisi pembuat program," jelas Putranto, di UF Ngade, kemarin (21/6). Menurut Putranto, dia sudah berkoordinasi dengan Richat yang merupakan teknisi pembuat progam. Sehingga diarahkan oleh Richat untuk mencopot program. Saat ini Flow Meter (Skid UF A dan D) sudah bisa difungsikan. Hanya saja Hidrayer Udara (Selenoid) masih tetap jebol. Flow Meter dan Hidrayer Udara (Selenoid) adalah dua komponen yang paling berkesinambungan. "Flow meter ini kan membaca tekanan air, jadi kalau sudah dicabut program maka kita sudah tidak tahu tekanan air. Makanya kita harus kontrol terus. Jadi untuk sementara seperti ini dulu, sambil menunggu teknisi datang untuk perbaiki," jelasnya.

Putranto menuturkan, meskipun program sudah dicabut dan Flow Meter difungsikan secara manual, namun pengoperasian secara full (24 jam) tidak bisa dilakukan. Karena terkendala jebolnya Hidrayer Udara. Jebolnya Hidrayer Udara ini menyebabkan penyimpanan udara yang awalnya 8 Bar, kini menurut menjadi 6 Bar. 6 Bar ini hanya mampu melayani 1 Skid dari total 2 Skid yang harusnya beroperasi. Jika 2 Skid bisa beroperasi, maka dapat melayani kebutuhan air di sejumlah titik, termasuk Jerbus, Jati Metro, dan Maliaro. Diketahui, secara keseluruhan ada 4 skid di UF Ngade. Namun, saat ini hanya satu yang berfungsi. "Hidrayer udara ini harusnya bisa melayani 3 Skid, tapi karena jebol, maka dia hanya bisa melayani 1 Skid. Kita tidak bisa mengambil langkah untuk paksakan. Karena kalau dipaksakan, kemungkinan berimbas ke Valve, dan kalau kerusakan Valve maka biayanya akan lebih besar," terang Putranto. (tr-01/yun)